Maka Manakah yang Bisa Kau Dustakan?
12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.
Hawa dingin
kota ini benar-benar tidak mau berkompromi dengan pendatang baru sepertiku.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.30 siang waktu Perancis. Harusnya
tidak sedingin ini. Tapi entahlah akhir-akhir ini cuaca memang sering tidak
menentu. Jaket yang ku pakai sepertinya hanya sedikit membantu. Aku mempercepat
langkah sambil mengencangkan jaket yang kukenakan, berharap dapat menolak angin
dingin yang tidak sopan menyentuh tubuhku.
Kafe sederhana dengan nama Le Petit Gourmet menjadi tujuan sekaligus tempat singgahku untuk makan siang kali ini. Salah satu tempat makan milik muslim Perancis yang menyediakan berbagai macam menu halal untuk pelangganya. Sebenarnya tidak hanya untuk makan siang. Hari ini aku ada janji dengan salah seorang teman dari Indonesia. Namanya Fikri, dia adalah teman satu madrasah ketika kami masih SD di Malang dulu. Aku tidak tahu persis bagaimana wajahnya sekarang. Aku hanya tahu dari foto yang dia jadikan foto profil di akun facebooknya.
Kafe sederhana dengan nama Le Petit Gourmet menjadi tujuan sekaligus tempat singgahku untuk makan siang kali ini. Salah satu tempat makan milik muslim Perancis yang menyediakan berbagai macam menu halal untuk pelangganya. Sebenarnya tidak hanya untuk makan siang. Hari ini aku ada janji dengan salah seorang teman dari Indonesia. Namanya Fikri, dia adalah teman satu madrasah ketika kami masih SD di Malang dulu. Aku tidak tahu persis bagaimana wajahnya sekarang. Aku hanya tahu dari foto yang dia jadikan foto profil di akun facebooknya.
“Salut, comment รงa va[1],
akhirnya datang juga. Apakabar san?” Seorang remaja laki-laki berpakaian modis
dengan rambut tersisir rapi menyapa dan mempersilahkanku duduk di
depanya dengan bahasa Indonesia. Ah tidak salah lagi ini pasti Fikri temanku
dulu. Wajah jawanya yang khas tidak banyak berubah. Bedanya kini Fikri semakin
dewasa dan jauh lebih tampan. Dulu ketika di madrasah dia dekil sekali. Tidak
hanya dia sebenarnya, aku juga. Kami dulu dekil sekali,bahkan sepertinya tidak
ada teman perempuan di kelas yang mau melirik.
“Fikri Akbar? Alhamdulillah, Je vais bien[2].Nggak nyangka bakal ketemu di sini. Yo opo kabare rek ?[3] Banyak berubah yaa tambah ganteng ae’’ Aku menyalami tanganya dan segera
mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
‘’Aku juga baik san Alhamdulillah. Isok ae san ihsaan[4]. Kau juga banyak
berubah. Ndak dekil lagi seperti dulu’’ kamipun menertawakan perubahan kami masing-masing. Memang tidak sulit untuk
mencairkan suasana dengan sesama orang Indonesia di luar negri, apalagi dengan
Fikri, teman lamaku di kampung dulu.
‘’ Gimana ceritanya
Fik sampai kau bisa terdampar di Le Havre ? Seingatku ketika kita
sama-sama lulus dari madrasah, Kau bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah
untuk membantu Abahmu di sawah dan berjualan gorengan buatan Emakmu di pasar.’’
‘’Wah, ceritanya panjang sekali san.
Nanti akan kuceritakan. Kau sendiri bagaimana ? masih tetap ambisius
seperti dulukah ? ceritakan dulu perjalananmu sampai bisa kesini. Tidak
main-main loh jaraknya sekitar 7000 mil.’’
***
“Le tolong
bantuin bapak nyelesein pesenan fotokopian di toko yaa, itu besok pagi mau
diambil sama yang pesen. Bapak mau ngejilid pesenan yang lain, Ibu lagi nganter
adekmu ngaji ke masjid.”
“Yaaaah
pak,Ihsan masih ngerjain tugas. Sekedap nggih pak[5]."
Begitulah keseharianku sebagai seorang anak sulung dari tiga bersaudara, sekaligus sebagai seorang murid di SMKN 8 Malang. Bapak adalah seorang tukang fotokopi , begitu juga dengan Ibu. Kami mempunyai sebuah toko fotokopi sederhana yang menempel dengan rumah bagian depan. Usaha fotokopi ini baru dirintis ketika aku lulus dari madrasah. Dulu Bapak dan Ibu bekerja di sawah sebagaimana penduduk kampung yang lain. Namun karena tuntutan kebutuhan, Bapak yang memiliki jiwa wirausaha memutuskan untuk menjual salah satu dari dua sawahnya dan dijadikan modal membuka toko fotokopi.
Begitulah keseharianku sebagai seorang anak sulung dari tiga bersaudara, sekaligus sebagai seorang murid di SMKN 8 Malang. Bapak adalah seorang tukang fotokopi , begitu juga dengan Ibu. Kami mempunyai sebuah toko fotokopi sederhana yang menempel dengan rumah bagian depan. Usaha fotokopi ini baru dirintis ketika aku lulus dari madrasah. Dulu Bapak dan Ibu bekerja di sawah sebagaimana penduduk kampung yang lain. Namun karena tuntutan kebutuhan, Bapak yang memiliki jiwa wirausaha memutuskan untuk menjual salah satu dari dua sawahnya dan dijadikan modal membuka toko fotokopi.
Aku
merasa beruntung meskipun Bapak hanya seorang tukang fotokopi. Setidaknya Aku
masih bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang SMK. Keluarga kami tidak kaya.
Keluarga kami adalah keluarga yang sederhana. Bapak selalu berkata “Le Meskipun
kau hanya anak dari tukang fokopi, Kau harus bisa sekolah tinggi. Kau harus
merubah nasib keluarga kita. Bukanya Bapak tidak bersyukur, tapi anak yang
hebat harus bisa melebihi kesuksesan Bapaknya. Kesuksesan Bapak ya disini ini
jadi tukang fotokopi. Eits..tapi berkah.” Dan kemudian ditutup
dengan ketawanya yang khas. Itu nasihat bapak yang hampir seminggu sekali aku
mendengarnya.
Beberapa
bulan yang lalu aku resmi menjadi siswa kelas X SMKN 8 Malang. Di sini aku
mengambil bidang keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Meskipun sekolah
ini adalah SMKN favorit, jangan bayangkan aku adalah seorang siswa yang cerdas
dengan piagam bertebaran. Aku hanya anak biasa dari kampung, yang tidak terlalu
dikenal dikalangan anak-anak populer. Tapi aku terkenal dikalangan guru-guru.
Sekali lagi, bukan karena aku pintar. Aku dikenal sebagai murid yang banyak
Tanya. Tujuanku sih sederhana, pertama karena aku sadar tidak sepintar yang
lain. Dan kedua, aku memang sengaja ingin dikenal dikalangan guru siapa tau itu
berpengaruh pada nilai, atau siapa tau aku bisa menjadi orang pertama yang tau
tentang informasi sekolah.
Jika teman-temanku ditanya akan melanjutkan kemana setelah lulus nanti, kebanyakan mereka akan menyebutkan berbagai universitas negri favorit di Indonesia. Entahlah kenapa aku tidak tertarik melanjutkan pendidikan ku di Indonesia. Pernah suatu ketika pulang dari sekolah, aku mampir ke warnet hanya untuk mencari nama universitas terbaik di dunia. Dan ya, Massachusetts Institute of Technology di Amerika berhasil menarik perhatianku. Aku menggali informasi lebih dalam tentang MIT hingga aku benar-benar jatuh cinta dengan universitas ini. Aku putuskan nanti akan melanjutkan sekolahku di sini. Gila bukan. Seorang anak dari kampung hampir terpelosok di kota Malang bercita-cita kuliah di MIT.
