Selasa, 20 September 2016

Termasuk berjuang kan?

Malam Ini Aku Rindu
-Malam basah Jatinangor-

Banyak sekali yang aku pikirkan. Tapi itu tadi. Ketika aku harus menjalankan tugas liputan dan mengikuti beberapa rapat kepanitiaan. Setelah semua itu terlalui, pikiran ini kembali lagi sepi. Kembali lagi memikirkan perasaan. Entahlah. Aku sudah berusaha untuk tenggelam dalam berbagai kesibukan. Tiga kepanitaan dan beberapa organisasi aku ikuti. Bukan. Bukan semata-mata aku ingin menjadi mahasiswa produktif. Itu hanya alasan kesekian. Yang paling utama masih perasaanku. Perasaanku tentangmu adalah alasanku ingin tenggelam dalam kegiatan-kegiatan kampusku. Susah sekali bagiku untuk menerka-nerka hubungan yang sedang kita jalani dan aku lelah berputar-putar dalam tebakan tak berujung ini. Oh iya aku lupa. Kita hanya teman kan. Ah aku memang mengatakanya, tapi aku juga menolaknya.

Pikiranku sering sekali berdialog memastikan bagaimana keadaan hati. Tidak hanya berdialog, berdebat kusir juga kukira.

Terkadang aku berasumsi keadaan seperti ini adalah keadaan yang terbaik untuk kita. Tidak ada kabar. Tidak ada sapaan. Perasaan itu lebih baik aku simpan rapat-rapat. Tapi aku tetap wanita. Aku tetap perempuan normal yang kadang juga bisa merasakan...rindu.

Terkadang aku berasumsi harus menjadi wanita kuat. Wanita yang tidak akan pernah kalah dengan perasaan-perasaan itu. Tapi aku melupakan satu hal. Sebagai manapun kuatnya, kata wanita masih menggandeng asumsiku itu.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau beberapa menit yang lalu aku tidak berhenti tersenyum ketika tidak sengaja aku melihat ada notif darimu di salah satu akun media sosial ku. Seolah alam mendukung rasa rinduku. Dan aku membenarkanya.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau lagi-lagi aku tersenyum ketika melihat foto kita yang sengaja kutempel di dinding kamarku. Jangan salah sangka. Tidak hanya kamu. Itu foto bersama ketika dulu kita berada di suatu acara yang sama.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau sebenarnya aku tidak suka berlarut dalam keadaan seperti ini. Tapi aku mengalah untuk malam ini. Aku memberikan celah kepada rindu untuk memenuhi pikiran ku hanya untuk malam ini. Aku mengalah karena aku memang rindu.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau ketika aku rindu aku hanya membiarkan ia mampir sebentar dan kemudian yasudahlah aku persilahkan yang lain untuk menggantikanya. Ambisi misalnya. Tapi tenanglah, aku masih normal. Aku masih memberikan kesempatan kepada diriku untuk merindumu.

Ada hal yang selalu mengusikku. Saat ini aku memang sedang menaruh hati padamu. Tapi kekhawatiran tentang masa depan membuatku lelah. Aku tidak tau bagaimana nanti. Apakah kita akan dipersatukan atau kita hanya akan menjadi sejarah. Terkadang aku berpikir kamu terlalu baik bagiku. Namun sisi lain pikiranku berharap dengan segala hal baik yang ada padamu bisa menjadikanku sebaik dirimu. Kamu dan segala mimpimu. Entahlah, kadang aku juga berharap itu bisa bersatu dengan mimpi-mimpiku.

Menyatukan mimpiku dan mimpimu. Hmm sepertinya terdengar bagus. Mungkin akan menjadi tambahan mimpiku yang aku semogakan.

Ketika aku bermimpi, aku meyakininya. Tapi sebagai manusia aku juga menyadari bahwa mimpi-mimpi yang sudah aku jajar termasuk menyatukan mimpi kita memiliki peluang 50% ya dan 50% tidak. Dan seperti kebiasaanku, aku akan selalu menyiapkan dua hati untuk dua kemungkinan. Itulah alasan mengapa aku tidak ingin membiarkan rindu ini menetap terlalu lama.

Hai kau rindu. Datang dan menetaplah 6 jam saja. Jangan lebih. Untuk besok dan selanjutnya mungkin kedatanganmu akan terdominasi dengan kesibukan yang sudah kurencanakan untuk menghindarimu. 







1 komentar: