Tidak Usah Terburu-Buru, Giliranku Masih Nanti.
“Udah kamu nikah aja”
“Aduh semester empat makin berat nih, jadi pengen langsung nikah”
“Dih tugas makin menjadi-jadi. Tutup buku lah, yuk buka terop.”
Pernyataan-pernyataan yang sudah
tidak asing lagi kan? Ini masih semester empat loh. Baru sekitar delapan bulan
melepas predikat sebagai ‘mahasiswa baru’
Bukan, aku tidak ingin terburu-buru.
Banyak sekali yang harus aku lakukan. Terutama perbaikan kualitas diriku. Aku
belum sehebat teman-temanku yang sudah berani mengambil langkah itu.
Tahap ini pasti akan terlalui. Tapi
entahlah, yang membedakan hanya waktu dan keberanian.
Setahun yang lalu, Rasa kagum muncul
ketika tau bahwa salah satu temanku memutuskan untuk mempercepat proses ini.
Yura. Namanya Yura. Aku salut dengan langkah besar yang Ia pilih. Menikah bukanlah
perkara sederhana, menikah itu suatu hal yang kompleks menurutku. Memulai suatu
kehidupan baru dengan seseorang yang baru yang nantinya akan berkontribusi
untuk masa depan generasi baru. Hmm panjang bukan. Aku salut dengan
keberanianya untuk segera menyempurnakan agama.
Ini bukan iri. Sama sekali tidak,
bahkan belum ada rasa ingin untuk segera menyegerakan. Karena aku tau, aku
belum se siap Yura. Tidak hanya secara mental, fisik, dan material, ilmu pun
aku belum ada.
Karena menikah bukan hanya sekedar
pacaran halal. Tapi hei, dibalik itu ada amanah yang begitu besar. Aku
berbicara tentang generasi. Mau dikemanakan generasi-generasi selanjutnya tanpa
induk yang berkualitas. Kuantitas tanpa kualitas sama saja dengan nol besar.
Hanya akan menambah PR bagi
pemerintah untuk menanggulangi permasalahan bonus demografi di Indonesia.
Jika menikah dijadikan pelarian dari
tugas-tugas kuliah, maka kita justru akan berlari ke arah ‘tugas’ yang bobotnya
berkali-kali lipat lebih berat. Di perkuliahan, melakukan kesalahan bagi
mahasiswa adalah kesempatan untuk perbaikan. Orang-orang akan memaklumi karena
kita masih tahap belajar. Trial and error
menjadi hal yang biasa. Kegagalan dalam mengerjakan tugas dan melakukan
penelitian masih dapat diulang.
Namun, bagaimana jika salah dalam
mendidik anak di masa depan? Bisakah diulang kembali? Entahlah, yang jelas aku
tidak ingin asal dalam mendidik anak-anakku nanti. Mereka berhak terlahir dari
rahim ibu yang cerdas. Mendapat pendidikan kasih sayang melalui madrasatul ula nya. Ah, bagaimana jika
madrasatul ula untuk anak-anakku nanti bertarafkan internasional? Eh tidak,
harus lebih dari itu ku pikir. Bertaraf dunia akhirat. Yap, dan untuk meraih
standarisasi dunia akhirat sepertinya harus banyak yang dipersiapkan.

Jika sudah siap mengambil tugas sebesar itu, seharusnya tugas kecil seperti membuat esai dan artikel bukan lagi perkara sulit dan tidak butuh dikeluhkan. Gatal sekali rasanya, ketika mendengar teman mengeluh ingin menikah cepat saja karena tugas kuliah yang tidak ada habisnya. Seakan menikah itu semudah membeli gorengan di pinggir jalan. Hmm your children need a smart and though mom, girls.
Tapi di lain sisi, aku juga
mengapresiasi teman-temanku yang mengambil langkah ini dengan serius. Memilih
untuk menikah muda dan menyegerakan sunnah. Mendahuluiku dan teman-teman lain
untuk mengambil tugasnya sebagai seorang istri dan ibu. Ah, kalian pasti sudah
mempersiapkan begitu banyak bekal untuk menjadi istri dan ibu yang hebat.
Kapan giliranku?
Nanti. Bekalku masih sedikiti. Sangat
sedikit. Aku tidak ingin menggadaikan masa depan suami dan anak-anakku nanti.
Sehingga aku butuh waktu untuk mempersiapkanya. Dan juga pengabdianku kepada
ayah ibuk dirasa masih jauuuuuh dari kata baik. Aku ingin mengabdi dulu kepada
keduanya, kemudian kepada keluargaku, kepada masyarakat, dan oh iya kepada
mimpi-mimpiku.
Prosesi akad Yura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar