Kamis, 17 November 2016

Curhat yak


Yeay! Meet Him.

Langit Jatinangor terlihat begitu sesak dengan awan-awan gelapnya. Aku memandang dari kejauhan dengan kesendirian makan siangku. Tunggu. Bukan makan siang kurasa, ini makan pertamaku di hari ini. Kemudian aku melihat jam. Oh benar, ternyata ini makan siang. Jam di tangan kiri ku menunjukkan pukul 14.33. Makan siang? Ah sudahlah tidak perlu didebatkan kukira. Aku kembali memandang langit. Masih gelap dan sepertinya tidak akan bersahabat.  Kembali aku melanjutkan kesendirianku dengan semangkuk sup iga yang baru saja datang menemani.

Kepulan asap dari mangkuk sup iga tidak berhasil mengalihkan pikiranku. Pikiran yang tidak habis pikir saja bahwa beberapa jam yang lalu aku baru saja bertemu dengan salah satu idola hidupku. Seseorang yang mampu memberi dampak begitu besar bagi opsi masa depanku. Gila! Bahkan dengan embel-embel reporter, aku bisa bercakap denganya. Menyampaikan rasa terimakasih yang selama ini hanya ku kira angan semata. Mengabadikan momen itu dengan lensa lusuhku. Berharga sekali bukan?.

Sejenak aku mencicip kuah sup iga yang entah mengapa asapnya masih saja mengepul mengejek kesendirianku. Biarlah, tinggal menunggu waktu saja dan akan kuhabisi kau hai sup iga. aku memilih tersenyum tidak peduli. Pikiranku masih tidak percaya dengan kejadian tadi. Ada rasa bangga terselip, ketika aku mengingat bagaimana mula aku bisa menjadikanya sebagai sosok idola. Pikiran ini melayang kembali mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Ketika salah seorang teman satu pesantren meminjamiku sebuah buku fiksi dengan 432 halamanya. Hei, saat itu aku masih seorang bocah kelas 1 SMP. Entahlah, tapi buku tebal dengan judul “Negeri 5 Menara”  itu bagai memiliki kekuatan magis yang menyihir. Sebuah candu yang menuntutku agar membacanya sampai habis. Ku pikir itu buku tebal pertama yang berhasil ku lalap habis. Dan dampak yang kuterima setelah membaca buku itu begitu luar biasa dalam hidupku. Tidak hanya ketika aku menyeleseikan bab demi babnya, namun hingga saat ini. Ketika tujuh tahun berlalu dari momen itu. Dan mungkin hingga nanti-nanti.

Alif Fikri, seorang tokoh utama dalam buku itu dengan kisah perjalanan hidup yang begitu hebat, memberikanku satu sentilan agar aku membuka mata. Sentilan yang berhasil mengubah pola pikir untuk mengembangkan kepakan mimpiku agar ia dapat menjangkau yang lebih tinggi. Sentilan yang juga aku jadikan sebagai sebuah panutan masa depan. Bahkan, aku bagai ingin memiliki cerita hidup yang sama denganya. Aku merasa mimpi-mimpi Alif juga sepertinya cocok untukku. Kemudian aku mulai merancang banyak hal terkait mimpi. Sama seperti yang dilakukan Alif dalam buku itu. Aku mulai tertarik dan mencari tau banyak hal tentang masa depan, beasiswa, luar negri. Ya, Sama seperti yang dilakukan Alif.

 Pola pikir yang terpengaruh kisah Alif ternyata juga berdampak pada karakterku. Aku ingat, saat itu aku berada di kelas 1 SMA. Ketika itu giat sekali aku mencari informasi beasiswa sejak SMP, sampai akhirnya aku mendapat satu informasi tentang beasiswa pertukaran pelajar yang dikhususkan bagi anak-anak SMA. Beasiswa Bina Antar Budaya yang bekerja sama dengan beberapa lembaga pertukaran di luar negri seperti YES, AFS, dan lainya. Senang sekali rasanya. Semangat pun bertambah berkali lipat. Bagaimanapun caranya, aku harus mengusahakan agar sekolah dapat mengundang lembaga itu setidaknya untuk sosialisasi terkait seperti apa teknisnya.

Jangan bayangkan mengundang lembaga Bina Antarbudaya semudah membalikkan telapak tangan. Sekolahku bukan sekolah biasa. SMA asrama swasta berbasis Islam dengan seluruh murid perempuan dan peraturan-peraturan ketatnya. Jangankan bermedia sosial ria, penggunaan telefon genggam saja begitu terbatas. Susah sekali mencari informasi sendiri tentang bagaimana cara mengundang mereka. Saat itu aku harus membujuk sedemikian rupa agar perijinan dapat turun dari bagian direktorat sekolah, hingga ada salah satu guru yang menyetujui usulku. Hanya satu, yang lainya entahlah aku tidak tau. Satu guru ini mendukung usulku dan bersedia membantu mendatangkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Yap, dengan proses yang panjang dan persetujuan sana-sini. Akhirnya beberapa perwakilan dari Bina Antar Budaya datang ke sekolah, memaparkan sedikit banyak tentang beasiswa pertukaran pelajar.

Tidak berhenti disitu, setelah berhasil menghadirkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Aku dan sekitar 19 orang lain dari sekolah mendaftar beasiswa pertukaran budaya. Lagi-lagi penuh perjuangan. Pengisian data pendaftaran yang begitu banyak harus dilakukan melalui internet, sedangkan peraturan sekolah tidak membebaskan penggunaan internet bagi setiap muridnya. Dengan lobi dan bantuan satu guru tadi, akhirnya aku mendapat tiga jatah password internet yang harus dibagi kepada sembilan belas orang temanku. Jadilah kami harus pintar-pintar membagi waktu untuk memasukkan data yang tidak sedikit. Selain itu, aku juga harus mempersiapkan seleksi tahap satu yang kabarnya akan mengujikan pengetahuan umum. Buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) menjadi sahabatku kala itu. Dimana ada aku, RPUL pun tak tertinggal.

Dari dua puluh orang yang daftar dari sekolahku, ada empat orang yang lolos menuju seleksi tahap kedua. Dan salah satunya adalah aku. Bersyukur sekali saat itu, tapi perjuangan masih panjang sekali pikirku. Di seleksi tahap kedua, ada dua orang yang lolos dari sekolahku. Dan salah satunya adalah aku. Kali ini, aku tidak boleh cepat puas masih banyak tahap-tahap lain di depan. Di seleksi tahap ketiga, hanya ada satu orang yang lolos dari sekolahku. Dan itu aku. Iya, seharusnya mungkin sekarang aku sudah memiliki pengalaman pertukaran pelajar. Namun, tidak. Takdir berkata lain sepertinya. Tuhan berkata Tunggu dulu, sekarang bukan saatnya. Saat itu, ketika seharusnya aku mengikuti seleksi nasional tahap terakhir, tiba-tiba sekolah mengadakan rapat dengan orang tuaku yang langsung dipimpin oleh presiden direktur sekolah. Sebegitu penting ternyata. Dan dengan berbagai pertimbangan, sekolah dan orang tuaku akhirnya tidak memberikan ijin untuk melanjutkan proses seleksi. Dengan berlapang dada dan percaya akan kejutaNya, maka aku relakan kesempatan ini.

Tidak hanya itu, dalam buku tebal tadi Alif dikisahkan bahwa Ia menempuh pendidikanya di salah satu universitas besar di Indonesia. Universitas Padjajaran. Ah, hal ini juga sangat mempengaruhiku. Menginspirasi untuk menantang diri menjadikan Unpad sebagai target utama tempat melanjutkan pendidikanku. Aku yang hanya seorang murid SMA di bawah bukit banyak, di salah satu desa kecil di kota Batu Jawa timur resmi menjadi mahasiswi Unpad pada Juli 2015. Ya tentu, lagi-lagi melalui perjuangan.

Terimakasih Alif, terimakasih. Kisah panjangmu dalam buku tebal yang sangat candu bagiku tujuh tahun lalu, membawa dampak positif begitu besar dalam hidupku. Semangat mu adalah pelatuk semangat diriku. Tidak hanya kemarin dan sekarang, tapi juga nanti. Semangat yang akan menjadi jariyah. Semangat yang akan terus mengalir.

 Dan idola yang beberapa jam lalu baru saja aku temui adalah lakon dibalik kisah Alif. Alif adalah representasinya. Kisah hidup Alif adalah representasi kisah hidupnya. Sang penulis dengan hidup yang tidak sederhana. Boleh aku menyebutnya dengan hidup yang hebat, hidup yang kuat, luas, besar, dan bermanfaat?. Ah terimakasih Uda Ahmad Fuadi atas kisah hidupmu, kau lihai sekali membungkus sedemikian cantik hingga aku terbawa arus positifnya.

Aku tersenyum lagi, menyadari sup iga yang sudah mulai dingin dan awan Jatinangor semakin menjadi, segera aku menghabiskan sisa-sisa iga dan bersiap melakukan perjalanan 31.9 KM menuju Jatinangor dengan motor matic berplat W ku. Dan tentu, aku harus menghadapi gerombolan awan hitam itu sendiri.

 
Interview

Interview untuk radio mahasiswa unpad


Makasih thara, udah nemenin interview
Uda Ahmad Fuadi dan Aku



Kamis, 17 November 2016
Sepulang dari liputan acara Scholarship Expo 2016 di Unpad Dipati Ukur


Sabtu, 08 Oktober 2016

Senja beropini

CANTIK ITU LUKA


Sadar atau tidak kecantikan yang menjadi acuan saat ini telah sedemikian rupa diolah oleh media. Kekuatan media memang benar-benar super. Meskipun aku tidak setuju, kadang tanpa aku sadari aku juga mulai terpengaruh denganya.


“Semua yang cantik itu harus tinggi, semampai, berkulit  putih, berambut lurus, dengan bulu mata lentik dan lain sebagainya.”


Ah ayolah, tolong itu bukan fakta. Itu hanya sekedar opini dan aku seribu persen tidak setuju dengan opini itu.


Sedih sekali rasanya ketika melihat perempuan berbondong-bondong sibuk sendiri merubah kecantikan alami yang ada pada dirinya menjadi kecantikan opini media.Tidak sadarkah? Kita kaum wanita bagai sedang terjajah dengan standar kecantikan buatan mereka. Belum lagi dengan ramainya pemoles wajah yang katanya bisa merubah sedemikian rupa. Merubah sesuai dengan standar buatan yang sedang ramai dielu-elu kan. Standar yang didukung dengan berbagai iklan produk kecantikan, acara fashion, penggambaran kehidupan para bintang dan program-program kecantikan lainya. Standar kecantikan yang menurutku tidak realistis. Bagaimana tidak? Standar itu dibuat bertolak belakang dengan kecantikan alami kita sebagai wanita.


Di Indonesia mayoritas penduduknya berkulit sawo matang, tapi lihatlah produk pemutih paling banyak digunakan.


Di negara-negara barat mayoritas penduduknya berkulit putih, tapi lihatlah tanning (mencokelatkan kulit) paling banyak dicari.


Tidak hanya pola pikir kita yang mulai terkonstruksi oleh media, keadaan pun mau tidak mau menjadi terpedaya. Bayangkan saja, kini hampir semua ranah menjadikan kecantikan fisik wanita yang terstandar sebagai urgensi pemasaran. Banyak orang yang terkadang lebih menghargai seseorang karena melihat kecantikan fisiknya. Bukan dari isi kepala dan hatinya.


Ah terlalu luas ya?


Oke kembali ke fenomena keseharian. Melihat banyak perempuan berlalu-lalang di kampus, apalagi mereka-mereka yang mendapat label sebagai ‘cewe hits’ aku mulai menyadari suatu hal. Hei, Ternyata mereka semua sama. Aku tidak tau apakah ada suatu standar untuk menjadi seseorang dengan label itu? Atau entahlah.. yang aku lihat mereka juga memiliki kesamaan dengan representasi perempuan di media.


Di lain cerita, beberapa teman pernah mengeluhkan keadaan fisiknya. Merasa tidak cantik dengan apa yang ada pada dirinya. Merasa masih banyak yang harus disempurnakan dalam konteks fisiknya. Merasa tidak percaya diri dan harus selalu menggunakan pemoles wajah yang tidak murah harganya. Merasa kurang eksistensi dan pengakuan dari lingkungan terhadap dirinya. Merasa tidak popular karena tidak sesuai standar bayangan bentukan media.


 Oh perempuan-perempuanku, tidakkah menjadi seperti itu akan lebih melukai hatimu?
Hati kecil dan seluruh sistem pada dirimu akan kecewa dengan keluhan itu. Karena mereka juga butuh pengakuan kan? Jiwa dan raga kita adalah suatu kesatuan yang Allah ciptakan dengan misi kebaikan. Saling bekerjasama lah. Jangan malah saling menjelekkan bagian ini dan itu.


Pemikiran seperti itu akan menjadikan kita semakin jauh dengan Sang Pencipta. Kau tau kan? Allah telah menciptakan masing-masing dari kita dengan kesempurnaan. Itu sudah baik. Bahkan sangat baik. Kita cantik dengan kita apa adanya. Jika tidak merasa cantik, yang perlu diubah adalah pola pikir kita. Bukan fisik atau bahkan malah menjadi orang lain.


Menemukan definisi cantik yang sebenarnya bagi diri kita itu sangat penting. Bagai pedoman bagaimana kita akan bersikap dalam keseharian. Ada pernyataan  Cantik itu berasal dari hati. Hmm klise bukan? Jika tadi seribu persen aku tidak setuju dengan definisi cantik di media, maka kali  ini aku seribu persen setuju dengan pernyataan sederhana ini. Ayolah siapa yang butuh seseorang yang cantik dengan fisiknya namun tidak dengan hatinya? Coba lihat seseorang yang selalu ada ketika kita sedang membutuhkan. Perhatikan dia lamat-lamat, meskipun tidak secantik standar media bisa jadi hatimu akan berkata “Iya ya, ternyata dia ini cantik”.


Oh perempuan-perempuanku jangan mau fisik kalian menjadi acuan definisi cantik bagi lingkungan. Kembalikan kepada hati, karena Ia akan lebih bijak menjadikan kita cantik dalam berfikir dan berkepribadian.


Jika diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dengan jumlah banyak, mintalah untuk diberi banyak rasa syukur. Karena menjadi seseorang dengan hati besar yang pandai bersyukur tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya bersyukur dengan kecantikan alami kita sebagai wanita hmm tidak semudah ituloh, tapi bisa kan? Dan disisi lain, Aku setuju dengan adanya perawatan. Perawatan bukan berarti perubahan. Karena perawatan merupakan suatu cara menghargai diri kita. Bentuk rasa syukur kan?


Oh iya untuk kaum Adam, jangan terpedaya juga dengan objektifitas kecantikan media. Sebagai calon pemimpin rumah tangga, berfikirlah lebih visioner. Jangan melihat calon ibu dari anak-anakmu nanti dari kecantikan fisiknya. Lihatlah dari hati dan pola pikirnya. Percaya padaku, Karena suatu saat nanti ketika kamu berada dalam keadaan jatuh, yang kamu butuhkan adalah seseorang dengan hati yang kuat dan pola pikir yang selalu baik.



Sekali lagi, kita cantik kok. Berbuat baik, tersenyum, dan percaya dirilah.



Senin, 03 Oktober 2016

Yak, Opini coy

DKI Jakarta Butuh Pemimpin Berakhlak


Mengawali karier menjadi seorang pebisnis yang kemudian terjun kedalam dunia politik, Ahok dikenal sebagai politikus yang bersih dalam bertugas. Perjalanan politiknya dimulai sejak tahun 2003, ketika itu beliau bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru dan setahun kemudian Ahok pun terpilih menjadi anggota DPRD kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Tidak berhenti disitu, pada tahun 2005 Ahok terpilih menjadi bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Berkat kesuksesan dalam memimpin Belitung Timur, banyak masyarakat yang mendorong Ahok untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur Belitung pada tahun 2007. Namun, beliau gagal menjadi Gubernur dalam pemilihan gubernur saat itu.


Ahok juga pernah menjabat sebagai anggota DPR komisi II pada tahun 2009. Saat duduk di kursi legeslatif beliau sempat menerapkan standard baru bagi anggota DPR dalam anti-korupsi, transparansi, dan profesionalisme. Hingga pada 2012, pasangan Jokowi-Ahok terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Perjalananya menjadi seorang wakil gubernur bisa dibilang hanya seumur jagung. Pada November 2014, Presiden Jokowi resmi melantik Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikanya yang juga resmi menjadi Presiden Indonesia.


Kini tercatat sudah sekitar dua tahun Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta, banyak hal  yang menjadi sorotan publik mulai dari kebijakan hingga cara kepemimpinan. Tentu setiap masa kepemimpinan seseorang  masing-masing pasti memiliki sisi positif dan sisi negatifnya. Sebagaimana kinerja Ahok selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Banyak kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan oleh Ahok yang tidak jarang menjadi hal yang kontroversial dalam realisasinya. Diantaranya adalah program relokasi kampung kumuh di tanah milik publik seperti Kalijodo, Luar Batang, Rawajati, Kampung Pulo, dan Bukit Duri.


Program relokasi  merupakan program yang solutif untuk perbaikan Jakarta, sudah seharusnya hal ini diberlakukan. Tidak hanya demi kepentingan daerah, tapi juga kepentingan  seluruh masyarakat Jakarta. Mungkin kebijakan ini dianggap sebagai kebijakan yang menindas rakyat kecil karena dengan semena-mena menggusur tempat tinggal mereka. Namun, jika tidak segera direlokasi maka akan menjadi semakin serba salah. Sebab bila kawasan kumuh tidak segera ditertibkan, maka masalah banjir tidak akan terseleseikan. Hal ini akan berdampak kepada seluruh daerah di Jakarta. Selain itu, berdirinya kawasan kumuh juga telah melanggar peraturan daerah sehingga tidak boleh terus menerus dibiarkan.


Kebijakan yang diusung Ahok ini tidak semata-mata ingin menyingkirkan masyarakat kecil di Jakarta. Namun untuk mengembalikan fungsi suatu wilayah sesuai dengan keberadaanya. Sebagai Gubernur pencetus kebijakan ini Ahok tidak sekedar merelokasi, tapi juga memberikan ganti kepada masyarakat yang tempat tinggalnya telah direlokasi dengan ribuan rusun yang jauh lebih layak huni sebagai tempat tinggal baru mereka. Fasilitas-fasilitas tambahan pun juga diberikan seperti layanan kesehatan yang siap siaga selama 24 jam, kemudahan penggunaan transportasi umum dan lain sebagainya.


Disisi lain, masih banyak warga yang belum bisa menerima kebijakan ini meskipun telah diberi penjelasan sedemikian rupa dari pemerintah. Hal ini merupakan suatu celah yang dapat membuktikan bahwa pemerintahan Ahok masih belum memiliki komunikasi yang baik untuk menyosialisasikan kebijakan-kebijakanya. Karena masyarakat Jakarta terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, maka cara berkomunikasi yang digunakan kepada masyarakat pun tidak bisa sama dipukul rata dan  perlu adanya strategi-strategi komunikasi yang sesuai agar masyarakat dapat mengerti dan akhirnya menerima kebijakan-kebijakan tersebut.


Selama menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Ahok dikenal sebagai pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan tempramental. Memang beliau adalah pemimpin yang tegas, namun cara berkomunikasi yang salah menjadikan banyak warga belum bisa menerima  kebijakan yang Ia terapkan. Gaya kepemimpinan yang begitu emosional bahkan tidak segan untuk meledak-ledakkan amarahnya di depan banyak orang, memunculkan asumsi dikalangan masyarakat bahwa Ahok adalah pemimpin yang tidak bisa menahan emosinya. Sedangkan seorang pemimpin yang bijaksana adalah yang mampu menempatkan emosi seusai pada tempatnya. Ahok dianggap kurang dalam Kemampuan mengendalikan dirinya. Sehingga arus komunikasi ke bawah tidak berjalan dengan efektif.


Tidak hanya emosi yang dapat terpancing dengan mudah, bahkan kata-kata kasar yang seharusnya tidak keluar dari mulut orang-orang berpendidikan tidak segan Ahok lontarkan. Tidak ada rasa enggan untuk menahan, didepan publik pun Ia keluarkan. Kritik sana-sini sudah kerap Ahok terima, namun Ia tetap bersikeras mempertahankan karakternya.


Kepada masyarakat  biasa pun Ahok juga bersikap sama, bukankah hal ini merupakan kecacatan komunikasi vertikal jika dilakukan oleh seorang pemimpin kepada masyarakat yang dipimpinya? Komunikasi politik akan berjalan tidak semestinya. Rakyat akan lebih cenderung merasa takut dan tertekan kepada pemimpin daripada merasa segan dan menghormatinya. Ini dapat dikatakan sebagai kemunduran keadaan sosial masyarakat terhadap pemerintah. Memang benar Ahok bersih dan tidak sekedar umbar janji. Namun, apakah tidak bisa memberikan kepemimpinan yang bisa membuat semua warga merasa lebih nyaman.


Seorang pemimpin boleh memiliki sikap tegas, namun Ia tidak seharusnya menunjukkan bagaimana kerasnya Ia di depan umum. Tegas tidak identik dengan perkataan kasar kan? Dewasa ini, DKI Jakarta dengan segala kekompleksanya memang membutuhkan pemimpin yang tegas. Beragamnya latar belakang masyarakatnya memang menjadikan ‘PR’ tersendiri bagi pemimpinya. Tidak hanya pemimpin yang tegas, DKI Jakarta juga membutuhkan pemimpin yang berakhlaq. Tidak bisakah Ahok memperbaiki karakter demi rakyatnya? Bukankah akan lebih sempurna jika Jakarta dipimpin dengan ketegasan Ahok  dan tambahan-tambahan akhlaq baiknya? Masyarakat tidak menantang, hanya menyindir bahwa masyarakat sedang dalam keadaan krisis pemimpin yang berakhlak sebagai role model hidupnya.


Minggu, 25 September 2016

Quote of The Day


Ah Senja!

Menjadi Bermanfaat

Lagi-lagi pikiranku berdebat sendiri.

“Tidak. Tenang, Aku tidak seapatis itu. Aku tidak seegois itu. Toh nanti aku akan menjadi seorang yang berguna untuk negri. Toh nanti aku akan berkontribusi. Nanti aku akan.. Nanti.. Nanti..”

“Jangan nanti. Hei, lihatlah waktuku akan terbuang sia. Aku mahasiswa. Aku harus tau diri. Keberadaanku harus berdampak baik. Bukan main, menjadi bermanfaat di tempatku tinggal adalah sebuah keharusan kan!”

Sedikit dari topik perdebatan isi kepalaku. Itu hanya secuplik yang menyadarkan. Menjadi titik balik sekaligus menyalakan kembali percikan kepedulian terhadap ibu pertiwi.

Pernah berada di ujung kegelisahan tentang apa guna sebagai mahasiswa? Hmm itulah yang aku rasakan semester lalu. Saat itu mengasah skill untuk masa depan menjadi prioritas utamaku. Organisasi ini dan itu aku ikuti. Tapi tidak satupun yang berbau kontribusi untuk negri. Egois memang. Hingga gelisah itu datang secara perlahan. Mengetuk lembut nurani batinku.

Dulu sebelumnya, memang pernah aku bergabung dengan salah satu organisasi yang ‘katanya’ akan bergerak dalam bidang pendidikan di Indonesia. Tapi entahlah, kabarnya jadi semakin tidak jelas sekarang. Pernah juga aku dan beberapa teman mencoba untuk membuat organisasi sosial yang juga bergerak dalam pendidikan. Tapi entahlah, satu persatu dari kami menghilang dalam kesibukan. Termasuk aku.

Iya saat itu. Kemudian rasa kepedulian itu hampir hilang, tersamarkan oleh ambisi pribadi.

Selama satu semester lamanya aku berkutat dengan prioritas utamaku. Hasil sempurna pun aku dapatkan sebagai upah dari itu. Aku senang. Aku bersyukur. Tapi di sisi lain aku merasa bersalah. Ketika melihat sekitar aku merasa sedih. Dengan adanya aku dan hasil baik yang telah ku raih masih belum bisa memberi arti kepada lingkungan ini. Lingkungan yang dijuluki sebagai daerah pendidikan bukan karena kualitas. Tapi karena kuantitas kampus yang didirikan besar-besar di dalamnya.

Beranjak ke semester baru, kegelisahan semakin menjadi. Apa yang bisa aku lakukan untuk berkontribusi? Ah Pertanyaan ini benar-benar mengusik. Sampai akhirnya, ada seorang teman datang kepadaku.  Membawa kabar tentang JEC. Jatinangor Education Care. Dan disitulah aku mulai merealisasikan kegelisahanku.

Dengan beberapa proses formalitas, akhirnya aku bisa bergabung dengan mereka. Yeay! Menjadi bagian dari mereka adalah kebahagiaan. Bagaimana tidak, aku memiliki keluarga baru sekarang. Keluarga dengan pemikiran luar biasa. Keluarga dengan jiwa-jiwa yang mulia. Kami tidak terikat. Juga tidak ada paksaan.
Organisasi ini adalah ..

Sebuah lembaga independen yang peduli dan bergerak di bidang pendidikan. JEC hadir untuk memfasilitasi anak-anak muda di Jatinangor sebagai bagian dari masyarakat, untuk dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat Jatinangor serta Indonesia dalam skala yang lebih luas. Dan memiliki tujuan untuk menjalankan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang memiliki pengetahuan dan kapasitas lebih dalam membantu mencerdaskan kehidupan bangsa.


Begitu kurang lebih.


Disini aku memilih untuk menjadi pengajar Al-Qur’an dengan 17 orang lainya. Ada pilihan lain sebenarnya, ada bahasa inggris dan juga seni. Semuanya penting ku pikir. Tapi Qur’an adalah dasar. Selain itu, Ayah dan Ibuk selalu mengusulkan agar aku mengisi waktu luangku menjadi guru ngaji. Mengamalkan apa yang sudah aku pelajari. Oh iya, ada satu lagi yang menjadi motivasiku memilih bidang ini 

 خَيْرُكُم مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ  

Yaps, dalam hadits riwayat Imam Bukhari ini disebutkan bahwa “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya.”

Sudah terhitung lima kali aku mengajar. Bahagia sekali rasanya. Memang bukan di tempat yang besar. Hanya di Musholla kecil dan sederhana di daerah Cincin. Tapi kebahagiaan tidak melulu hadir dari hal-hal yang besar kan? Di sini aku merasakan bagaimana senangnya saat kehadiranku selalu diharapkan oleh murid-muridku. Bagaimana mereka selalu berlari dan memelukku demi menyambut kedatanganku. Ah belum lagi ketika aku tidak bisa hadir karena ada kewajiban yang lain, mereka pasti akan mencari dan menanyakan kabarku kepada pengajar yang lain.


Seberapapun lelahnya, akan aku usahakan untuk bertemu mereka. Toh, lelahku akan hilang dengan semangat mereka. Melihat mereka antusias berbaris mengantri untuk aku simak bacaanya, sepertinya lelahku akan tau diri untuk tidak datang di waktu yang salah. Karena di sisi lain hatiku berharap kelak ketika mereka menjadi manusia-manusia hebat untuk agama dan negri, disitu ada sedikit campur tanganku ini.


Setelah ngaji bareng

Pengajar Qur'an, tapi ga lengkap nih


Mega, Agung, Fani, Fajar, Sandi, sama satu lagi ga jelas hehe

JEC angkatan 2016-2017 : Pemuda-pemudi hebatku ! 


Sumber definisi JEC : https://jatinangoreducationcare.wordpress.com/ 



Ah Senja!

Rasanya Jadi Talent

Memang suka unik tugas di Fakultasku. Mungkin ini salah satunya, tugas mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yaps, tugas kita adalah membuat video sesuai dengan topik yang sudah ditentukan.  Kebetulan kelompokku mendapat topik tentang “Hubungan Beda Usia”

Sebenarnya banyak yang ingin kita sampaikan tentang hubungan beda usia ini. Tapi karena ketentuan dari film pendek untuk tugas tidak boleh melebihi batas waktu yang ditentukan, yaitu maksimal lima menit. Yasudahlah, akhirnya kita buat sesingkat mungkin dengan poin-poin yang sudah kita diskusikan.

Kemudian aku dan kelompokku melanjutkan berdiskusi tentang jalan cerita dan tetek bengek dalam film pendek yang akan kita buat. Dan tiba-tiba, salah satu dari anggota kelompok mengusulkan agar aku saja yang menjadi talent perempuanya. Belum sempat menolak, anggota lain juga setuju karena alasan ini dan itu.
Aku sempat ragu dengan usulan itu. Banyak yang membuatku tidak yakin terutama dengan adegan-adegan yang bertolak dengan prinsipku. Di sisi lain, aku juga ingin mencoba hal baru. Meskipun itu bukan bidangku.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya okelah aku setuju tapi dengan satu syarat. Tidak ada pegangan tangan atau saling bersentuhan dalam adegan film pendek ini. Dan mereka pun setuju. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka. Menghargai aku dan prinsipku.

Mungkin terdengar sedikit aneh untuk mereka yang belum tau ilmunya. Tapi untuk aku yang sudah pernah belajar lama tentang ilmu agama. Aku tau hukumnya.

Iya, aku memang tidak sesempurna ‘mereka-mereka’ yang biasa dipanggil ukhti. Aku belum sekuat mereka mempertahankan prinsip. Suka salut dan kadang iri sih, tapi aku mencoba untuk tetap berusaha. Meskipun keadaan iman dan hati ini kadang tidak terduga.

Memang dalam hal lainya aku belum sempurna. Pakaian dan jilbabku misalnya. Tapi untuk yang satu ini, aku benar-benar ingin mempertahankanya. Meminimalisir bersentuhan langsung dengan  lawan jenis yang bukan mahromku.

Iman ini belum sekuat itu ternyata. Untuk meyakinkan hati dan diriku, aku butuh waktu lama untuk berpikir. Dalam lingkungan ini, hal itu tidak semudah dalam zona nyamanku dulu. Belum lagi masa depanku. Menjadi seorang reporter dengan berbagai narasumber. Apa aku bisa?...

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang Ayah. Ayah selalu berharap aku menjadi anak perempuanya yang selalu terjaga.

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang Ibuk. Ibuk selalu berharap aku menjadi putrinya yang baik dengan amalan-amalan surga.

Kemudian Allah mengirim bayangan tentang seseorang di masa depan. Mereka biasa menyebutnya takdir. Dan kurasa itu cerminankan?

Kemudian Allah menyadarkan. Aku dan masa depanku adalah milikNya. Sudah tidak seharusnya aku mengkhawatirkan apakah perintahNya akan menjadi penghalang.


Hal ini bukan penghalang memang. Namun pelatih, yang akan melatih bagaimana cara mengasah otakku untuk tetap berkarya dalam koridorNya. Ya kan?





Selasa, 20 September 2016

Termasuk berjuang kan?

Malam Ini Aku Rindu
-Malam basah Jatinangor-

Banyak sekali yang aku pikirkan. Tapi itu tadi. Ketika aku harus menjalankan tugas liputan dan mengikuti beberapa rapat kepanitiaan. Setelah semua itu terlalui, pikiran ini kembali lagi sepi. Kembali lagi memikirkan perasaan. Entahlah. Aku sudah berusaha untuk tenggelam dalam berbagai kesibukan. Tiga kepanitaan dan beberapa organisasi aku ikuti. Bukan. Bukan semata-mata aku ingin menjadi mahasiswa produktif. Itu hanya alasan kesekian. Yang paling utama masih perasaanku. Perasaanku tentangmu adalah alasanku ingin tenggelam dalam kegiatan-kegiatan kampusku. Susah sekali bagiku untuk menerka-nerka hubungan yang sedang kita jalani dan aku lelah berputar-putar dalam tebakan tak berujung ini. Oh iya aku lupa. Kita hanya teman kan. Ah aku memang mengatakanya, tapi aku juga menolaknya.

Pikiranku sering sekali berdialog memastikan bagaimana keadaan hati. Tidak hanya berdialog, berdebat kusir juga kukira.

Terkadang aku berasumsi keadaan seperti ini adalah keadaan yang terbaik untuk kita. Tidak ada kabar. Tidak ada sapaan. Perasaan itu lebih baik aku simpan rapat-rapat. Tapi aku tetap wanita. Aku tetap perempuan normal yang kadang juga bisa merasakan...rindu.

Terkadang aku berasumsi harus menjadi wanita kuat. Wanita yang tidak akan pernah kalah dengan perasaan-perasaan itu. Tapi aku melupakan satu hal. Sebagai manapun kuatnya, kata wanita masih menggandeng asumsiku itu.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau beberapa menit yang lalu aku tidak berhenti tersenyum ketika tidak sengaja aku melihat ada notif darimu di salah satu akun media sosial ku. Seolah alam mendukung rasa rinduku. Dan aku membenarkanya.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau lagi-lagi aku tersenyum ketika melihat foto kita yang sengaja kutempel di dinding kamarku. Jangan salah sangka. Tidak hanya kamu. Itu foto bersama ketika dulu kita berada di suatu acara yang sama.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau sebenarnya aku tidak suka berlarut dalam keadaan seperti ini. Tapi aku mengalah untuk malam ini. Aku memberikan celah kepada rindu untuk memenuhi pikiran ku hanya untuk malam ini. Aku mengalah karena aku memang rindu.

Malam ini aku rindu.

Kamu tau ketika aku rindu aku hanya membiarkan ia mampir sebentar dan kemudian yasudahlah aku persilahkan yang lain untuk menggantikanya. Ambisi misalnya. Tapi tenanglah, aku masih normal. Aku masih memberikan kesempatan kepada diriku untuk merindumu.

Ada hal yang selalu mengusikku. Saat ini aku memang sedang menaruh hati padamu. Tapi kekhawatiran tentang masa depan membuatku lelah. Aku tidak tau bagaimana nanti. Apakah kita akan dipersatukan atau kita hanya akan menjadi sejarah. Terkadang aku berpikir kamu terlalu baik bagiku. Namun sisi lain pikiranku berharap dengan segala hal baik yang ada padamu bisa menjadikanku sebaik dirimu. Kamu dan segala mimpimu. Entahlah, kadang aku juga berharap itu bisa bersatu dengan mimpi-mimpiku.

Menyatukan mimpiku dan mimpimu. Hmm sepertinya terdengar bagus. Mungkin akan menjadi tambahan mimpiku yang aku semogakan.

Ketika aku bermimpi, aku meyakininya. Tapi sebagai manusia aku juga menyadari bahwa mimpi-mimpi yang sudah aku jajar termasuk menyatukan mimpi kita memiliki peluang 50% ya dan 50% tidak. Dan seperti kebiasaanku, aku akan selalu menyiapkan dua hati untuk dua kemungkinan. Itulah alasan mengapa aku tidak ingin membiarkan rindu ini menetap terlalu lama.

Hai kau rindu. Datang dan menetaplah 6 jam saja. Jangan lebih. Untuk besok dan selanjutnya mungkin kedatanganmu akan terdominasi dengan kesibukan yang sudah kurencanakan untuk menghindarimu. 







Jumat, 26 Agustus 2016

Meet a stranger


Pelajaran dari Gerbong Mutiara Selatan



Dari setiap perjalanan selalu ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran.

Kereta Mutiara Selatan. Perjalanan Surabaya-Bandung. 26/08/2016. 0.23 am

Entahlah sejak kapan aku mulai menyukai belajar. Belajar dari berbagai hal, pengalaman, perjalanan, kisah orang. Apapun itu. Sebagaimana sekarang. Beberapa menit yang lalu duduk seorang Bapak yang hmm aku baru sadar belum mengenal namanya hingga beliau pamit turun di stasiun Yogyakarta. Selama dua setengah jam pertamaku duduk di kereta ini, aku menghabiskan waktu berdiskusi banyak hal dengan beliau. Berbincang dengan Bapak setengah baya yang mungkin berumur 39 atau 40 tahunan itu membuatku semakin menikmati perjalanan panjang ini. Banyak hal menjadi topik perbincangan kami mulai dari keluarga, politik, bisnis, perjalanan beliau di berbagai negara dan bahkan aku sempat diberinya kontak salah satu bagian penting di Bukalapak. Ah terimakasih pak.

Perjalananya dimulai ketika beliau kuliah. Saat itu sekitar tahun 1993 kurang lebih, beliau mendaftar di salah satu universitas negri terbaik di negri ini. Lolos. Namun karena keterbatasan ekonomi orang tuanya baliau terpaksa melepas mimpinya untuk kuliah di tempat tersebut. Tidak berhenti disitu, Ia tetap berusaha untuk mendaftar salah satu universitas di kotanya. Memang tidak sebaik universitas yang pertama. Tak apalah, yang penting bisa kuliah pikirnya saat itu. Lolos untuk kedua kalinya, kali ini orang tuanya yang hanya seorang kuli di salah satu perusahaan swasta menyanggupi biaya kuliahnya yang tidak begitu besar. Dengan syarat lainya, yaitu tanpa uang jajan termasuk ongkos transport pulang-pergi. Okelah, deal!.

Tanpa uang jajan dan transport selama 4 tahun bukan penghalang bagi beliau. Tidak hilang akal, Ia selalu berusaha mencari peluang. Ketika itu beliau mencoba bekerja di salah satu toko  DVD dengan gaji Rp75.000 per bulan.“Ya saya nebeng aja ke temen-temen yang satu kampus sama saya. Kalo mereka ga ke kampus yaa saya juga ga ke kampus. Bisa-bisa  semingggu aja habis gaji saya kalo berangkat sendiri”, kata beliau ketika aku bertanya bagaimana caranya ke kampus yang memang tidak dekat dari rumahnya itu. Jangankan sepeda motor, sepeda saja tidak ada. Sejak saat itu, memiliki sepeda motor sendiri masuk ke salah satu cita-cita besarnya.

Empat tahun di jurusan teknik sipil beliau seleseikan dengan hasil yang memuaskan. Mencoba berbagai peruntungan dengan mengikuti beberapa proyek, akhirnya beliau diterima menjadi karyawan disalah satu perusahaan di Semarang dengan gaji Rp750.000 per bulan. Gaji pertamanya Ia gunakan untuk membeli motor secara kredit sebesar Rp400.000, sisanya Ia berikan kepada orang tuanya. Salah satu mimpinya tercentang. Motor bebek Supra-X, adalah kendaraan pribadi pertamanya. Bangga? Pasti. Siapa yang tidak bangga memiliki barang dengan usaha sendiri.

Setelah setengah tahun bekerja di Semarang, beliau mendapat tawaran dari temanya untuk bekerja di Ibu Kota. Habis untuk kredit motor dan biaya sehari-hari, gajinya tidak bersisa untuk biaya ke Jakarta. Nekat dan yakin Ia memiliki nasib yang lebih baik di Jakarta, Ia beranikan untuk meminjam perhiasan adik perempuanya untuk digadaikan. Hanya Rp110.000 yang Ia dapat dari hasil pegadaian perhiasan itu. Tidak usah ditanya cukup atau tidak untuk biaya hidup di Jakarta, sudah jelas sekali nominal se-tidak besar itu tidak ada apa-apanya di Ibu Kota. Lagi-lagi karena nekat, Ia beranikan untuk tetap berangkat. Beliau berangkat dari rumah orang tuanya. Biaya transport Purwokerto-Jakarta Rp60.000 saat itu.  Sisanya habis untuk makan tiga kali di Jakarta.

Hidup di Jakarta ternyata tidak semudah harapan beliau. Modalnya habis di hari pertama, sedangkan pekerjaan pasti belum ada yang memanggilnya. Satu bulan menjadi parasit teman adalah satu-satunya pilihan agar bisa bertahan hidup di sana. Lagi-lagi, Ia harus bekerja serabutan mengikuti proyek sana-sini hingga akhirnya ada orang baik merekrutnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, beliau menunjukan kualitas diri dan keprofesinalitasan kerja yang baik. Dari situlah karier beliau mulai berkembang. Mendapat kepercayaan untuk memimpin banyak proyek di Indonesia.

“Dulu itu saya nda pernah bermimpi bisa naik pesawat. Terlalu tinggi kayanya. Alhamdulillah sekarang sudah sampe bosan naik pesawat. Ini makanya saya milih kereta aja. Kehidupan memang seperti roda, ada saatnya kita berada di bawah dan ada saatnya kita berada di atas. Dulu ketika masa kuliahnya, bisa dibilang beliau termasuk golongan kurang mampu di angkatanya. Namun sekarang, beliau termasuk golongan yang bisa dianggap sukses di angkatanya. Sudah berbagai kota di Indonesia beliau tapaki, tidak jarang juga negara-negara tetangga hingga korea dan cina.

Yah begitulah kurang lebih obrolan dua jam setengah kami jika dirangkum ke dalam sebuah cerita singkat. Selalu ada pelajaran. Kali ini, aku seperti lebih diyakinkan bahwa kesuksesan tidak semerta-merta ada secara instan. Cerita perjuangan Ayah, perjuangan Pak Habibie, perjuangan Pak Chairul Tanjung, perjuangan Om Yudha, perjuangan Pak Imron, Perjuangan-perjuangan hebat lainya, ah banyak sekali. Dari banyak cerita perjuangan yang sudah kudengar, aku jadi seperti ingin membuat cerita perjuangan dalam versiku. Cerita perjuanganku yang nanti akan aku ceritakan ke anak-cucu. Atau bahkan cerita perjuanganku yang tidak akan habis dimakan waktu.

Itulah mengapa aku selalu lebih memilih kereta daripada lainya. Karena di kereta aku selalu menemukan orang-orang baru dengan pelajaran-pelajaran baru. Oh iya, tanpa harus aku tau siapa namanya. Dalam hidup kita kadang memang dihadirkan orang-orang yang muncul hanya sekilas untuk kita ambil banyak pelajaran darinya.

Hmm.. AC gerbong kereta ini semakin terasa dingin dan sepertinya lebih baik aku juga ikut terlelap seperti penumpang lainya.  

Terimakasih pelajaran untuk malam ini pak.




Kamis, 12 Mei 2016

Cerita Pendek

Maka Manakah yang Bisa Kau Dustakan?


12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiY03qGK7e2_sN6Ntk48KRianDRBBZGwavJBK68SW8roi2n60KMvj-ajQ84aSGbluwKWQOOe40VXwJuK_LqRnKG7JlxkIJW5p9WA1Su_UQ3E_3nvNZDyO4BJwlu24vNb3GHXI8Y4TjuecS1/s400/55-times.jpg
Hawa dingin kota ini benar-benar tidak mau berkompromi dengan pendatang baru sepertiku. Jam sudah  menunjukkan pukul 01.30 siang waktu Perancis. Harusnya tidak sedingin ini. Tapi entahlah akhir-akhir ini cuaca memang sering tidak menentu. Jaket yang ku pakai sepertinya hanya sedikit membantu. Aku mempercepat langkah sambil mengencangkan jaket yang kukenakan, berharap dapat menolak angin dingin yang tidak sopan menyentuh tubuhku.
Kafe sederhana dengan nama  Le Petit Gourmet menjadi tujuan sekaligus tempat singgahku untuk makan siang kali ini. Salah satu tempat makan milik muslim Perancis  yang menyediakan berbagai macam menu halal untuk pelangganya. Sebenarnya tidak hanya untuk makan siang. Hari ini aku ada janji dengan salah seorang teman dari Indonesia. Namanya Fikri, dia adalah teman satu madrasah ketika kami masih SD di Malang dulu.  Aku tidak tahu persis bagaimana wajahnya sekarang. Aku hanya tahu dari foto yang dia jadikan foto profil di akun facebooknya.
Salut, comment ça va[1], akhirnya datang juga. Apakabar san?” Seorang remaja laki-laki berpakaian modis dengan rambut tersisir rapi menyapa  dan mempersilahkanku duduk di depanya dengan bahasa Indonesia. Ah tidak salah lagi ini pasti Fikri temanku dulu. Wajah jawanya yang khas tidak banyak berubah. Bedanya kini Fikri semakin dewasa dan jauh lebih tampan. Dulu ketika di madrasah dia dekil sekali. Tidak hanya dia sebenarnya, aku juga. Kami dulu dekil sekali,bahkan sepertinya tidak ada teman perempuan di kelas yang mau melirik.
“Fikri Akbar? Alhamdulillah, Je vais bien[2].Nggak nyangka bakal ketemu  di sini. Yo opo kabare rek ?[3] Banyak berubah yaa tambah ganteng ae’’ Aku menyalami tanganya dan segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
‘’Aku juga baik san Alhamdulillah. Isok ae san ihsaan[4]. Kau juga banyak berubah. Ndak dekil lagi seperti dulu’’ kamipun menertawakan perubahan kami masing-masing. Memang tidak sulit untuk mencairkan suasana dengan sesama orang Indonesia di luar negri, apalagi dengan Fikri, teman lamaku di kampung dulu. 
‘’ Gimana ceritanya Fik sampai kau bisa terdampar di Le Havre ? Seingatku ketika kita sama-sama lulus dari madrasah, Kau bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah untuk membantu Abahmu di sawah dan berjualan gorengan buatan Emakmu di pasar.’’
‘’Wah, ceritanya panjang sekali san. Nanti akan kuceritakan. Kau sendiri bagaimana ? masih tetap ambisius seperti dulukah ? ceritakan dulu perjalananmu sampai bisa kesini. Tidak main-main loh jaraknya sekitar 7000 mil.’’
                 
***

        “Le tolong bantuin bapak nyelesein pesenan fotokopian di toko yaa, itu besok pagi mau diambil sama yang pesen. Bapak mau ngejilid pesenan yang lain, Ibu lagi nganter adekmu ngaji ke masjid.”
        “Yaaaah pak,Ihsan masih ngerjain tugas. Sekedap nggih pak[5]."
Begitulah keseharianku sebagai seorang anak sulung dari tiga bersaudara, sekaligus sebagai seorang murid di SMKN 8 Malang. Bapak adalah seorang tukang fotokopi , begitu juga dengan Ibu. Kami mempunyai sebuah toko fotokopi sederhana yang menempel dengan rumah bagian depan. Usaha fotokopi ini baru dirintis ketika aku lulus dari madrasah. Dulu Bapak dan Ibu bekerja di sawah sebagaimana  penduduk kampung yang lain. Namun karena tuntutan kebutuhan, Bapak yang memiliki jiwa wirausaha memutuskan untuk menjual salah satu dari dua sawahnya dan dijadikan modal membuka toko fotokopi.
         Aku merasa beruntung meskipun Bapak hanya seorang tukang fotokopi. Setidaknya Aku masih bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang SMK. Keluarga kami tidak kaya. Keluarga kami adalah keluarga yang sederhana. Bapak selalu berkata “Le Meskipun kau hanya anak dari tukang fokopi, Kau harus bisa sekolah tinggi. Kau harus merubah nasib keluarga kita. Bukanya Bapak tidak bersyukur, tapi anak yang hebat harus bisa melebihi kesuksesan Bapaknya. Kesuksesan Bapak ya disini ini jadi tukang fotokopi. Eits..tapi berkah.” Dan kemudian ditutup dengan ketawanya yang khas. Itu nasihat bapak yang hampir seminggu sekali aku mendengarnya.
        Beberapa bulan yang lalu aku resmi menjadi siswa kelas X SMKN 8 Malang. Di sini aku mengambil bidang keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Meskipun sekolah ini adalah SMKN favorit, jangan bayangkan aku adalah seorang siswa yang cerdas dengan piagam bertebaran. Aku hanya anak biasa dari kampung, yang tidak terlalu dikenal dikalangan anak-anak populer. Tapi aku terkenal dikalangan guru-guru. Sekali lagi, bukan karena aku pintar. Aku dikenal sebagai murid yang banyak Tanya. Tujuanku sih sederhana, pertama karena aku sadar tidak sepintar yang lain. Dan kedua, aku memang sengaja ingin dikenal dikalangan guru siapa tau itu berpengaruh pada nilai, atau siapa tau aku bisa menjadi orang pertama yang tau tentang informasi sekolah.
Jika teman-temanku ditanya akan melanjutkan kemana setelah lulus nanti, kebanyakan mereka akan menyebutkan berbagai universitas negri favorit di Indonesia. Entahlah kenapa aku tidak tertarik melanjutkan pendidikan ku di Indonesia. Pernah suatu ketika pulang dari sekolah, aku mampir ke warnet hanya untuk mencari nama universitas terbaik di dunia. Dan ya, Massachusetts Institute of Technology di Amerika berhasil menarik perhatianku. Aku menggali informasi lebih dalam tentang MIT hingga aku benar-benar jatuh cinta dengan universitas ini. Aku putuskan nanti akan melanjutkan sekolahku di sini. Gila bukan. Seorang anak dari kampung hampir terpelosok di kota Malang bercita-cita kuliah di MIT.
MIT seakan menyihirku menjadi anak yang berkali lipat lebih ambisius. Aku katakan pada semua orang, kepada keluarga, guru, dan teman-temanku. Banyak dari mereka yang memandang sebelah mata. Orang tuaku pun hanya bisa tersenyum dan membantu dengan doa. Hingga suatu saat aku mendapat informasi tentang dibukanya pendaftaran beasiswa Bina Antarbudaya (pertukaran pelajar) untuk siswa kelas X di seluruh Indonesia. Salah satu Negara tujuanya adalah Amerika. Jika aku lolos seleksinya, kemungkinan aku bisa berangkat ke Amerika. One step closer to MIT. Pendaftaran dilakukan online dengan membeli pin seharga 50 ribu rupiah. Langsung saja aku mencongkel celenganku di rumah, dan mendaftar lewat warnet langgananku.            
Seleksi tahap pertama adalah seleksi tahap regional Malang, tes tulis dengan materi pengetahuan umum, Bahasa Inggris, dan esai bahasa Indonesia kulalui dengan entahlah, aku tidak bisa mendeskripsikanya. Aku hanya berdoa semoga aku bisa lolos di tahap awal ini. Sebelumnya, telah kulalap habis isi RPUL, bahkan menjadi buku dongeng sebelum tidurku. Kabarnya, ada dua tahap seleksi regional dan dua tahap seleksi nasional. Aku merasa ambisius sekali, setiap sholat aku berdoa agar Allah mengizinkanku lolos di setiap seleksinya. Tidak hanya itu, setiap akan dimulai sholat aku selalu mengingatkan teman-teman untuk mendoakanku di sujud terakhirnya. Karena kata guru agama, berdoa di sujud terakhir termasuk doa yang akan diijabahi.
                Dari 22 anak dari sekolah yang mengikuti seleksi ini, ternyata aku  menjadi satu diantara empat orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah seleksi wawancara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jangan bayangkan bahasa Inggrisku sebagus tiga teman yang lain. Ketika ada tugas berpidato bahasa Inggris di depan kelas saja, aku benar-benar lebih memilih mengurung diri dikamar mandi sekolah sampai jam pelajaran itu habis. Bagaimana dengan ini, aku akan diwawancara oleh beberapa bule Eropa.  Matilah aku. Bahkan rasa gerogi sudah muncul semenjak H+1 pengumuman hasil seleksi tahap pertama. Butuh kerja ekstra mempersiapkan seleksi wawancara. Demi lolos di tahap kedua, aku rela pulang lebih sore untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah dengan kamus dan buku-buku bahasa Inggris.                
Ketika hari seleksi tiba, Aku bangun sangat pagi. Tempat seleksinya jauh dari rumah. Aku harus rela bersepeda demi menghemat biaya. Belum lagi karena rumahku berada di kampung di daerah dataran tinggi. Sebenarnya tidak terlalu jauh untuk ke kota, namun harus melewati sungai yang jembatanya sedang direnovasi. Alhasil, aku harus berputar lebih jauh melewati kebun Apel dan sawah milik warga. Sekitar 1 jam 25 menit aku menghabiskan waktu di perjalanan. Tepat pukul 08.00 pagi aku sampai di kampus ABM Malangkucecwara, tempat pelaksanaan seleksi tahap kedua.Aku merasa sangat percaya diri menjalani tes wawancara dengan bahasa Indonesia. Berbeda dengan saat wawancara bahasa Inggris. Malah bisa dibilang sedikit gagal, meskipun aku sudah menyiapkan apa saja yang akan aku katakan. Rasa gerogi menghilangkan kosakata bahasa Inggrisku yang sudah minim di kepala. Alhasil, aku banyak mengeluarkan bahasa Tarzan ketika wawancara. Sudahlah, aku pasrah dengan hasilnya. Aku juga sudah siap jika tidak lolos ke tahap berikutnya. Seleksi wawancara ini membuatku sedikit putus asa. Mungkin memang belum saatnya aku ke luar negri. Masih banyak yang harus kuperbaiki.
                Pengumuman seleksi regional tahap kedua sudah diumumkan. Aku sama sekali tidak berminat meilhat hasilnya. Aku hanya berdoa jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik.  Bukan pesimis, aku hanya menguatkan hati agar tidak terlalu sedih. Peluang aku lolos mungkin hanya tinggal 30%.
                “Ihsan Fuadi ada dikelas ini?” tiba-tiba Pak Yanto Waka kesiswaan datang ke kelas dan menyuruhku segera ke ruang kesiswaan.                
Tidak butuh waktu lama, aku sudah berada di ruang kesiswaan. Tapi tidak ada anak lain di ruangan ini. Hanya ada aku dan pak Yanto. Aku dan Pak Yanto duduk saling berhadapan, dipisahkan meja kerja yang penuh dengan laporan mingguan anak-anak OSIS.               
 “San, selamat yaa nak. Kau satu-satunya siswa kami yang lolos di seleksi wawancara Bina antarbudaya. Tahap selanjutnya adalah tahap nasional. Di tahap ini, kau akan ke Jakarta dan melawan peserta dari berbagai daerah.” Pak Yanto menyampaikan selamat sekaligus menyalamiku.               
 “Bapak serius? Ah pak, saya hampir tidak percaya. Terimakasih banyak pak.” Mataku berbinar-binar mendengar informasi dari pak Yanto. Berkali-kali aku menyium tanganya dan menyampaikan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Aku benar-benar tidak percaya dengan hasilnya . Jadi setelah ini, aku akan ke Jakarta. Yeaaah, teriakku dalam hati.                
“Iya nak, sekali lagi selamat ya. Minggu depan kau akan pergi ke Jakarta. Tapi biaya ditanggung sendiri san, maaf sekolah tidak bisa membantu karena sedang membutuhkan biaya untuk renovasi gedung bagian depan. Oh ya san, Kau sudah tahu kan? Tahun ini lembaga Bina Antarbudaya bekerjasama dengan dua lembaga yaitu AFS dan YES. Untuk YES memang menyediakan beasiswa full selama satu tahun pertukaran pelajar, namun untuk AFS hanya menyediakan beasiswa partial yang artinya kau harus menyiapkan biaya sebesar 80 juta rupiah. Sisanya baru akan ditanggung oleh AFS. Bagaimana? Bapak sarankan kau tetap mengambil, tapi jika kau merasa keberatan kau bisa resign. Dan bisa mencoba lagi di lain kesempatan.” Pak yanto menjelaskan panjang lebar mengenai apa saja yang harus aku lakukan termasuk jika aku tetap mengambil program ini, aku akan wisuda satu tahun lebih lambat dari teman-teman satu angkatan.              
  “Oh begitu ya pak, baik akan saya diskusikan dulu dengan keluarga. Terimakasih banyak pak. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Aku keluar dari ruangan kesiswaan dengan keadaan bingung. Entah harus senang atau bagaimana. Gila. Jika aku pergi ke Jakarta, tidak mungkin aku meminta biaya dari orang tua. Belum lagi aku tidak ada saudara disana. Tidak mungkin jika menyewa hotel untuk tiga hari. Kemungkinan lolos di program YES juga sangat kecil. Jika aku lolos di program AFS, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu.
                Sepanjang perjalanan pulang aku benar-benar pusing memikirkan haruskah mengambil atau resign saja. Toh jika aku resign, aku bisa memberikan kesempatan untuk yang lain. Aku juga bisa lulus dari SMK ini lebih tepat waktu. Di satu sisi, aku berpikir, kesempatan seperti ini tidak akan terulang kembali. Tidak semua orang mendapat kesempatan emas ini. Aku putuskan untuk diskusi saja dengan keluarga dan dengan Allah. Malam ini aku harus shalat istikharah.               
 “Bapak dan Ibu terserah kamu saja Le, tapi ya mending ndak usah aja. Soalnya Bapak eman sama sekolahmu jadi lebih lama kan, empat tahun. Lagian disana kamu cuma pertukaran budaya.” Begitu kata Bapak. Aku tahu sebenarnya tidak hanya itu alasan Bapak, keadaan ekonomi keluarga kami sedang menurun. Adik bungsuku baru saja keluar dari rumah sakit, dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Saat istikharah, aku curahkan semua kepada Allah. Aku menangis diatas sajadah. Sekali lagi aku berdoa  jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik. Aku ceritakan semua mimpi-mimpiku. Tentang pertukaran pelajar ini, biayanya. Semua aku katakan kepada Allah.                
Akhirnya aku putuskan untuk resign. Aku percaya ini adalah keputusan yang terbaik, karena Allah akan memberikan lebih dari apa yang aku harapkan. Keputusan ini memacu semangatku agar bisa lebih berprestasi di sekolah. Cepat naik kelas, Cepat lulus, dan segera melanjutkan kuliah di MIT. Aku kembali dengan mimpi-mimpiku untuk kuliah di MIT. Namun, karena melihat dari pengalaman sebelumnya. Aku bukanlah anak dari keluarga yang bergelimang harta.Aku sempat merasa putus asa. Sepertinya tidak mungkin bisa kuliah di Amerika. Aku sadar mimpi yang kugantungin terlalu tinggi dan tidak rasional. Jangankan kuliah di Amerika, mau melanjutkan kuliah atau tidak saja aku masih bimbang.               


***
Kini aku telah menjadi anak kelas XI. Aku tetap merasa pesimis dengan mimpi-mimpi yang telah kubangun saat kelas X. Hingga suatu saat, ketika aku pulang dari sekolah. Di rumah aku merasa lelah dengan aktivitas sekolah. Aku putuskan untuk rebahan sebentar sebelum kembali dengan tugas-tugasku. Di ruang tamu aku menonton acara TV favorit. Ah pas sekali, episode kali ini tentang mimpi.  Aku memang sedang  butuh asupan motivasi tentang topik ini. Salah satu bintang tamu memiliki sebuah mimpi yang benar-benar tidak mungkin bisa menjadi kenyataan jika di nalar dengan akal sehat kita. Saat itu Ia menginginkan sebuah mobil sport terbaik di dunia, namun keadaanya ekonominya sangat tidak mendukung. Dia adalah seorang anak tukang cuci piring salah satu rumah makan besar di Ibukota. Cita-citanya ingin menjadi pembalap professional. Tapi dengan keadaan seperti itu Ia tidak pernah pesimis dengan mimpinya. Dia membawa mimpinya ke dunia nyata. Dia cetak dan tempel foto-foto mobil itu di dinding kamarnya.  Setiap hari Dia katakan pada foto tersebut bahwa dia akan membelinya. Dia hidup dalam mimpinya. Dia mengirim sugesti dan sinyal-sinyal ke alam semesta. Dia tunjukan ke semua orang, tidak sedikit yang mencibir dan menertawakanya. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah Dia selalu mengikut sertakan Allah ke dalam mimpinya.  Hingga suatu ketika dia berhasil membeli mobil yang diinginkan.                
Aku merasa penasaran, apakah dengan cara seperti itu aku juga bisa berhasil. Ah, jika dia bisa kenapa aku tidak. Toh, tuhan kita sama-sama Allah. Baiklah akan kucoba. Dari situ, aku mulai mengikuti caranya. Aku mencetak foto-foto MIT, mulai dari gedungnya, perpustakaanya,kelasnya, lingkunganya, Orang-orangnya, sampai kamar mandinya. Aku bayangkan diriku berada disana, berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan orang hebat dari seluruh dunia. Sebelum kutempel di dinding kamar, Aku membawa foto-foto tadi ke sajadah. Aku menunjukkan mimpi-mimpiku kepada Allah. Ketika sholat Tahajud aku berdoa  “Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang.Lihatlah ini adalah mimpi-mimpiku. Hamba ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tempat terbaik di Bumi Mu. Izinkanlah hamba bersekolah di MIT ya Allah, Izinkanlah hamba menunjukkan pada dunia bahwa umatMu juga memiliki kualitas yang sama dengan orang-orang hebat di sana. Aku yakin Engkau akan memberikan ganti yang lebih baik dari mimpiku mengikuti pertukaran pelajar dulu.Ya Allah jika tidak MIT, izinkan hamba bisa bersekolah di Negara-negara maju yang lain di dunia. Aku mohon kepadaMu wahai yang maha pemilik hak tertinggi atas diriku dan masa depanku.”               
 Tidak hanya ketika tahajud, di setiap sholat di sujud terakhirku aku selalu berdoa seperti itu. Memperbanyak amal ibadah untuk merayu Allah. Sholat dhuha yang biasanya hanya empat rakaat, menjadi delapan rakaat. Shalat tahajud yang biasanya lima rakaat, menjadi sebelas rakaat. Infaq yang biasanya cuma puluhan ribu menjadi ratusan ribu. Banyak minta restu kepada orang tua, dan doa dari guru-guru disekolah. Jangan dibayangkan ini berjalan mulus-mulus saja. Banyak yang hanya tersenyum meremehkan ketika mendengar mimpiku. Lebih dari itu, banyak juga yang mengatakan aku tidak pantaslah, mimpi ketinggian, banyak maunya, dan lain sebagainya. Aku berusaha tidak menghiraukan. Biasanya jika sudah parah, aku hanya bisa mengadukan kepada Allah dan berjanji akan menunjukkan kepada mereka bahwa ini tidak hanya sekedar bunga tidur semata. Hari demi hari kulalui dengan keyakinan bahwa mimpiku akan semakin dekat menjadi sebuah kenyataan.                
Sampai akhirnya, Aku berada di kelas XII. Ini adalah tahun terakhir di SMK, sekaligus saatnya menentukan kemana melanjutkan hidup. Harusnya sih aku melanjutkan kuliah di MIT. Tapi entahlah belum ada tanda-tanda kita berjodoh. Disaat teman yang lain sudah memilki tujuan masing-masing, aku masih digantungkan dengan mimpi-mimpiku. Aku tetap yakin, sedikitpun tidak tergoyahkan. Tapi di lain sisi aku juga menyiapkan kemungkinan-kemungkin terburuk. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk berbagai keadaan.
                Tepat satu bulan sebelum UN, kabar gembira datang kepadaku. Ketika itu aku sedang asik  berada di kelas bersama teman-teman. Tiba-tiba, Adam datang sambil memanggil namaku dari luar kelas.
                “Ihsaaaan, mimpimu bakal terwujud bentar lagi. Cepet sekarang kamu dipanggil Bu Arum ke ruang BK.” Adam menarikku dari gerombolan, dan segera membawaku ke ruang BK. Sebentar. Aku masih belum faham apa maksudnya. Aku bukan tipe anak yang biasa keluar-masuk ruang BK. Sejurus kemudian kami sudah berada di hadapan Bu Arum. Bu Arum tidak berkata apa-apa. Sebenarnya, ini semakin menambah kebingunganku. Tiba-tiba, beliau menyodorkanku sebuah surat. Dari logonya, aku tau surat itu dari PSMK (Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan). Surat itu berisi bahwa sekolah berhak mengirimkan satu siswanya untuk melanjutkan kuliah di perancis.
                “Maaf bu, maksudnya apa yaa kok saya yang disuruh membaca surat ini?” Aku tidak berani menebak-nebak apa maksud Bu Arum.
                “Maksudnya, kami menunjuk kamu sebagai perwakilan dari SMKN 8 Malang.” Bu Arum tersenyum kepadaku.
                “Serius Bu? Alhamdulillaah, Allahuakbar.” Seketika aku langsung sujud syukur di ruang BK. Aku tidak peduli Adam akan mengataiku cengeng atau bagaimana. Aku sudah berlinang airmata, menangis haru karena Allah benar-benar mendengar doaku.
                “iya san. Tapi jangan senang dulu karena hanya delapan dari 12 orang yang akan berangkat. Sekarang kamu buat motivation letter yaa dan kumpulkan berkas-berkas yang diminta. Minggu depan akan diumumkan siapa saja yang berangkat.”
                “Siap bu, akan saya buat sebagus mungkin. Terimakasih banyak atas doa dan dukunganya selama ini bu Arum. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Aku meninggalkan ruang BK dengan rasa senang yang luar biasa. Rasanya aku ingin memeluk setiap orang yang aku temui dan mengatakan terimakasih. Tapi tidak sampai aku melakukanya, nanti mereka bisa kaget kenapa tiba-tiba Ihsan Fuadi memeluknya.
                 Sampai dirumah, aku melihat Ibu sedang sibuk di toko. Aku memutuskan untuk menunggu Ibu dulu di ruang tamu. Tidak sampai 15 menit, Ibu masuk kerumah. Aku langsung berteriak dan memeluknya.
 “Ada apa tho le? Kau ini manja sekali seperti anak perempuan saja.”
“Heheee ya ndak papa tho buk.” Aku tersenyum dan memberikan surat ajaib PSMK kepadanya.
“Ini apa le? Jangan bilang karena kau berbuat ulah di sekolah”
“Emangnya anak Ibuk yang paling ganteng ini suka buat ulah ya?.” Aku memaksa ibu untuk segera membukanya. Beberapa detik aku menunggu Ibu membaca, tiba-tiba senyum Ibu mengembang. Senyum favoritku. Senyum wanita terbaik yang ada di bumi ini. Ah, tidak pernah aku melihat senyum yang lebih baik dari punya Ibu. Ibu memelukku sekali lagi, matanya berbinar-binar karena bangga dengan anak laki-lakinya ini. 
Sebelum aku menulis motivation letter, kembali aku membawa surat ini ke sajadah. Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat luar biasa yang Ia berikan kepadaku, Aku juga mohon agar dipermudah segala urasanku. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini. Meskipun tidak MIT, aku yakin ini adalah hadiah terbaik yang telah Allah persiapkan untukku. Benar apa kata Rasullullah SAW, bahwa Allah pasti sesuai dengan perasangka hambaNya.
Seminggu kemudian, setelah aku mengumpulkan motivation letter terbaikku dan beberapa berkas yang dibutuhkan. Pak Haris kepala sekolah SMKN 8 Malang mengumumkan bahwa aku berhak mendapat beasiswa ini. Pak Haris membeitahuku agar segera mengurus paspor dan surat-surat penting lainya. Kata beliau aku akan mengambil progam BTS ATI (Assistance Technique D'ingénieur) di Lycée Jules Siegfried di Kota Le Havre, Haute-Normandie. BTS ( Brevet de Technicien Superiue) adalah program yang setara dengan D2 di Indonesia. Itu artinya, aku akan melanjutkan sekolah disana tidak lebih dari dua tahun. Dalam hati aku terus mengucap rasa syukur..

***
12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.
                 Qui est tous mes histoires[6], nah gitu ceritanya Fik. Soupe a l'oignon [7]nya sampe udah hampir dingin nih.” Aku menutup kisah perjalanan ku sambil menyendok sup bawang khas Perancis yang katanya menjadi salah satu sup terenak di dunia.
                 “Wah san, jadi kamu baru tiga bulan di Le Havre? Okee, Aku ucapkan Selamat datang di Perancis. Oh iya, sup yang kamu makan itu katanya sup paling enak di dunia. Padahal yaa masih enak bautan emakku di Malang.”  Katanya sambil terkekeh. Untung Fikri berbicara menggunakan bahasa Indonesia, jika tidak. Mungkin mbak-mbak pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja kami sudah melabraknya.
                   “Terus cerita kau gimana Fik? Dari tadi sudah ku ceritakan pengalamanku yang puanjaang. Gantian dong, aku juga mau dengar ceritamu. Bagaimana seorang Fikri Akbar yang dulunya suka sekali main layangan di sawah, bisa terdampar di le havre ini?.” Aku benar-benar penasaran dengan kisahnya. Aku tidak menyangka bisa bertemu Fikri disini. Dulu jika ditanya apa cita-citanya, dia pasti menjawab ingin menjadi tukang layangan. Ya, karena saking sukanya dia bermain layang-layang. “Apa kau sudah menjadi pengusaha layangan disini?.” Kataku menggoda.
                  Hahahaa kau ini ada-ada saja san, ceritanya akan panjang sekali melebihi sungai brantas yang ada di Malang.” Fikri tertawa kemudian melirik jam tangan Rolexnya. “ eh san, sepurane [8]yo aku nggak bisa nemenin lama-lama. Masih ada janji lain. Kalau ingin dengar, datang saja ke apartmentku. Ini alamatnya. Aku duluan. Assalamualaikum.”  Fikri memberiku kartu namanya, dan berlalu meninggalkanku sendiri. 
 Aku tersenyum, memandang keluar jendela. Aku bergumam dalam hati  “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang bisa kau dustakan..”
***

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibce8CRdKAUrfcmloVzZqbSxtVAQvHM-1LIDiJARKFFbUVE9e0S3pCYJCtmmGlTdCZhjpkLv5hokz6m0_8hb-gJdBKb33mOgWEIceviJowblf6HRpbBERM0uB0hNf6YfYDdIHDhTI9Bbo2/s400/1831469-beasiswa-perancis-620X310.jpg



               
                       



[1] Hai, apa kabar?
[2] Aku baik
[3] Apa kabar? (bahasa jawa)
[4] Bisa aja san (bahasa jawa)
[5] Sebentar ya pak (bahasa jawa)
[6] Nah, itu semua cerita saya
[7] Nama makanan khas perancis
[8] Maaf (bahasa jawa)





Gimana ceritanya? semoga bisa memotivasi pembacanya yaa. Anyway, aku nulis cerita ini terinspirasi dari kisah perjalanan salah seorang sahabat yang sekarang sedang melanjutkan sekolahnya di  Lycee Jules Siegfried le havre, France, dan tentunya dengan beberapa tambahan kisah imajinasiku hehehe . Makasih banget yang udah mau ngeluangin waktu buat baca.