Rabu, 08 Februari 2017

Senja Cerita

Kali ini aku ingin bercerita tentang dua sahabatku.

Kami bertemu saat duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ketika itu aku memilih sekolah dengan fasilitas asrama di dalamnya. Tentu banyak sekali teman baru yang aku kenal. Tapi entahlah, sepertinya saat itu aku menemukan nyamanku berada di dua orang ini. Yasmina dan nindy. Sebenarnya aku lupa bagaimana detail kami bisa bersama. Terlalu banyak cerita berharga diantara kami. Apalagi dengan aku yang seperti ini, kadang suka melupakan hal-hal yang seharusnya tidak dilupakan. Hehe. Mungkin mereka bisa menjelaskan.

Dulu kami masih cupu, tertawa-tawa salah tingkah saat kali pertama bertemu di salah satu tempat perbelanjaan di Surabaya. Ketika itu, kami memang sudah membuat janji untuk bermain bersama saat liburan tiba. Kebetulan kami bertiga berasal dari kota yang sama. Di asrama pun juga begitu. Teman-teman sudah tau dan bahkan ada yang menamai kami dengan sebutan “amazing friend”. Lucu memang.

Perjalanan kami dimulai dari tahun 2009 hingga saat ini dan nanti-nanti. Kami terus berbagi cerita meski kini terpisah secara jasmani. Aku rasa mereka berdualah yang paling mengerti bagaimana aku setelah keluargaku. Dan kau tau? baru saja aku menghitung, kemudian menyadari bahwa tahun ini adalah tahun kedelapan kami bersama. Ah, ternyata kami sudah tidak semuda itu lagi.

Kami tidak sama antara satu dan yang lain. Yasmina dengan sifat cerianya selalu membuat kami tertawa. Nindy yang bijaksana dengan nasihat-nasihatnya selalu berhasil membuat kami berpikir dewasa. Dan aku yang begitu-begitu saja, tapi mereka masih mau menjadikanku sebagai tempat nyamanya. Bersyukur sekali menjadi aku memiliki mereka berdua sebagai rumah.

Kami juga sering berbagi tentang mimpi. Aku masih ingat sekali, dulu masing-masing dari kami memiliki negara impian untuk dijelajahi. Aku dengan negara sakuraku, Yasmina dengan negara mapplenya, dan nindy dengan negara piramidnya. Oh iya, dan dengan masing-masing cita-cita mulia kami. Dulu aku masih ingin sekali menjadi dokter ketika yasmina me-mimpikan menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin menjadi psikolog handal.

Manusia memang bisa berencana, tapi Allah tetap yang berkuasa. Seiring berjalanya waktu, aku sadar ternyata menjadi seorang dokter bukan keinginanku dari hati. Mungkin orang tuaku. Eh malah yasmina yang kemudian merubah cita-citanya ingin menjadi dokter. Dan kau tau? Kali itu aku yang ingin menjadi seorang duta besar. Dan nindy, dia masih ingin menjadi seorang psikolog handal. Yang ini mimpi masa sekolah menengah atas kami. Tidak berhenti disitu, mimpi kami terus berkembang. Semakin tinggi tingkat yang ku lalui, semakin sadar bahwa passion yang sebenarnya bukan di bidang politik. Bisa apa aku. Hahaha. Mungkin di bidang ‘berbicara’, agar kebawelanku ini ada faedahnya.

Ketika lulus sekolah menegah atas, kami terpisah di tiga perguruan tinggi yang berbeda. Yasmina di ibukota, nindy di kota besar di daerah timur, dan aku di kabupaten kecil saja, di dataran tinggi daerah barat. Tidak masalah kami terpisahkan, kami sudah berjanji untuk mengejar mimpi dulu kemudian kembali suatu saat nanti. Hmm, sebenarnya tidak se dramatisir itu. Ayolah, kami juga memliki media sosial seperti anak keren jaman sekarang.

Tidak hanya bercerita tentang mimpi, tentang ‘doi’ pun pasti. Tentang cinta monyetku jaman sekolah, mereka sudah hafal bahkan luar kepala. Begitupula denganku, hafal sekali kisah cinta monyet yasmina dan nindy. Dari dulu dan mungkin hingga saat ini, jika ada laki-laki yang ingin mendekati salah satu diantara kami, maka wajib sekali untuk mengambil hati dua orang lainya. Karena jika tidak begitu, kisah cinta bisa kandas di tengah-tengah.

Tentang yasmina,
Sahabatku yang satu ini pintarnya luar biasa. Apalagi di bidang matematika. Sepertinya menghitung sambil bermimpi pun bisa. Berkali-kali dia menjadi delegasi sekolah dalam olimpiade matematika. Berkali-kali juga dia meraih peringkat pertama ketika sekolah. Susah sekali mengalahkanya. Sekitar 3 tahun aku merasakan satu kelas bersamanya. Sering sekali kami bersama, tapi ada satu masa dimana kami tidak bersama. Dan itu karena aku. Baru akhir-akhir ini aku menyadarinya, saat kami bertiga bernostalgia bersama. Dulu aku tidak memilih untuk belajar bersama, tapi secara otomatis akan sedikit menjauh dari yasmina di saat musim ujian tiba. Menyendiri dan mencari tempat yang sepi untuk melahap habis materi kisi-kisi. Entahlah, aku juga tidak menyadari. Dan itu terbawa hingga ujian kelulusanku di bangku SMA.

Aku dan yasmina pernah bertengkar. Dulu kami hanya saling diam. Dan lagi-lagi karena aku. Ingin tertawa rasanya jika membaca surat yang diberikan yasmina kepadaku kala itu. Masih ku simpan sangat rapi hingga saat ini. Hanya tidak sanggup saja jika harus membacanya kembali. Hahahaa

Yasmina itu primadona, apalagi di sekolah pria di seberang sana. Yaiyalah, sahabatku yang satu ini tidak hanya pintar. Dia juga cantik dan ceria. Siapa yang tidak jatuh hati padanya? Ditambah lagi dengan kemampuan menghafalnya yang begitu cepat. Diantara kami bertiga, Yasminalah yang paling banyak menghafal kalamNya.

Oh iya, dia juga pernah menjadi model sekolah. Saat pengambilan gambar, kami murid-murid biasa hanya bisa melihatnya dari kaca luar ruangan. Dia sedang berdiri di depan kamera sambil menggerak-gerakan tangan. Menggeser jarinya dari sebuah tablet canggih kemudian mengangkat jarinya ke atas. Seperti mengeluarkan sesuatu dari tablet itu. Entahlah, kami yang melihat dari luar tidak tau pasti apa yang dia lakukan.

Sama sepertiku, Yasmina adalah anggota saman angkatan pertama. Lihai sekali dia dalam menari. Memutar-mutar tanganya bak penari saman professional. Aku yang tidak selihai dia, harus berlatih berkali-kali baru bisa menghafal gerakannya. Tidak hanya saman, kami berdua dan teman-teman yang lain juga sering berkolaborasi di beberapa tarian. Itu dulu. Kini aku sudah pensiun menari. Tapi yasmina tidak. Di cerita-cerita barunya sekarang, yasmina masih menari saman di perguruan tingginya di ibukota.
Dan kini, mimpinya kembali berkembang. Tidak ingin menjadi dokter lagi, karena Allah mengarahkanya di bidang IT. Oh, iya dan juga istri sholihah bagi suaminya nanti. Hehe

Tentang Nindy,
Sahabatku yang satu ini orangnya manis sekali, semanis nasihat-nasihat yang selalu dia berikan kepadaku dan Yasmina. Nindy orangnya paling dewasa diantara kami. Selalu menjadi ibu bagi aku dan Yasmina yang kadang masih kekanak-kanakan. Alhamdulillah, Sabar sekali dia dalam menghadapi kami.
Aku dan Nindy tidak pernah bertengkar. Mungkin karena sifatnya yang dewasa, sehingga lebih memilih untuk mengalah daripada bergabung dengan dua sahabatnya yang bisa ribut hanya karena masalah sushi.

Nindy selalu menjadi teman duduk di dua tahun terakhirku di masa sekolah. Saat itu aku berpisah dengan Yasmina dan menjadi bersama dengan Nindy di satu kelas yang sama. Kelas sosial. Tidak penuh dua tahun juga, karena Nindy sering sekali kutinggal pergi di tempat duduk itu. Aku suka bosan jika terus-terusan berada di tempat yang sama. Dan kadang, aku juga suka jail menarik kursinya ketika dia tidak sedang duduk di tempatnya, kemudian aku satukan dengan kursiku agar aku bisa tidur enak di jam istirahat. Jadilah, Nindy harus duduk di tempat lain hingga menunggu aku bangun dari tidurku. Maafkan aku ya nin. hehee

Nindy ini jago sekali dalam bidang sosial, apalagi sosiologi. Saat itu aku sudah angkat tangan dengan pelajaran ini. Aku lebih memilih ekonomi atau akuntansi sekalian, daripada harus mencari masalah dengan sosiologi. Bahkan nindy pernah menawarkan untuk menyeleseikan tugas proposal sosiologiku karena saking aku tidak sukanya dengan pelajaran ini. Sempat tergiur untuk meng-iyakan, tapi aku mengurungkan niatku itu.

Oh iya nindy itu mellow sekali anaknya. Seringkali aku dan yasmina diberi kata-kata puitis yang begitu manis olehnya. Mungkin Yasmina masih bisa membalas meskipun sedikit. Tapi aku? Ayolah, merangkai puisi saja aku tidak jago. Tidak hanya mellow, Nindy juga perasa. Peka sekali dia dengan rasa. Berbeda dengan aku dan Yasmina yang susah sekali peka. Karena kepekaan Nindy yang bagus ini, teman-teman jadi suka menjadikan nindy untuk tempat berkonsultasi.  Tidak hanya teman satu sekolah. Dari sekolah lain pun ada. Aku tidak habis pikir. Terkenal juga dia.

Dan kini, mimpinya kembali berkembang. Belum di bidang Psikologi, namun Allah menunjukkanya agar memulai dari bidang sosiologi. Katanya sih ingin menjadi Psikososiolog. Dan istri sholihah juga untuk suaminya nanti. Hehee


Sebenarnya masih banyak sekali kalimat yang bisa mendeskripsikan Nindy, Yasmina dan tentang kami. Banyaaak sekali. Tapi nanti kalian bosan membacanya.
Kini, ketika kami harus ‘bertugas’ di tempat yang berbeda, kami selalu mewajibkan hari dimana kita bertiga harus bersama. Biasanya kami memilih saat liburan pergantian semester. Kami namakan hari wajib itu dengan Staycation. Sudah dua kali kami melaksanakanya, karena sudah dua tahun kami berpisah. Staycation pertama kami lakukan dengan piknik ala-ala. Yang kedua kami putuskan untuk menginap bersama, sekaligus melaksanakan misi rahasia.

Ketika aku melihat Nindy dan Yasmina saat ini. Aku menyadari bahwa banyak hal telah kami lakukan bersama. Kami tumbuh dewasa bersama. Dan nanti satu per satu dari kami, akan menemukan kehidupan baru bersama teman hidupnya masing-masing. Nanti, mketika mereka berdua sudah menikah. Aku akan menceritakan kepada suami-suami sahabatku itu, bahwa mereka tidak salah memilih istri yang luar biasa.



 
Kami versi SMP (2012)


 lagi lomba Fashion, udah SMA (2012)


aku jadi penari di acara apa gitu lupa, yasmina mc nya (2013)


Habis fashion tapi cuma aku  (2013)


Alhamdulillah wisuda (2015)


Main di liburan pertama pas kuliah (2016)


Staycation 1 (2016)


Staycation 2 (2017)


Staycation 2 + misi rahasia (2017)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar