Minggu, 25 September 2016

Ah Senja!

Rasanya Jadi Talent

Memang suka unik tugas di Fakultasku. Mungkin ini salah satunya, tugas mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yaps, tugas kita adalah membuat video sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.  Kebetulan kelompokku mendapat topik tentang “Hubungan Beda Usia”

Sebenarnya banyak yang ingin kita sampaikan tentang hubungan beda usia ini. Tapi karena ketentuan dari film pendek untuk tugas tidak boleh melebihi batas waktu yang ditentukan, yaitu maksimal lima menit. Yasudahlah, akhirnya kita buat sesingkat mungkin dengan poin-poin yang sudah kita diskusikan.

Kemudian aku dan kelompokku melanjutkan berdiskusi tentang jalan cerita dan tetek bengek dalam film pendek yang akan kita buat. Dan tiba-tiba, salah satu dari anggota kelompok mengusulkan agar aku saja yang menjadi talent perempuanya. Belum sempat menolak, anggota lain juga setuju karena alasan ini dan itu.
Aku sempat ragu dengan usulan itu. Banyak yang membuatku tidak yakin terutama dengan adegan-adegan yang bertolak dengan prinsipku. Di sisi lain, aku juga ingin mencoba hal baru. Meskipun itu bukan bidangku.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya okelah aku setuju tapi dengan satu syarat. Tidak ada pegangan tangan atau saling bersentuhan dalam adegan film pendek ini. Dan mereka pun setuju. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka. Menghargai aku dan prinsipku.

Mungkin terdengar sedikit aneh untuk mereka yang belum tau ilmunya. Tapi untuk aku yang sudah pernah belajar lama tentang ilmu agama. Aku tau hukumnya.

Iya, aku memang tidak sesempurna ‘mereka-mereka’ yang biasa dipanggil ukhti. Aku belum sekuat mereka mempertahankan prinsip. Suka salut dan kadang iri sih, tapi aku mencoba untuk tetap berusaha. Meskipun keadaan iman dan hati ini kadang tidak terduga.

Memang dalam hal lainya aku belum sempurna. Pakaian dan jilbabku misalnya. Tapi untuk yang satu ini, aku benar-benar ingin mempertahankanya. Meminimalisir bersentuhan langsung dengan  lawan jenis yang bukan mahromku.

Iman ini belum sekuat itu ternyata. Untuk meyakinkan hati dan diriku, aku butuh waktu lama untuk berpikir. Dalam lingkungan ini, hal itu tidak semudah dalam zona nyamanku dulu. Belum lagi masa depanku. Menjadi seorang reporter dengan berbagai narasumber. Apa aku bisa?...

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang Ayah. Ayah selalu berharap aku menjadi anak perempuanya yang selalu terjaga.

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang Ibuk. Ibuk selalu berharap aku menjadi putrinya yang baik dengan amalan-amalan surga.

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang seseorang di masa depan. Mereka biasa menyebutnya takdir. Dan kurasa itu cerminankan?

Kemudian Allah menyadarkan. Aku dan masa depanku adalah milikNya. Sudah tidak seharusnya aku mengkhawatirkan apakah perintahNya akan menjadi penghalang.


Hal ini bukan penghalang memang. Namun pelatih, yang akan melatih bagaimana cara mengasah otakku untuk tetap berkarya dalam koridorNya. Ya kan?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar