Rasanya Jadi Talent
Memang suka unik tugas di Fakultasku.
Mungkin ini salah satunya, tugas mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yaps, tugas
kita adalah membuat video sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Kebetulan kelompokku mendapat topik tentang “Hubungan
Beda Usia”
Sebenarnya banyak yang ingin kita
sampaikan tentang hubungan beda usia ini. Tapi karena ketentuan dari film
pendek untuk tugas tidak boleh melebihi batas waktu yang ditentukan, yaitu
maksimal lima menit. Yasudahlah, akhirnya kita buat sesingkat mungkin dengan
poin-poin yang sudah kita diskusikan.
Kemudian aku dan kelompokku melanjutkan berdiskusi tentang jalan
cerita dan tetek bengek dalam film pendek yang akan kita buat. Dan tiba-tiba, salah satu dari anggota kelompok mengusulkan agar aku saja yang menjadi talent
perempuanya. Belum sempat menolak, anggota lain juga setuju karena alasan ini
dan itu.
Aku sempat ragu dengan usulan itu.
Banyak yang membuatku tidak yakin terutama dengan adegan-adegan yang bertolak
dengan prinsipku. Di sisi lain, aku juga ingin mencoba hal baru. Meskipun itu
bukan bidangku.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya okelah aku setuju tapi dengan satu syarat.
Tidak ada pegangan tangan atau saling bersentuhan dalam adegan film pendek ini.
Dan mereka pun setuju. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka. Menghargai
aku dan prinsipku.
Mungkin terdengar sedikit aneh untuk
mereka yang belum tau ilmunya. Tapi untuk aku yang sudah pernah belajar lama
tentang ilmu agama. Aku tau hukumnya.
Iya, aku memang tidak sesempurna ‘mereka-mereka’
yang biasa dipanggil ukhti. Aku belum sekuat mereka mempertahankan prinsip.
Suka salut dan kadang iri sih, tapi aku mencoba untuk tetap berusaha. Meskipun keadaan
iman dan hati ini kadang tidak terduga.
Memang dalam hal lainya aku belum
sempurna. Pakaian dan jilbabku misalnya. Tapi untuk yang satu ini, aku
benar-benar ingin mempertahankanya. Meminimalisir bersentuhan langsung dengan lawan jenis yang bukan mahromku.
Iman ini belum sekuat itu ternyata.
Untuk meyakinkan hati dan diriku, aku butuh waktu lama untuk berpikir. Dalam lingkungan
ini, hal itu tidak semudah dalam zona nyamanku dulu. Belum lagi masa depanku.
Menjadi seorang reporter dengan berbagai narasumber. Apa aku bisa?...
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang Ayah. Ayah selalu berharap aku menjadi anak perempuanya yang selalu
terjaga.
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang Ibuk. Ibuk selalu berharap aku menjadi putrinya yang baik dengan
amalan-amalan surga.
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang seseorang di masa depan. Mereka biasa menyebutnya takdir. Dan kurasa
itu cerminankan?
Kemudian Allah menyadarkan. Aku dan
masa depanku adalah milikNya. Sudah tidak seharusnya aku mengkhawatirkan apakah
perintahNya akan menjadi penghalang.
Hal ini bukan penghalang memang. Namun pelatih, yang akan melatih bagaimana cara mengasah otakku untuk tetap berkarya dalam
koridorNya. Ya kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar