Jumat, 17 Maret 2017

Senja beropini


Tidak Usah Terburu-Buru, Giliranku Masih Nanti.


“Udah kamu nikah aja”
“Aduh semester empat makin berat nih, jadi pengen langsung nikah”
“Dih tugas makin menjadi-jadi. Tutup buku lah, yuk buka terop.”

Pernyataan-pernyataan yang sudah tidak asing lagi kan? Ini masih semester empat loh. Baru sekitar delapan bulan melepas predikat sebagai ‘mahasiswa baru’

Bukan, aku tidak ingin terburu-buru. Banyak sekali yang harus aku lakukan. Terutama perbaikan kualitas diriku. Aku belum sehebat teman-temanku yang sudah berani mengambil langkah itu.

Tahap ini pasti akan terlalui. Tapi entahlah, yang membedakan hanya waktu dan keberanian.

Setahun yang lalu, Rasa kagum muncul ketika tau bahwa salah satu temanku memutuskan untuk mempercepat proses ini. Yura. Namanya Yura. Aku salut dengan langkah besar yang Ia pilih. Menikah bukanlah perkara sederhana, menikah itu suatu hal yang kompleks menurutku. Memulai suatu kehidupan baru dengan seseorang yang baru yang nantinya akan berkontribusi untuk masa depan generasi baru. Hmm panjang bukan. Aku salut dengan keberanianya untuk segera menyempurnakan agama.

Ini bukan iri. Sama sekali tidak, bahkan belum ada rasa ingin untuk segera menyegerakan. Karena aku tau, aku belum se siap Yura. Tidak hanya secara mental, fisik, dan material, ilmu pun aku belum ada. 

Karena menikah bukan hanya sekedar pacaran halal. Tapi hei, dibalik itu ada amanah yang begitu besar. Aku berbicara tentang generasi. Mau dikemanakan generasi-generasi selanjutnya tanpa induk yang berkualitas. Kuantitas tanpa kualitas sama saja dengan nol besar. Hanya akan menambah PR bagi pemerintah untuk menanggulangi permasalahan bonus demografi di Indonesia.

Jika menikah dijadikan pelarian dari tugas-tugas kuliah, maka kita justru akan berlari ke arah ‘tugas’ yang bobotnya berkali-kali lipat lebih berat. Di perkuliahan, melakukan kesalahan bagi mahasiswa adalah kesempatan untuk perbaikan. Orang-orang akan memaklumi karena kita masih tahap belajar. Trial and error menjadi hal yang biasa. Kegagalan dalam mengerjakan tugas dan melakukan penelitian masih dapat diulang.

Namun, bagaimana jika salah dalam mendidik anak di masa depan? Bisakah diulang kembali? Entahlah, yang jelas aku tidak ingin asal dalam mendidik anak-anakku nanti. Mereka berhak terlahir dari rahim ibu yang cerdas. Mendapat pendidikan kasih sayang melalui madrasatul ula nya. Ah, bagaimana jika madrasatul ula untuk anak-anakku nanti bertarafkan internasional? Eh tidak, harus lebih dari itu ku pikir. Bertaraf dunia akhirat. Yap, dan untuk meraih standarisasi dunia akhirat sepertinya harus banyak yang dipersiapkan.

Hasil gambar untuk ibu cerdas quote


Jika sudah siap mengambil tugas sebesar itu, seharusnya tugas kecil seperti membuat esai dan artikel bukan lagi perkara sulit dan tidak butuh dikeluhkan. Gatal sekali rasanya, ketika mendengar teman mengeluh ingin menikah cepat saja karena tugas kuliah yang tidak ada habisnya. Seakan menikah itu semudah membeli gorengan di pinggir jalan. Hmm your children need a smart and though mom, girls.

Tapi di lain sisi, aku juga mengapresiasi teman-temanku yang mengambil langkah ini dengan serius. Memilih untuk menikah muda dan menyegerakan sunnah. Mendahuluiku dan teman-teman lain untuk mengambil tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Ah, kalian pasti sudah mempersiapkan begitu banyak bekal untuk menjadi istri dan ibu yang hebat.  

Kapan giliranku?

Nanti. Bekalku masih sedikiti. Sangat sedikit. Aku tidak ingin menggadaikan masa depan suami dan anak-anakku nanti. Sehingga aku butuh waktu untuk mempersiapkanya. Dan juga pengabdianku kepada ayah ibuk dirasa masih jauuuuuh dari kata baik. Aku ingin mengabdi dulu kepada keduanya, kemudian kepada keluargaku, kepada masyarakat, dan oh iya kepada mimpi-mimpiku.



Prosesi akad Yura

Selasa, 14 Maret 2017

Senja is sharing


Kenapa S1 Ilmu Komunikasi Unpad?


Saya adalah mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Saya bersyukur sekali bisa masuk dan lolos menjadi bagian dari program studi ini. Program studi Ilmu Komunikasi adalah sebuah cita-cita masa SMA yang Alhamdulillah bisa saya capai ketika kuliah melalui perjuangan luar biasa dalam Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN). Pada awalnya, saya sama sekali tidak menyangka bisa lolos dalam seleksi bergengsi ini. Hal itu dikarenakan latar belakang SMA saya yang berada di Jawa Timur dan tergolong masih baru. Banyak isu yang mengatakan bahwa akan lebih susah bagi anak-anak yang berdomisili non-Jawa Barat mendapat kursi untuk berkuliah di Universitas Padjadjaran. Namun, isu-isu itu tidak mematahkan semangat saya untuk berjuang mendapatkan kursi di salah satu kampus terbaik di negri ini, yaitu Universitas Padjajadran.

Keinginan untuk berkuliah di Unpad sudah ada sejak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ketika itu saya terinspirasi dari kisah-kisah hebat salah satu alumni Unpad, yaitu Ahmad Fuadi. Melalui Triloginya, Ia mengemas kisah perjuanganya dalam memperjuangkan pendidikan dengan sangat baik. Semangat yang Ahmad Fuadi tuangkan dalam buku-bukunya telah menular dan membangkitkan semangat saya untuk memberikan perjuangan yang maksimal dalam pendidikan setinggi-tingginya. Suatu saat nanti, saya juga ingin bisa menyalurkan semangat ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Maka semenjak itu, saya selalu memupuk mimpi saya untuk bisa berkuliah di Universitas Padjadjaran. Dan kelak, bisa menjadi seorang yang mampu menginspirasi banyak orang untuk terus berjuang demi mimpi-mimpinya.

Ketika masih duduk di bangku SMP, bidang Ilmu Komunikasi masih belum menjadi prioritas bagi saya. Hingga saat SMA mimpi saya semakin berkembang. Saya benar-benar sudah mantap ingin meneruskan pendidikan saya di bidang Ilmu Komunikasi. Saya selalu berpikir bahwa manusia dengan berbagai keragamanya diciptakan tentu memilki tujuan dan manfaatnya. Maka saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat di bidang saya, yaitu Ilmu Komunikasi. Dimana saya bisa mengembangkan bakat saya yang memang dalam bidang komunikasi. Setiap orang tentu memiliki spesifikasinya masing-masing, dimana Ia bisa berkarya dan mengekspresikan apa yang diinginkanya. Namun, kemauan untuk mengembangkan keinginan tersebut agar berdampak baik bagi lingkungan adalah suatu pilihan. Maka, saya dengan passion dalam bidang komunikasi ingin sekali bisa terus mengembangkan dan belajar ‘bagaimana saya bisa menjadi bermanfaat bagi lingkungan terutama agama, bangsa, dan negara dalam bidang ini’.

Bagi saya ilmu komunikasi adalah suatu ilmu yang sangat mendasar, krusial, dan memiliki dampak yang besar terhadap ilmu-ilmu lainya. Banyak masyarakat awam yang mungkin menganggap bahwa ilmu komunikasi bukan suatu ilmu yang penting, padahal jika melihat pada realitinya banyak masalah yang timbul di berbagai macam aspek mulai dari politik hingga kesehatan berawal dari komunikasi yang buruk. Cakupanya pun beragam dari tingkat interpersonal, keluarga, negara, bahkan skala internasional juga ada. Maka Komunikasi merupakan suatu ilmu yang penting untuk dikaji demi terseleseikanya berbagai permasalahan sosial yang ada. Apalagi pada era globalisasi seperti saat ini, berbagai media informasi bermunculan mengkomunikasikan pesan-pesan yang beraneka ragam. Masyarakat yang menjadi begitu ketergantungan dengan penggunaan media akan mudah sekali terpengaruh dengan hal-hal yang ada di media. Imperialisme budaya akan cepat menyebar dan mengikis nilai-nilai budaya yang lemah. Hal ini adalah salah satu ranah yang akan menjadi medan juang para lulusan-lulusan Ilmu Komunikasi.

Dengan melihat berbagai permasalahan dari sudut pandang komunikasi, maka saya ingin menjadi salah satu yang bisa menyeleseikan masalah tersebut dengan ilmu-ilmunya. Mimpi saya selanjutnya adalah ingin berjuang dalam industri media dan bidang penelitian permasalahan-permasalahan komunikasi. Menurut saya, media memiliki kekuatan yang besar untuk memengaruhi masyarakat. Hal ini tentu bisa menjadi suatu kesempatan untuk mengkonstruksi pemikiran masyarakat agar menjadi lebih baik dan mampu mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju lainya. Maka dari itu untuk bisa menjadi ahlinya, tentu saya membutuhkan ilmu-ilmu tentang komunikasi di tempat terbaik yang salah satunya adalah program studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Dan saya sangat bersyukur saat ini telah diberi kesempatan bisa berkuliah di tempat ini.


Rabu, 08 Februari 2017

Senja Cerita

Kali ini aku ingin bercerita tentang dua sahabatku.

Kami bertemu saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ketika itu aku memilih sekolah dengan fasilitas asrama di dalamnya. Tentu banyak sekali teman baru yang aku kenal. Tapi entahlah, sepertinya saat itu aku menemukan nyamanku berada di dua orang ini. Yasmina dan nindy. Sebenarnya aku lupa bagaimana detail kami bisa bersama. Terlalu banyak cerita berharga diantara kami. Apalagi dengan aku yang seperti ini, kadang suka melupakan hal-hal yang seharusnya tidak dilupakan. Hehe. Mungkin mereka bisa menjelaskan.

Dulu kami masih cupu, tertawa-tawa salah tingkah saat kali pertama bertemu di salah satu tempat perbelanjaan di Surabaya. Ketika itu, kami memang sudah membuat janji untuk bermain bersama saat liburan tiba. Kebetulan kami bertiga berasal dari kota yang sama. Di asrama pun juga begitu. Teman-teman sudah tau dan bahkan ada yang menamai kami dengan sebutan “amazing friend”. Lucu memang.

Perjalanan kami dimulai dari tahun 2009 hingga saat ini dan nanti-nanti. Kami terus berbagi cerita meski kini terpisah secara jasmani. Aku rasa mereka berdualah yang paling mengerti bagaimana aku setelah keluargaku. Dan kau tau? baru saja aku menghitung, kemudian menyadari bahwa tahun ini adalah tahun kedelapan kami bersama. Ah, ternyata kami sudah tidak semuda itu lagi.

Kami tidak sama antara satu dan yang lain. Yasmina dengan sifat cerianya selalu membuat kami tertawa. Nindy yang bijaksana dengan nasihat-nasihatnya selalu berhasil membuat kami berpikir dewasa. Dan aku yang begitu-begitu saja, tapi mereka masih mau menjadikanku sebagai tempat nyamanya. Bersyukur sekali menjadi aku memiliki mereka berdua sebagai rumah.

Kami juga sering berbagi tentang mimpi. Aku masih ingat sekali, dulu masing-masing dari kami memiliki negara impian untuk dijelajahi. Aku dengan negara sakuraku, Yasmina dengan negara mapplenya, dan nindy dengan negara piramidnya. Oh iya, dan dengan masing-masing cita-cita mulia kami. Dulu aku masih ingin sekali menjadi dokter ketika yasmina me-mimpikan menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin menjadi psikolog handal.

Manusia memang bisa berencana, tapi Allah tetap yang berkuasa. Seiring berjalanya waktu, aku sadar ternyata menjadi seorang dokter bukan keinginanku dari hati. Mungkin orang tuaku. Eh malah yasmina yang kemudian merubah cita-citanya ingin menjadi dokter. Dan kau tau? Kali itu aku yang ingin menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin menjadi seorang psikolog handal. Yang ini mimpi masa sekolah menengah atas kami. Tidak berhenti disitu, mimpi kami terus berkembang. Semakin tinggi tingkat yang ku lalui, semakin sadar bahwa passion yang sebenarnya bukan di bidang politik. Bisa apa aku. Hahaha. Mungkin di bidang ‘berbicara’, agar kebawelanku ini ada faedahnya.

Ketika lulus sekolah menegah atas, kami terpisah di tiga perguruan tinggi yang berbeda. Yasmina di ibukota, nindy di kota besar di daerah timur, dan aku di kabupaten kecil saja, di dataran tinggi daerah barat. Tidak masalah kami terpisahkan, kami sudah berjanji untuk mengejar mimpi dulu kemudian kembali suatu saat nanti. Hmm, sebenarnya tidak se dramatisir itu. Ayolah, kami juga memliki media sosial seperti anak keren jaman sekarang.

Tidak hanya bercerita tentang mimpi, tentang ‘doi’ pun pasti. Tentang cinta monyetku jaman sekolah, mereka sudah hafal bahkan luar kepala. Begitupula denganku, hafal sekali kisah cinta monyet yasmina dan nindy. Dari dulu dan mungkin hingga saat ini, jika ada laki-laki yang ingin mendekati salah satu diantara kami, maka wajib sekali untuk mengambil hati dua orang lainya. Karena jika tidak begitu, kisah cinta bisa kandas di tengah-tengah.

Tentang yasmina,
Sahabatku yang satu ini pintarnya luar biasa. Apalagi di bidang matematika. Sepertinya menghitung sambil bermimpi pun bisa. Berkali-kali dia menjadi delegasi sekolah dalam olimpiade matematika. Berkali-kali juga dia meraih peringkat pertama ketika sekolah. Susah sekali mengalahkanya. Sekitar 3 tahun aku merasakan satu kelas bersamanya. Sering sekali kami bersama, tapi ada satu masa dimana kami tidak bersama. Dan itu karena aku. Baru akhir-akhir ini aku menyadarinya, saat kami bertiga bernostalgia bersama. Dulu aku tidak memilih untuk belajar bersama, tapi secara otomatis akan sedikit menjauh dari yasmina di saat musim ujian tiba. Menyendiri dan mencari tempat yang sepi untuk melahap habis materi kisi-kisi. Entahlah, aku juga tidak menyadari. Dan itu terbawa hingga ujian kelulusanku di bangku SMA.

Aku dan yasmina pernah bertengkar. Dulu kami hanya saling diam. Dan lagi-lagi karena aku. Ingin tertawa rasanya jika membaca surat yang diberikan yasmina kepadaku kala itu. Masih ku simpan sangat rapi hingga saat ini. Hanya tidak sanggup saja jika harus membacanya kembali. Hahahaa

Yasmina itu primadona, apalagi di sekolah pria di seberang sana. Yaiyalah, sahabatku yang satu ini tidak hanya pintar. Dia juga cantik dan ceria. Siapa yang tidak jatuh hati padanya? Ditambah lagi dengan kemampuan menghafalnya yang begitu cepat. Diantara kami bertiga, Yasminalah yang paling banyak menghafal kalamNya.

Oh iya, dia juga pernah menjadi model sekolah. Saat pengambilan gambar, kami murid-murid biasa hanya bisa melihatnya dari kaca luar ruangan. Dia sedang berdiri di depan kamera sambil menggerak-gerakan tangan. Menggeser jarinya dari sebuah tablet canggih kemudian mengangkat jarinya ke atas. Seperti mengeluarkan sesuatu dari tablet itu. Entahlah, kami yang melihat dari luar tidak tau pasti apa yang dia lakukan.

Sama sepertiku, Yasmina adalah anggota saman angkatan pertama. Lihai sekali dia dalam menari. Memutar-mutar tanganya bak penari saman professional. Aku yang tidak selihai dia, harus berlatih berkali-kali baru bisa menghafal gerakannya. Tidak hanya saman, kami berdua dan teman-teman yang lain juga sering berkolaborasi di beberapa tarian. Itu dulu. Kini aku sudah pensiun menari. Tapi yasmina tidak. Di cerita-cerita barunya sekarang, yasmina masih menari saman di perguruan tingginya di ibukota.
Dan kini, mimpinya kembali berkembang. Tidak ingin menjadi dokter lagi, karena Allah mengarahkanya di bidang IT. Oh, iya dan juga istri sholihah bagi suaminya nanti. Hehe

Tentang Nindy,
Sahabatku yang satu ini orangnya manis sekali, semanis nasihat-nasihat yang selalu dia berikan kepadaku dan Yasmina. Nindy orangnya paling dewasa diantara kami. Selalu menjadi ibu bagi aku dan Yasmina yang kadang masih kekanak-kanakan. Alhamdulillah, Sabar sekali dia dalam menghadapi kami.
Aku dan Nindy tidak pernah bertengkar. Mungkin karena sifatnya yang dewasa, sehingga lebih memilih untuk mengalah daripada bergabung dengan dua sahabatnya yang bisa ribut hanya karena masalah sushi.

Nindy selalu menjadi teman duduk di dua tahun terakhirku di masa sekolah. Saat itu aku berpisah dengan Yasmina dan menjadi bersama dengan Nindy di satu kelas yang sama. Kelas sosial. Tidak penuh dua tahun juga, karena Nindy sering sekali kutinggal pergi di tempat duduk itu. Aku suka bosan jika terus-terusan berada di tempat yang sama. Dan kadang, aku juga suka jail menarik kursinya ketika dia tidak sedang duduk di tempatnya, kemudian aku satukan dengan kursiku agar aku bisa tidur enak di jam istirahat. Jadilah, Nindy harus duduk di tempat lain hingga menunggu aku bangun dari tidurku. Maafkan aku ya nin. hehee

Nindy ini jago sekali dalam bidang sosial, apalagi sosiologi. Saat itu aku sudah angkat tangan dengan pelajaran ini. Aku lebih memilih ekonomi atau akuntansi sekalian, daripada harus mencari masalah dengan sosiologi. Bahkan nindy pernah menawarkan untuk menyeleseikan tugas proposal sosiologiku karena saking aku tidak sukanya dengan pelajaran ini. Sempat tergiur untuk meng-iyakan, tapi aku mengurungkan niatku itu.

Oh iya nindy itu mellow sekali anaknya. Seringkali aku dan yasmina diberi kata-kata puitis yang begitu manis olehnya. Mungkin Yasmina masih bisa membalas meskipun sedikit. Tapi aku? Ayolah, merangkai puisi saja aku tidak jago. Tidak hanya mellow, Nindy juga perasa. Peka sekali dia dengan rasa. Berbeda dengan aku dan Yasmina yang susah sekali peka. Karena kepekaan Nindy yang bagus ini, teman-teman jadi suka menjadikan nindy untuk tempat berkonsultasi.  Tidak hanya teman satu sekolah. Dari sekolah lain pun ada. Aku tidak habis pikir. Terkenal juga dia.

Dan kini, mimpinya kembali berkembang. Belum di bidang Psikologi, namun Allah menunjukkanya agar memulai dari bidang sosiologi. Katanya sih ingin menjadi Psikososiolog. Dan istri sholihah juga untuk suaminya nanti. Hehee


Sebenarnya masih banyak sekali kalimat yang bisa mendeskripsikan Nindy, Yasmina dan tentang kami. Banyaaak sekali. Tapi nanti kalian bosan membacanya.
Kini, ketika kami harus ‘bertugas’ di tempat yang berbeda, kami selalu mewajibkan hari dimana kita bertiga harus bersama. Biasanya kami memilih saat liburan pergantian semester. Kami namakan hari wajib itu dengan Staycation. Sudah dua kali kami melaksanakanya, karena sudah dua tahun kami berpisah. Staycation pertama kami lakukan dengan piknik ala-ala. Yang kedua kami putuskan untuk menginap bersama, sekaligus melaksanakan misi rahasia.

Ketika aku melihat Nindy dan Yasmina saat ini. Aku menyadari bahwa banyak hal telah kami lakukan bersama. Kami tumbuh dewasa bersama. Dan nanti satu per satu dari kami, akan menemukan kehidupan baru bersama teman hidupnya masing-masing. Nanti, mketika mereka berdua sudah menikah. Aku akan menceritakan kepada suami-suami sahabatku itu, bahwa mereka tidak salah memilih istri yang luar biasa.



 
Kami versi SMP (2012)


 lagi lomba Fashion, udah SMA (2012)


aku jadi penari di acara apa gitu lupa, yasmina mc nya (2013)


Habis fashion tapi cuma aku  (2013)


Alhamdulillah wisuda (2015)


Main di liburan pertama pas kuliah (2016)


Staycation 1 (2016)


Staycation 2 (2017)


Staycation 2 + misi rahasia (2017)







Sabtu, 14 Januari 2017

apalah apalah

Mahasiswa anti-politik


Banyak sejarah baru ditorehkan bagi negri
Sejarah memang terus berkembang dan tidak akan pernah mati
Tentu hal ini menjadi suatu ladang informasi
Tidak hanya dalam negri, para kuli tinta asing juga tidak mau ketinggalan aksi
Berbagai bentuk pengemasan di media mainstream dapat dipilih bergantung pada siapa yang menunggangi

Media seakan berkuasa dalam membentuk realita
Dampaknya tidak sederhana, interpretasi masyarakat menjadi beraneka rupa
Muncul pro dan kontra adalah niscaya
Sumbangsih peran media begitu besar dalam membingkai berbagai peristiwa

Berita politik apalagi,
Paling enak memang menikmati debat ditemani secangkir kopi
Melihat para pengejar kursi beradu argumen yang katanya untuk negri
Menang atau kalah tidak peduli
Yang penting sudah update sosmed agar terlihat mengapresiasi

Hidup di jaman sekarang itu susah
Jadi bingung mana yang bisa dipercaya
Saluran A berkata apa, saluran B menyalahkanya
Segala warta jadi abu-abu punya warna

Media netral sudah jarang ditemui
Semakin kesini malah jadi semakin anti
Jika sudah begini, menggarap revisi lebih dipilih
Yang penting skripsi bisa terkendali
Masalah negri bisa nanti

Bapak Ibu yang bijaksana
Tolonglah kami masyarakat buta
Kami juga peduli dengan nasib bangsa
Tidak ingin menyesal karena salah pilih akhirnya
Tapi kami takut terpedaya dengan media