Kami bertemu saat duduk di bangku
sekolah menengah pertama. Ketika itu aku memilih sekolah dengan fasilitas
asrama di dalamnya. Tentu banyak sekali teman baru yang aku kenal. Tapi
entahlah, sepertinya saat itu aku menemukan nyamanku berada di dua orang ini.
Yasmina dan nindy. Sebenarnya aku lupa bagaimana detail kami bisa bersama.
Terlalu banyak cerita berharga diantara kami. Apalagi dengan aku yang seperti
ini, kadang suka melupakan hal-hal yang seharusnya tidak dilupakan. Hehe.
Mungkin mereka bisa menjelaskan.
Dulu kami masih cupu, tertawa-tawa
salah tingkah saat kali pertama bertemu di salah satu tempat perbelanjaan di
Surabaya. Ketika itu, kami memang sudah membuat janji untuk bermain bersama
saat liburan tiba. Kebetulan kami bertiga berasal dari kota yang sama. Di
asrama pun juga begitu. Teman-teman sudah tau dan bahkan ada yang menamai kami
dengan sebutan “amazing friend”. Lucu memang.
Perjalanan kami dimulai dari tahun
2009 hingga saat ini dan nanti-nanti. Kami terus berbagi cerita meski kini
terpisah secara jasmani. Aku rasa mereka berdualah yang paling mengerti
bagaimana aku setelah keluargaku. Dan kau tau? baru saja aku menghitung,
kemudian menyadari bahwa tahun ini adalah tahun kedelapan kami bersama. Ah,
ternyata kami sudah tidak semuda itu lagi.
Kami tidak sama antara satu dan yang
lain. Yasmina dengan sifat cerianya selalu membuat kami tertawa. Nindy yang
bijaksana dengan nasihat-nasihatnya selalu berhasil membuat kami berpikir
dewasa. Dan aku yang begitu-begitu saja, tapi mereka masih mau menjadikanku
sebagai tempat nyamanya. Bersyukur sekali menjadi aku memiliki mereka berdua
sebagai rumah.
Kami juga sering berbagi tentang
mimpi. Aku masih ingat sekali, dulu masing-masing dari kami memiliki negara
impian untuk dijelajahi. Aku dengan negara sakuraku, Yasmina dengan negara
mapplenya, dan nindy dengan negara piramidnya. Oh iya, dan dengan masing-masing
cita-cita mulia kami. Dulu aku masih ingin sekali menjadi dokter ketika yasmina
me-mimpikan menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin menjadi
psikolog handal.
Manusia memang bisa berencana, tapi
Allah tetap yang berkuasa. Seiring berjalanya waktu, aku sadar ternyata menjadi
seorang dokter bukan keinginanku dari hati. Mungkin orang tuaku. Eh malah
yasmina yang kemudian merubah cita-citanya ingin menjadi dokter. Dan kau tau?
Kali itu aku yang ingin menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin
menjadi seorang psikolog handal. Yang ini mimpi masa sekolah menengah atas
kami. Tidak berhenti disitu, mimpi kami terus berkembang. Semakin tinggi
tingkat yang ku lalui, semakin sadar bahwa passion
yang sebenarnya bukan di bidang politik. Bisa apa aku. Hahaha. Mungkin di
bidang ‘berbicara’, agar kebawelanku ini ada faedahnya.
Ketika lulus sekolah menegah atas,
kami terpisah di tiga perguruan tinggi yang berbeda. Yasmina di ibukota, nindy
di kota besar di daerah timur, dan aku di kabupaten kecil saja, di dataran
tinggi daerah barat. Tidak masalah kami terpisahkan, kami sudah berjanji untuk
mengejar mimpi dulu kemudian kembali suatu saat nanti. Hmm, sebenarnya tidak se
dramatisir itu. Ayolah, kami juga memliki media sosial seperti anak keren jaman
sekarang.
Tidak hanya bercerita tentang mimpi,
tentang ‘doi’ pun pasti. Tentang cinta monyetku jaman sekolah, mereka sudah
hafal bahkan luar kepala. Begitupula denganku, hafal sekali kisah cinta monyet
yasmina dan nindy. Dari dulu dan mungkin hingga saat ini, jika ada laki-laki
yang ingin mendekati salah satu diantara kami, maka wajib sekali untuk
mengambil hati dua orang lainya. Karena jika tidak begitu, kisah cinta bisa
kandas di tengah-tengah.
Tentang yasmina,
Sahabatku yang satu ini pintarnya
luar biasa. Apalagi di bidang matematika. Sepertinya menghitung sambil bermimpi
pun bisa. Berkali-kali dia menjadi delegasi sekolah dalam olimpiade matematika.
Berkali-kali juga dia meraih peringkat pertama ketika sekolah. Susah sekali
mengalahkanya. Sekitar 3 tahun aku merasakan satu kelas bersamanya. Sering
sekali kami bersama, tapi ada satu masa dimana kami tidak bersama. Dan itu
karena aku. Baru akhir-akhir ini aku menyadarinya, saat kami bertiga
bernostalgia bersama. Dulu aku tidak memilih untuk belajar bersama, tapi secara
otomatis akan sedikit menjauh dari yasmina di saat musim ujian tiba. Menyendiri
dan mencari tempat yang sepi untuk melahap habis materi kisi-kisi. Entahlah,
aku juga tidak menyadari. Dan itu terbawa hingga ujian kelulusanku di bangku
SMA.
Aku dan yasmina pernah bertengkar.
Dulu kami hanya saling diam. Dan lagi-lagi karena aku. Ingin tertawa rasanya
jika membaca surat yang diberikan yasmina kepadaku kala itu. Masih ku simpan
sangat rapi hingga saat ini. Hanya tidak sanggup saja jika harus membacanya
kembali. Hahahaa
Yasmina itu primadona, apalagi di
sekolah pria di seberang sana. Yaiyalah, sahabatku yang satu ini tidak hanya
pintar. Dia juga cantik dan ceria. Siapa yang tidak jatuh hati padanya?
Ditambah lagi dengan kemampuan menghafalnya yang begitu cepat. Diantara kami
bertiga, Yasminalah yang paling banyak menghafal kalamNya.
Oh iya, dia juga pernah menjadi model
sekolah. Saat pengambilan gambar, kami murid-murid biasa hanya bisa melihatnya
dari kaca luar ruangan. Dia sedang berdiri di depan kamera sambil
menggerak-gerakan tangan. Menggeser jarinya dari sebuah tablet canggih kemudian mengangkat jarinya ke atas. Seperti
mengeluarkan sesuatu dari tablet itu.
Entahlah, kami yang melihat dari luar tidak tau pasti apa yang dia lakukan.
Sama sepertiku, Yasmina adalah
anggota saman angkatan pertama. Lihai sekali dia dalam menari. Memutar-mutar
tanganya bak penari saman professional. Aku yang tidak selihai dia, harus
berlatih berkali-kali baru bisa menghafal gerakannya. Tidak hanya saman, kami
berdua dan teman-teman yang lain juga sering berkolaborasi di beberapa tarian.
Itu dulu. Kini aku sudah pensiun menari. Tapi yasmina tidak. Di cerita-cerita
barunya sekarang, yasmina masih menari saman di perguruan tingginya di ibukota.
Dan kini, mimpinya kembali
berkembang. Tidak ingin menjadi dokter lagi, karena Allah mengarahkanya di bidang
IT. Oh, iya dan juga istri sholihah bagi suaminya nanti. Hehe
Tentang Nindy,
Sahabatku yang satu ini orangnya
manis sekali, semanis nasihat-nasihat yang selalu dia berikan kepadaku dan
Yasmina. Nindy orangnya paling dewasa diantara kami. Selalu menjadi ibu bagi
aku dan Yasmina yang kadang masih kekanak-kanakan. Alhamdulillah, Sabar sekali dia
dalam menghadapi kami.
Aku dan Nindy tidak pernah
bertengkar. Mungkin karena sifatnya yang dewasa, sehingga lebih memilih untuk
mengalah daripada bergabung dengan dua sahabatnya yang bisa ribut hanya karena
masalah sushi.
Nindy selalu menjadi teman duduk di
dua tahun terakhirku di masa sekolah. Saat itu aku berpisah dengan Yasmina dan
menjadi bersama dengan Nindy di satu kelas yang sama. Kelas sosial. Tidak penuh
dua tahun juga, karena Nindy sering sekali kutinggal pergi di tempat duduk itu.
Aku suka bosan jika terus-terusan berada di tempat yang sama. Dan kadang, aku
juga suka jail menarik kursinya ketika dia tidak sedang duduk di tempatnya,
kemudian aku satukan dengan kursiku agar aku bisa tidur enak di jam istirahat.
Jadilah, Nindy harus duduk di tempat lain hingga menunggu aku bangun dari
tidurku. Maafkan aku ya nin. hehee
Nindy ini jago sekali dalam bidang
sosial, apalagi sosiologi. Saat itu aku sudah angkat tangan dengan pelajaran
ini. Aku lebih memilih ekonomi atau akuntansi sekalian, daripada harus mencari
masalah dengan sosiologi. Bahkan nindy pernah menawarkan untuk menyeleseikan
tugas proposal sosiologiku karena saking aku tidak sukanya dengan pelajaran
ini. Sempat tergiur untuk meng-iyakan, tapi aku mengurungkan niatku itu.
Oh iya nindy itu mellow sekali anaknya. Seringkali aku dan yasmina diberi kata-kata
puitis yang begitu manis olehnya. Mungkin Yasmina masih bisa membalas meskipun
sedikit. Tapi aku? Ayolah, merangkai puisi saja aku tidak jago. Tidak hanya mellow, Nindy juga perasa. Peka sekali
dia dengan rasa. Berbeda dengan aku dan Yasmina yang susah sekali peka. Karena
kepekaan Nindy yang bagus ini, teman-teman jadi suka menjadikan nindy untuk
tempat berkonsultasi. Tidak hanya teman
satu sekolah. Dari sekolah lain pun ada. Aku tidak habis pikir. Terkenal juga
dia.
Dan kini, mimpinya kembali
berkembang. Belum di bidang Psikologi, namun Allah menunjukkanya agar memulai
dari bidang sosiologi. Katanya sih ingin menjadi Psikososiolog. Dan istri
sholihah juga untuk suaminya nanti. Hehee
Sebenarnya masih banyak sekali
kalimat yang bisa mendeskripsikan Nindy, Yasmina dan tentang kami. Banyaaak
sekali. Tapi nanti kalian bosan membacanya.
Kini, ketika kami harus ‘bertugas’ di
tempat yang berbeda, kami selalu mewajibkan hari dimana kita bertiga harus
bersama. Biasanya kami memilih saat liburan pergantian semester. Kami namakan
hari wajib itu dengan Staycation. Sudah dua kali kami melaksanakanya, karena
sudah dua tahun kami berpisah. Staycation pertama kami lakukan dengan piknik
ala-ala. Yang kedua kami putuskan untuk menginap bersama, sekaligus
melaksanakan misi rahasia.
Ketika aku melihat Nindy dan Yasmina
saat ini. Aku menyadari bahwa banyak hal telah kami lakukan bersama. Kami
tumbuh dewasa bersama. Dan nanti satu per satu dari kami, akan menemukan
kehidupan baru bersama teman hidupnya masing-masing. Nanti, mketika mereka
berdua sudah menikah. Aku akan menceritakan kepada suami-suami sahabatku itu,
bahwa mereka tidak salah memilih istri yang luar biasa.