Jika teman-temanku ditanya akan melanjutkan kemana setelah lulus nanti, kebanyakan mereka akan menyebutkan berbagai universitas negri favorit di Indonesia. Entahlah kenapa aku tidak tertarik melanjutkan pendidikan ku di Indonesia. Pernah suatu ketika pulang dari sekolah, aku mampir ke warnet hanya untuk mencari nama universitas terbaik di dunia. Dan ya, Massachusetts Institute of Technology di Amerika berhasil menarik perhatianku. Aku menggali informasi lebih dalam tentang MIT hingga aku benar-benar jatuh cinta dengan universitas ini. Aku putuskan nanti akan melanjutkan sekolahku di sini. Gila bukan. Seorang anak dari kampung hampir terpelosok di kota Malang bercita-cita kuliah di MIT.
MIT
seakan menyihirku menjadi anak yang berkali lipat lebih ambisius. Aku katakan
pada semua orang, kepada keluarga, guru, dan teman-temanku. Banyak dari mereka
yang memandang sebelah mata. Orang tuaku pun hanya bisa tersenyum dan membantu
dengan doa. Hingga suatu saat aku mendapat informasi tentang dibukanya
pendaftaran beasiswa Bina Antarbudaya (pertukaran pelajar) untuk siswa kelas X
di seluruh Indonesia. Salah satu Negara tujuanya adalah Amerika. Jika aku lolos
seleksinya, kemungkinan aku bisa berangkat ke Amerika. One step closer
to MIT. Pendaftaran dilakukan online dengan membeli
pin seharga 50 ribu rupiah. Langsung saja aku mencongkel celenganku di rumah,
dan mendaftar lewat warnet
langgananku.
Seleksi tahap pertama adalah seleksi tahap regional
Malang, tes tulis dengan materi pengetahuan umum, Bahasa Inggris, dan esai
bahasa Indonesia kulalui dengan entahlah, aku tidak bisa mendeskripsikanya. Aku
hanya berdoa semoga aku bisa lolos di tahap awal ini. Sebelumnya, telah kulalap
habis isi RPUL, bahkan menjadi buku dongeng sebelum tidurku. Kabarnya, ada dua
tahap seleksi regional dan dua tahap seleksi nasional. Aku merasa ambisius
sekali, setiap sholat aku berdoa agar Allah mengizinkanku lolos di setiap
seleksinya. Tidak hanya itu, setiap akan dimulai sholat aku selalu mengingatkan
teman-teman untuk mendoakanku di sujud terakhirnya. Karena kata guru agama,
berdoa di sujud terakhir termasuk doa yang akan diijabahi.
Dari 22 anak dari sekolah yang mengikuti seleksi ini, ternyata aku menjadi satu diantara empat orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah seleksi wawancara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jangan bayangkan bahasa Inggrisku sebagus tiga teman yang lain. Ketika ada tugas berpidato bahasa Inggris di depan kelas saja, aku benar-benar lebih memilih mengurung diri dikamar mandi sekolah sampai jam pelajaran itu habis. Bagaimana dengan ini, aku akan diwawancara oleh beberapa bule Eropa. Matilah aku. Bahkan rasa gerogi sudah muncul semenjak H+1 pengumuman hasil seleksi tahap pertama. Butuh kerja ekstra mempersiapkan seleksi wawancara. Demi lolos di tahap kedua, aku rela pulang lebih sore untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah dengan kamus dan buku-buku bahasa Inggris.
Dari 22 anak dari sekolah yang mengikuti seleksi ini, ternyata aku menjadi satu diantara empat orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah seleksi wawancara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jangan bayangkan bahasa Inggrisku sebagus tiga teman yang lain. Ketika ada tugas berpidato bahasa Inggris di depan kelas saja, aku benar-benar lebih memilih mengurung diri dikamar mandi sekolah sampai jam pelajaran itu habis. Bagaimana dengan ini, aku akan diwawancara oleh beberapa bule Eropa. Matilah aku. Bahkan rasa gerogi sudah muncul semenjak H+1 pengumuman hasil seleksi tahap pertama. Butuh kerja ekstra mempersiapkan seleksi wawancara. Demi lolos di tahap kedua, aku rela pulang lebih sore untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah dengan kamus dan buku-buku bahasa Inggris.
Ketika hari seleksi tiba, Aku bangun sangat pagi.
Tempat seleksinya jauh dari rumah. Aku harus rela bersepeda demi menghemat
biaya. Belum lagi karena rumahku berada di kampung di daerah dataran tinggi.
Sebenarnya tidak terlalu jauh untuk ke kota, namun harus melewati sungai yang
jembatanya sedang direnovasi. Alhasil, aku harus berputar lebih jauh melewati
kebun Apel dan sawah milik warga. Sekitar 1 jam 25 menit aku menghabiskan waktu
di perjalanan. Tepat pukul 08.00 pagi aku sampai di kampus ABM Malangkucecwara,
tempat pelaksanaan seleksi tahap kedua.Aku merasa sangat percaya diri menjalani
tes wawancara dengan bahasa Indonesia. Berbeda dengan saat wawancara bahasa
Inggris. Malah bisa dibilang sedikit gagal, meskipun aku sudah menyiapkan apa
saja yang akan aku katakan. Rasa gerogi menghilangkan kosakata bahasa Inggrisku
yang sudah minim di kepala. Alhasil, aku banyak mengeluarkan bahasa Tarzan
ketika wawancara. Sudahlah, aku pasrah dengan hasilnya. Aku juga sudah siap
jika tidak lolos ke tahap berikutnya. Seleksi wawancara ini membuatku sedikit
putus asa. Mungkin memang belum saatnya aku ke luar negri. Masih banyak yang
harus kuperbaiki.
Pengumuman seleksi regional tahap kedua sudah diumumkan. Aku sama sekali tidak berminat meilhat hasilnya. Aku hanya berdoa jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik. Bukan pesimis, aku hanya menguatkan hati agar tidak terlalu sedih. Peluang aku lolos mungkin hanya tinggal 30%.
Pengumuman seleksi regional tahap kedua sudah diumumkan. Aku sama sekali tidak berminat meilhat hasilnya. Aku hanya berdoa jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik. Bukan pesimis, aku hanya menguatkan hati agar tidak terlalu sedih. Peluang aku lolos mungkin hanya tinggal 30%.
“Ihsan
Fuadi ada dikelas ini?” tiba-tiba Pak Yanto Waka kesiswaan datang ke kelas dan
menyuruhku segera ke ruang
kesiswaan.
Tidak butuh waktu lama, aku sudah berada di ruang
kesiswaan. Tapi tidak ada anak lain di ruangan ini. Hanya ada aku dan pak
Yanto. Aku dan Pak Yanto duduk saling berhadapan, dipisahkan meja kerja yang
penuh dengan laporan mingguan anak-anak
OSIS.
“San, selamat yaa nak. Kau satu-satunya siswa
kami yang lolos di seleksi wawancara Bina antarbudaya. Tahap selanjutnya adalah
tahap nasional. Di tahap ini, kau akan ke Jakarta dan melawan peserta dari
berbagai daerah.” Pak Yanto menyampaikan selamat sekaligus
menyalamiku.
“Bapak serius? Ah pak, saya hampir tidak
percaya. Terimakasih banyak pak.” Mataku berbinar-binar mendengar informasi
dari pak Yanto. Berkali-kali aku menyium tanganya dan menyampaikan terimakasih
yang sebanyak-banyaknya. Aku benar-benar tidak percaya dengan hasilnya . Jadi
setelah ini, aku akan ke Jakarta. Yeaaah, teriakku dalam
hati.
“Iya nak, sekali lagi selamat ya. Minggu depan kau
akan pergi ke Jakarta. Tapi biaya ditanggung sendiri san, maaf sekolah tidak
bisa membantu karena sedang membutuhkan biaya untuk renovasi gedung bagian
depan. Oh ya san, Kau sudah tahu kan? Tahun ini lembaga Bina Antarbudaya bekerjasama
dengan dua lembaga yaitu AFS dan YES. Untuk YES memang menyediakan beasiswa full selama
satu tahun pertukaran pelajar, namun untuk AFS hanya menyediakan beasiswa partial yang
artinya kau harus menyiapkan biaya sebesar 80 juta rupiah. Sisanya baru akan
ditanggung oleh AFS. Bagaimana? Bapak sarankan kau tetap mengambil, tapi jika
kau merasa keberatan kau bisa resign. Dan bisa mencoba lagi di lain
kesempatan.” Pak yanto menjelaskan panjang lebar mengenai apa saja yang harus
aku lakukan termasuk jika aku tetap mengambil program ini, aku akan wisuda satu
tahun lebih lambat dari teman-teman satu
angkatan.
“Oh begitu ya pak, baik akan saya
diskusikan dulu dengan keluarga. Terimakasih banyak pak. Saya pamit dulu.
Assalamualaikum.” Aku keluar dari ruangan kesiswaan dengan keadaan bingung.
Entah harus senang atau bagaimana. Gila. Jika aku pergi ke Jakarta, tidak
mungkin aku meminta biaya dari orang tua. Belum lagi aku tidak ada saudara
disana. Tidak mungkin jika menyewa hotel untuk tiga hari. Kemungkinan lolos di
program YES juga sangat kecil. Jika aku lolos di program AFS, dari mana aku
mendapatkan uang sebanyak itu.
Sepanjang perjalanan pulang aku benar-benar pusing memikirkan haruskah mengambil atau resign saja. Toh jika aku resign, aku bisa memberikan kesempatan untuk yang lain. Aku juga bisa lulus dari SMK ini lebih tepat waktu. Di satu sisi, aku berpikir, kesempatan seperti ini tidak akan terulang kembali. Tidak semua orang mendapat kesempatan emas ini. Aku putuskan untuk diskusi saja dengan keluarga dan dengan Allah. Malam ini aku harus shalat istikharah.
Sepanjang perjalanan pulang aku benar-benar pusing memikirkan haruskah mengambil atau resign saja. Toh jika aku resign, aku bisa memberikan kesempatan untuk yang lain. Aku juga bisa lulus dari SMK ini lebih tepat waktu. Di satu sisi, aku berpikir, kesempatan seperti ini tidak akan terulang kembali. Tidak semua orang mendapat kesempatan emas ini. Aku putuskan untuk diskusi saja dengan keluarga dan dengan Allah. Malam ini aku harus shalat istikharah.
“Bapak dan Ibu terserah kamu saja Le,
tapi ya mending ndak usah aja. Soalnya Bapak eman sama
sekolahmu jadi lebih lama kan, empat tahun. Lagian disana kamu cuma pertukaran
budaya.” Begitu kata Bapak. Aku tahu sebenarnya tidak hanya itu alasan Bapak,
keadaan ekonomi keluarga kami sedang menurun. Adik bungsuku baru saja keluar
dari rumah sakit, dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Saat istikharah,
aku curahkan semua kepada Allah. Aku menangis diatas sajadah. Sekali lagi aku
berdoa jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak,
berilah ganti yang lebih baik. Aku ceritakan semua mimpi-mimpiku.
Tentang pertukaran pelajar ini, biayanya. Semua aku katakan kepada
Allah.
Akhirnya aku putuskan untuk resign. Aku
percaya ini adalah keputusan yang terbaik, karena Allah akan memberikan lebih
dari apa yang aku harapkan. Keputusan ini memacu semangatku agar bisa lebih
berprestasi di sekolah. Cepat naik kelas, Cepat lulus, dan segera melanjutkan
kuliah di MIT. Aku kembali dengan mimpi-mimpiku untuk kuliah di MIT. Namun,
karena melihat dari pengalaman sebelumnya. Aku bukanlah anak dari keluarga yang
bergelimang harta.Aku sempat merasa putus asa. Sepertinya tidak mungkin bisa
kuliah di Amerika. Aku sadar mimpi yang kugantungin terlalu tinggi dan tidak
rasional. Jangankan kuliah di Amerika, mau melanjutkan kuliah atau tidak saja
aku masih bimbang.
***
Kini aku telah menjadi anak kelas XI. Aku tetap merasa
pesimis dengan mimpi-mimpi yang telah kubangun saat kelas X. Hingga suatu saat,
ketika aku pulang dari sekolah. Di rumah aku merasa lelah dengan aktivitas
sekolah. Aku putuskan untuk rebahan sebentar sebelum kembali dengan
tugas-tugasku. Di ruang tamu aku menonton acara TV favorit. Ah pas sekali,
episode kali ini tentang mimpi. Aku memang sedang butuh
asupan motivasi tentang topik ini. Salah satu bintang tamu memiliki sebuah
mimpi yang benar-benar tidak mungkin bisa menjadi kenyataan jika di nalar
dengan akal sehat kita. Saat itu Ia menginginkan sebuah mobil sport terbaik
di dunia, namun keadaanya ekonominya sangat tidak mendukung. Dia adalah seorang
anak tukang cuci piring salah satu rumah makan besar di Ibukota. Cita-citanya
ingin menjadi pembalap professional. Tapi dengan keadaan seperti itu Ia tidak
pernah pesimis dengan mimpinya. Dia membawa mimpinya ke dunia nyata. Dia cetak
dan tempel foto-foto mobil itu di dinding kamarnya. Setiap hari Dia
katakan pada foto tersebut bahwa dia akan membelinya. Dia hidup dalam mimpinya. Dia mengirim sugesti dan
sinyal-sinyal ke alam semesta. Dia tunjukan ke semua orang, tidak
sedikit yang mencibir dan menertawakanya. Namun, yang perlu digaris bawahi
adalah Dia selalu mengikut sertakan Allah ke dalam mimpinya. Hingga
suatu ketika dia berhasil membeli mobil yang
diinginkan.
Aku merasa penasaran, apakah dengan cara seperti itu
aku juga bisa berhasil. Ah, jika dia bisa kenapa aku tidak. Toh, tuhan kita
sama-sama Allah. Baiklah akan kucoba. Dari situ, aku mulai mengikuti caranya.
Aku mencetak foto-foto MIT, mulai dari gedungnya, perpustakaanya,kelasnya,
lingkunganya, Orang-orangnya, sampai kamar mandinya. Aku bayangkan diriku
berada disana, berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan orang hebat dari
seluruh dunia. Sebelum kutempel di dinding kamar, Aku membawa foto-foto tadi ke
sajadah. Aku menunjukkan mimpi-mimpiku kepada Allah. Ketika sholat Tahajud aku
berdoa “Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang.Lihatlah
ini adalah mimpi-mimpiku. Hamba ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tempat
terbaik di Bumi Mu. Izinkanlah hamba bersekolah di MIT ya Allah, Izinkanlah
hamba menunjukkan pada dunia bahwa umatMu juga memiliki kualitas yang sama
dengan orang-orang hebat di sana. Aku yakin Engkau akan memberikan ganti yang
lebih baik dari mimpiku mengikuti pertukaran pelajar dulu.Ya Allah jika tidak
MIT, izinkan hamba bisa bersekolah di Negara-negara maju yang lain di dunia.
Aku mohon kepadaMu wahai yang maha pemilik hak tertinggi atas diriku dan masa
depanku.”
Tidak hanya ketika tahajud, di setiap sholat di
sujud terakhirku aku selalu berdoa seperti itu. Memperbanyak amal ibadah untuk
merayu Allah. Sholat dhuha yang biasanya hanya empat rakaat, menjadi delapan
rakaat. Shalat tahajud yang biasanya lima rakaat, menjadi sebelas rakaat. Infaq
yang biasanya cuma puluhan ribu menjadi ratusan ribu. Banyak minta restu kepada
orang tua, dan doa dari guru-guru disekolah. Jangan dibayangkan ini berjalan
mulus-mulus saja. Banyak yang hanya tersenyum meremehkan ketika mendengar
mimpiku. Lebih dari itu, banyak juga yang mengatakan aku tidak pantaslah, mimpi
ketinggian, banyak maunya, dan lain sebagainya. Aku berusaha tidak
menghiraukan. Biasanya jika sudah parah, aku hanya bisa mengadukan kepada Allah
dan berjanji akan menunjukkan kepada mereka bahwa ini tidak hanya sekedar bunga
tidur semata. Hari demi hari kulalui dengan keyakinan bahwa mimpiku akan
semakin dekat menjadi sebuah
kenyataan.
Sampai akhirnya, Aku berada di kelas XII. Ini adalah
tahun terakhir di SMK, sekaligus saatnya menentukan kemana melanjutkan hidup.
Harusnya sih aku melanjutkan kuliah di MIT. Tapi entahlah belum ada tanda-tanda
kita berjodoh. Disaat teman yang lain sudah memilki tujuan masing-masing, aku
masih digantungkan dengan mimpi-mimpiku. Aku tetap yakin, sedikitpun tidak
tergoyahkan. Tapi di lain sisi aku juga menyiapkan kemungkinan-kemungkin
terburuk. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk berbagai keadaan.
Tepat
satu bulan sebelum UN, kabar gembira datang kepadaku. Ketika itu aku sedang
asik berada di kelas bersama teman-teman. Tiba-tiba, Adam datang
sambil memanggil namaku dari luar kelas.
“Ihsaaaan,
mimpimu bakal terwujud bentar lagi. Cepet sekarang kamu dipanggil Bu Arum ke
ruang BK.” Adam menarikku dari gerombolan, dan segera membawaku ke ruang BK.
Sebentar. Aku masih belum faham apa maksudnya. Aku bukan tipe anak yang biasa
keluar-masuk ruang BK. Sejurus kemudian kami sudah berada di hadapan Bu Arum.
Bu Arum tidak berkata apa-apa. Sebenarnya, ini semakin menambah kebingunganku.
Tiba-tiba, beliau menyodorkanku sebuah surat. Dari logonya, aku tau surat itu
dari PSMK (Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan). Surat itu berisi bahwa sekolah
berhak mengirimkan satu siswanya untuk melanjutkan kuliah di perancis.
“Maaf
bu, maksudnya apa yaa kok saya yang disuruh membaca surat ini?” Aku tidak
berani menebak-nebak apa maksud Bu Arum.
“Maksudnya,
kami menunjuk kamu sebagai perwakilan dari SMKN 8 Malang.” Bu Arum tersenyum
kepadaku.
“Serius
Bu? Alhamdulillaah, Allahuakbar.” Seketika aku langsung sujud syukur di ruang
BK. Aku tidak peduli Adam akan mengataiku cengeng atau bagaimana. Aku sudah
berlinang airmata, menangis haru karena Allah benar-benar mendengar doaku.
“iya
san. Tapi jangan senang dulu karena hanya delapan dari 12 orang yang akan
berangkat. Sekarang kamu buat motivation letter yaa dan
kumpulkan berkas-berkas yang diminta. Minggu depan akan diumumkan siapa saja
yang berangkat.”
“Siap
bu, akan saya buat sebagus mungkin. Terimakasih banyak atas doa dan dukunganya
selama ini bu Arum. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Aku meninggalkan ruang
BK dengan rasa senang yang luar biasa. Rasanya aku ingin memeluk setiap orang
yang aku temui dan mengatakan terimakasih. Tapi tidak sampai aku melakukanya,
nanti mereka bisa kaget kenapa tiba-tiba Ihsan Fuadi memeluknya.
Sampai
dirumah, aku melihat Ibu sedang sibuk di toko. Aku memutuskan untuk menunggu
Ibu dulu di ruang tamu. Tidak sampai 15 menit, Ibu masuk kerumah. Aku langsung
berteriak dan memeluknya.
“Ada apa tho le? Kau ini manja
sekali seperti anak perempuan saja.”
“Heheee ya ndak papa tho buk.”
Aku tersenyum dan memberikan surat ajaib PSMK kepadanya.
“Ini apa le? Jangan bilang karena kau
berbuat ulah di sekolah”
“Emangnya anak Ibuk yang paling ganteng ini suka buat
ulah ya?.” Aku memaksa ibu untuk segera membukanya. Beberapa detik aku menunggu
Ibu membaca, tiba-tiba senyum Ibu mengembang. Senyum favoritku. Senyum wanita
terbaik yang ada di bumi ini. Ah, tidak pernah aku melihat senyum yang lebih
baik dari punya Ibu. Ibu memelukku sekali lagi, matanya berbinar-binar karena
bangga dengan anak laki-lakinya ini.
Sebelum aku menulis motivation letter,
kembali aku membawa surat ini ke sajadah. Aku bersyukur kepada Allah atas
nikmat luar biasa yang Ia berikan kepadaku, Aku juga mohon agar dipermudah
segala urasanku. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini. Meskipun tidak MIT, aku
yakin ini adalah hadiah terbaik yang telah Allah persiapkan untukku. Benar apa
kata Rasullullah SAW, bahwa Allah pasti sesuai dengan perasangka hambaNya.
Seminggu kemudian, setelah aku mengumpulkan motivation
letter terbaikku dan beberapa berkas yang dibutuhkan. Pak Haris kepala
sekolah SMKN 8 Malang mengumumkan bahwa aku berhak mendapat beasiswa ini. Pak
Haris membeitahuku agar segera mengurus paspor dan surat-surat penting lainya.
Kata beliau aku akan mengambil progam BTS ATI (Assistance
Technique D'ingรฉnieur) di Lycรฉe Jules Siegfried di Kota Le Havre,
Haute-Normandie. BTS ( Brevet
de Technicien Superiue) adalah program yang setara dengan D2 di Indonesia. Itu
artinya, aku akan melanjutkan sekolah disana tidak lebih dari dua tahun. Dalam
hati aku terus mengucap rasa syukur..
***
12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.
“Qui est tous mes histoires[6], nah gitu
ceritanya Fik. Soupe a
l'oignon [7]nya
sampe udah hampir dingin nih.” Aku menutup kisah perjalanan ku sambil menyendok
sup bawang khas Perancis yang katanya menjadi salah satu sup terenak di dunia.
“Wah san, jadi kamu
baru tiga bulan di Le Havre? Okee, Aku ucapkan Selamat datang di Perancis. Oh
iya, sup yang kamu makan itu katanya sup paling enak di dunia. Padahal yaa
masih enak bautan emakku di Malang.” Katanya sambil terkekeh.
Untung Fikri berbicara menggunakan bahasa Indonesia, jika tidak. Mungkin mbak-mbak pelayan yang berdiri
tidak jauh dari meja kami sudah melabraknya.
“Terus cerita kau gimana Fik? Dari tadi sudah ku ceritakan
pengalamanku yang puanjaang. Gantian dong, aku juga mau dengar ceritamu.
Bagaimana seorang Fikri Akbar yang dulunya suka sekali main layangan di sawah,
bisa terdampar di le havre ini?.” Aku benar-benar penasaran dengan
kisahnya. Aku tidak menyangka bisa bertemu Fikri disini. Dulu jika ditanya apa
cita-citanya, dia pasti menjawab ingin menjadi tukang layangan. Ya, karena
saking sukanya dia bermain layang-layang. “Apa kau sudah menjadi pengusaha
layangan disini?.” Kataku menggoda.
“Hahahaa kau ini ada-ada saja
san, ceritanya akan panjang sekali melebihi sungai brantas yang ada di Malang.”
Fikri tertawa kemudian melirik jam tangan Rolexnya. “ eh san, sepurane [8]yo aku nggak bisa nemenin lama-lama. Masih ada
janji lain. Kalau ingin dengar, datang saja ke apartmentku. Ini alamatnya. Aku
duluan. Assalamualaikum.” Fikri memberiku kartu namanya, dan berlalu
meninggalkanku sendiri.
Aku tersenyum, memandang keluar jendela. Aku
bergumam dalam hati “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang bisa kau
dustakan..”
***
[1] Hai, apa kabar?
[2] Aku baik
[3] Apa kabar? (bahasa jawa)
[4] Bisa aja san (bahasa jawa)
[5] Sebentar ya pak (bahasa jawa)
[6] Nah, itu semua cerita saya
[7] Nama makanan khas perancis
[8] Maaf (bahasa jawa)
Gimana ceritanya? semoga bisa memotivasi pembacanya yaa. Anyway, aku nulis cerita ini terinspirasi dari kisah perjalanan salah seorang sahabat yang sekarang sedang melanjutkan sekolahnya di Lycee Jules Siegfried le havre, France, dan tentunya dengan beberapa tambahan kisah imajinasiku hehehe . Makasih banget yang udah mau ngeluangin waktu buat baca.


Aku suka tulisannya mbak senja. Sayangnya aku baru nemu blognya sekarang, coba kalo dari dulu2 yaa, mungkin udh jadi pembaca setianya mbak senja deh ๐๐๐
BalasHapusHaai, makasih yaah udah mau bacaa. Ya ampun ini juga baru belajar nulis kok hehe
Hapus