Menjadi Bermanfaat
Lagi-lagi pikiranku berdebat sendiri.
“Tidak. Tenang, Aku tidak seapatis itu. Aku tidak seegois itu. Toh nanti
aku akan menjadi seorang yang berguna untuk negri. Toh nanti aku akan
berkontribusi. Nanti aku akan.. Nanti.. Nanti..”
“Jangan nanti. Hei, lihatlah waktuku akan terbuang sia. Aku mahasiswa.
Aku harus tau diri. Keberadaanku harus berdampak baik. Bukan main, menjadi
bermanfaat di tempatku tinggal adalah sebuah keharusan kan!”
Sedikit dari topik perdebatan isi
kepalaku. Itu hanya secuplik yang menyadarkan. Menjadi titik balik sekaligus
menyalakan kembali percikan kepedulian terhadap ibu pertiwi.
Pernah berada di ujung kegelisahan
tentang apa guna sebagai mahasiswa? Hmm itulah yang aku rasakan semester lalu.
Saat itu mengasah skill untuk masa
depan menjadi prioritas utamaku. Organisasi ini dan itu aku ikuti. Tapi tidak
satupun yang berbau kontribusi untuk negri. Egois memang. Hingga gelisah itu
datang secara perlahan. Mengetuk lembut nurani batinku.
Dulu sebelumnya, memang pernah aku bergabung
dengan salah satu organisasi yang ‘katanya’ akan bergerak dalam bidang
pendidikan di Indonesia. Tapi entahlah, kabarnya jadi semakin tidak jelas
sekarang. Pernah juga aku dan beberapa teman mencoba untuk membuat organisasi
sosial yang juga bergerak dalam pendidikan. Tapi entahlah, satu persatu dari
kami menghilang dalam kesibukan. Termasuk aku.
Iya saat itu. Kemudian rasa
kepedulian itu hampir hilang, tersamarkan oleh ambisi pribadi.
Selama satu semester lamanya aku
berkutat dengan prioritas utamaku. Hasil sempurna pun aku dapatkan sebagai upah
dari itu. Aku senang. Aku bersyukur. Tapi di sisi lain aku merasa bersalah.
Ketika melihat sekitar aku merasa sedih. Dengan adanya aku dan hasil baik yang
telah ku raih masih belum bisa memberi arti kepada lingkungan ini. Lingkungan
yang dijuluki sebagai daerah pendidikan bukan karena kualitas. Tapi karena
kuantitas kampus yang didirikan besar-besar di dalamnya.
Beranjak ke semester baru,
kegelisahan semakin menjadi. Apa yang
bisa aku lakukan untuk berkontribusi? Ah Pertanyaan ini benar-benar
mengusik. Sampai akhirnya, ada seorang teman datang kepadaku. Membawa kabar tentang JEC. Jatinangor
Education Care. Dan disitulah aku mulai merealisasikan kegelisahanku.
Dengan beberapa proses formalitas,
akhirnya aku bisa bergabung dengan mereka. Yeay! Menjadi bagian dari mereka
adalah kebahagiaan. Bagaimana tidak, aku memiliki keluarga baru sekarang.
Keluarga dengan pemikiran luar biasa. Keluarga dengan jiwa-jiwa yang mulia.
Kami tidak terikat. Juga tidak ada paksaan.
Organisasi ini adalah ..
Sebuah lembaga independen yang peduli
dan bergerak di bidang pendidikan. JEC hadir untuk memfasilitasi anak-anak muda
di Jatinangor sebagai bagian dari masyarakat, untuk dapat memberikan kontribusi
nyata bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat Jatinangor serta Indonesia
dalam skala yang lebih luas. Dan memiliki tujuan
untuk menjalankan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai kaum intelektual muda
yang memiliki pengetahuan dan kapasitas lebih dalam membantu mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Begitu kurang lebih.
Disini aku memilih untuk
menjadi pengajar Al-Qur’an dengan 17 orang lainya. Ada pilihan lain sebenarnya,
ada bahasa inggris dan juga seni. Semuanya penting ku pikir. Tapi Qur’an adalah
dasar. Selain itu, Ayah dan Ibuk selalu mengusulkan agar aku mengisi waktu
luangku menjadi guru ngaji. Mengamalkan apa yang sudah aku pelajari. Oh iya,
ada satu lagi yang menjadi motivasiku memilih bidang ini
خَيْرُكُم مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Yaps,
dalam hadits riwayat Imam Bukhari ini disebutkan bahwa “Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya.”
Sudah
terhitung lima kali aku mengajar. Bahagia sekali rasanya. Memang bukan di
tempat yang besar. Hanya di Musholla kecil dan sederhana di daerah Cincin. Tapi
kebahagiaan tidak melulu hadir dari hal-hal yang besar kan? Di sini aku
merasakan bagaimana senangnya saat kehadiranku selalu diharapkan oleh
murid-muridku. Bagaimana mereka selalu berlari dan memelukku demi menyambut
kedatanganku. Ah belum lagi ketika aku tidak bisa hadir karena ada kewajiban
yang lain, mereka pasti akan mencari dan menanyakan kabarku kepada pengajar
yang lain.
Seberapapun
lelahnya, akan aku usahakan untuk bertemu mereka. Toh, lelahku akan hilang
dengan semangat mereka. Melihat mereka antusias berbaris mengantri untuk aku
simak bacaanya, sepertinya lelahku akan tau diri untuk tidak datang di waktu
yang salah. Karena di sisi lain hatiku berharap kelak ketika mereka menjadi
manusia-manusia hebat untuk agama dan negri, disitu ada sedikit campur
tanganku ini.
![]() |
| Pengajar Qur'an, tapi ga lengkap nih |
| Mega, Agung, Fani, Fajar, Sandi, sama satu lagi ga jelas hehe |
![]() |
| JEC angkatan 2016-2017 : Pemuda-pemudi hebatku ! |
Sumber definisi JEC : https://jatinangoreducationcare.wordpress.com/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar