Jumat, 26 Agustus 2016

Meet a stranger


Pelajaran dari Gerbong Mutiara Selatan



Dari setiap perjalanan selalu ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran.

Kereta Mutiara Selatan. Perjalanan Surabaya-Bandung. 26/08/2016. 0.23 am

Entahlah sejak kapan aku mulai menyukai belajar. Belajar dari berbagai hal, pengalaman, perjalanan, kisah orang. Apapun itu. Sebagaimana sekarang. Beberapa menit yang lalu duduk seorang Bapak yang hmm aku baru sadar belum mengenal namanya hingga beliau pamit turun di stasiun Yogyakarta. Selama dua setengah jam pertamaku duduk di kereta ini, aku menghabiskan waktu berdiskusi banyak hal dengan beliau. Berbincang dengan Bapak setengah baya yang mungkin berumur 39 atau 40 tahunan itu membuatku semakin menikmati perjalanan panjang ini. Banyak hal menjadi topik perbincangan kami mulai dari keluarga, politik, bisnis, perjalanan beliau di berbagai negara dan bahkan aku sempat diberinya kontak salah satu bagian penting di Bukalapak. Ah terimakasih pak.

Perjalananya dimulai ketika beliau kuliah. Saat itu sekitar tahun 1993 kurang lebih, beliau mendaftar di salah satu universitas negri terbaik di negri ini. Lolos. Namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya baliau terpaksa melepas mimpinya untuk kuliah di tempat tersebut. Tidak berhenti disitu, Ia tetap berusaha untuk mendaftar salah satu universitas di kotanya. Memang tidak sebaik universitas yang pertama. Tak apalah, yang penting bisa kuliah pikirnya saat itu. Lolos untuk kedua kalinya, kali ini orang tuanya yang hanya seorang kuli di salah satu perusahaan swasta menyanggupi biaya kuliahnya yang tidak begitu besar. Dengan syarat lainya, yaitu tanpa uang jajan termasuk ongkos transport pulang-pergi. Okelah, deal!.

Tanpa uang jajan dan transport selama 4 tahun bukan penghalang bagi beliau. Tidak hilang akal, Ia selalu berusaha mencari peluang. Ketika itu beliau mencoba bekerja di salah satu toko  DVD dengan gaji Rp75.000 per bulan.“Ya saya nebeng aja ke temen-temen yang satu kampus sama saya. Kalo mereka ga ke kampus yaa saya juga ga ke kampus. Bisa-bisa  semingggu aja habis gaji saya kalo berangkat sendiri”, kata beliau ketika aku bertanya bagaimana caranya ke kampus yang memang tidak dekat dari rumahnya itu. Jangankan sepeda motor, sepeda saja tidak ada. Sejak saat itu, memiliki sepeda motor sendiri masuk ke salah satu cita-cita besarnya.

Empat tahun di jurusan teknik sipil beliau seleseikan dengan hasil yang memuaskan. Mencoba berbagai peruntungan dengan mengikuti beberapa proyek, akhirnya beliau diterima menjadi karyawan disalah satu perusahaan di Semarang dengan gaji Rp750.000 per bulan. Gaji pertamanya Ia gunakan untuk membeli motor secara kredit sebesar Rp400.000, sisanya Ia berikan kepada orang tuanya. Salah satu mimpinya tercentang. Motor bebek Supra-X, adalah kendaraan pribadi pertamanya. Bangga? Pasti. Siapa yang tidak bangga memiliki barang dengan usaha sendiri.

Setelah setengah tahun bekerja di Semarang, beliau mendapat tawaran dari temanya untuk bekerja di Ibu Kota. Habis untuk kredit motor dan biaya sehari-hari, gajinya tidak bersisa untuk biaya ke Jakarta. Nekat dan yakin Ia memiliki nasib yang lebih baik di Jakarta, Ia beranikan untuk meminjam perhiasan adik perempuanya untuk digadaikan. Hanya Rp110.000 yang Ia dapat dari hasil pegadaian perhiasan itu. Tidak usah ditanya cukup atau tidak untuk biaya hidup di Jakarta, sudah jelas sekali nominal se-tidak besar itu tidak ada apa-apanya di Ibu Kota. Lagi-lagi karena nekat, Ia beranikan untuk tetap berangkat. Beliau berangkat dari rumah orang tuanya. Biaya transport Purwokerto-Jakarta Rp60.000 saat itu.  Sisanya habis untuk makan tiga kali di Jakarta.

Hidup di Jakarta ternyata tidak semudah harapan beliau. Modalnya habis di hari pertama, sedangkan pekerjaan pasti belum ada yang memanggilnya. Satu bulan menjadi parasit teman adalah satu-satunya pilihan agar bisa bertahan hidup di sana. Lagi-lagi, Ia harus bekerja serabutan mengikuti proyek sana-sini hingga akhirnya ada orang baik merekrutnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, beliau menunjukan kualitas diri dan keprofesinalitasan kerja yang baik. Dari situlah karier beliau mulai berkembang. Mendapat kepercayaan untuk memimpin banyak proyek di Indonesia.

“Dulu itu saya nda pernah bermimpi bisa naik pesawat. Terlalu tinggi kayanya. Alhamdulillah sekarang sudah sampe bosan naik pesawat. Ini makanya saya milih kereta aja. Kehidupan memang seperti roda, ada saatnya kita berada di bawah dan ada saatnya kita berada di atas. Dulu ketika masa kuliahnya, bisa dibilang beliau termasuk golongan kurang mampu di angkatanya. Namun sekarang, beliau termasuk golongan yang bisa dianggap sukses di angkatanya. Sudah berbagai kota di Indonesia beliau tapaki, tidak jarang juga negara-negara tetangga hingga korea dan cina.

Yah begitulah kurang lebih obrolan dua jam setengah kami jika dirangkum ke dalam sebuah cerita singkat. Selalu ada pelajaran. Kali ini, aku seperti lebih diyakinkan bahwa kesuksesan tidak semerta-merta ada secara instan. Cerita perjuangan Ayah, perjuangan Pak Habibie, perjuangan Pak Chairul Tanjung, perjuangan Om Yudha, perjuangan Pak Imron, Perjuangan-perjuangan hebat lainya, ah banyak sekali. Dari banyak cerita perjuangan yang sudah kudengar, aku jadi seperti ingin membuat cerita perjuangan dalam versiku. Cerita perjuanganku yang nanti akan aku ceritakan ke anak-cucu. Atau bahkan cerita perjuanganku yang tidak akan habis dimakan waktu.

Itulah mengapa aku selalu lebih memilih kereta daripada lainya. Karena di kereta aku selalu menemukan orang-orang baru dengan pelajaran-pelajaran baru. Oh iya, tanpa harus aku tau siapa namanya. Dalam hidup kita kadang memang dihadirkan orang-orang yang muncul hanya sekilas untuk kita ambil banyak pelajaran darinya.

Hmm.. AC gerbong kereta ini semakin terasa dingin dan sepertinya lebih baik aku juga ikut terlelap seperti penumpang lainya.  

Terimakasih pelajaran untuk malam ini pak.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar