CANTIK ITU LUKA
Sadar atau tidak kecantikan yang menjadi acuan saat ini telah
sedemikian rupa diolah oleh media. Kekuatan media memang benar-benar super. Meskipun
aku tidak setuju, kadang tanpa aku sadari aku juga mulai terpengaruh denganya.
“Semua yang cantik itu
harus tinggi, semampai, berkulit putih,
berambut lurus, dengan bulu mata lentik dan lain sebagainya.”
Ah ayolah, tolong itu bukan fakta. Itu hanya sekedar opini
dan aku seribu persen tidak setuju dengan opini itu.
Sedih sekali rasanya ketika melihat perempuan berbondong-bondong
sibuk sendiri merubah kecantikan alami yang ada pada dirinya menjadi kecantikan
opini media.Tidak sadarkah? Kita kaum wanita bagai sedang terjajah dengan
standar kecantikan buatan mereka. Belum lagi dengan ramainya pemoles wajah yang
katanya bisa merubah sedemikian rupa. Merubah sesuai dengan standar buatan yang
sedang ramai dielu-elu kan. Standar yang didukung dengan berbagai iklan produk
kecantikan, acara fashion, penggambaran kehidupan para bintang dan
program-program kecantikan lainya. Standar kecantikan yang menurutku tidak
realistis. Bagaimana tidak? Standar itu dibuat bertolak belakang dengan
kecantikan alami kita sebagai wanita.
Di Indonesia mayoritas penduduknya berkulit sawo matang, tapi
lihatlah produk pemutih paling banyak digunakan.
Di negara-negara barat mayoritas penduduknya berkulit putih,
tapi lihatlah tanning (mencokelatkan kulit) paling banyak dicari.
Tidak hanya pola pikir kita yang mulai terkonstruksi oleh
media, keadaan pun mau tidak mau menjadi terpedaya. Bayangkan saja, kini hampir
semua ranah menjadikan kecantikan fisik wanita yang terstandar sebagai urgensi pemasaran. Banyak orang yang terkadang
lebih menghargai seseorang karena melihat kecantikan fisiknya. Bukan dari isi
kepala dan hatinya.
Ah terlalu luas ya?
Oke kembali ke fenomena keseharian. Melihat banyak perempuan
berlalu-lalang di kampus, apalagi mereka-mereka yang mendapat label sebagai ‘cewe
hits’ aku mulai menyadari suatu hal. Hei, Ternyata mereka semua sama. Aku tidak
tau apakah ada suatu standar untuk menjadi seseorang dengan label itu? Atau entahlah..
yang aku lihat mereka juga memiliki kesamaan dengan representasi perempuan di
media.
Di lain cerita, beberapa teman pernah mengeluhkan keadaan
fisiknya. Merasa tidak cantik dengan apa yang ada pada dirinya. Merasa masih
banyak yang harus disempurnakan dalam konteks fisiknya. Merasa tidak percaya
diri dan harus selalu menggunakan pemoles wajah yang tidak murah harganya.
Merasa kurang eksistensi dan pengakuan dari lingkungan terhadap dirinya. Merasa
tidak popular karena tidak sesuai standar bayangan bentukan media.
Oh perempuan-perempuanku,
tidakkah menjadi seperti itu akan lebih melukai hatimu?
Hati kecil dan seluruh sistem pada dirimu akan kecewa dengan
keluhan itu. Karena mereka juga butuh pengakuan kan? Jiwa dan raga kita adalah
suatu kesatuan yang Allah ciptakan dengan misi kebaikan. Saling bekerjasama
lah. Jangan malah saling menjelekkan bagian ini dan itu.
Pemikiran seperti itu akan menjadikan kita semakin jauh
dengan Sang Pencipta. Kau tau kan? Allah telah menciptakan masing-masing dari
kita dengan kesempurnaan. Itu sudah baik. Bahkan sangat baik. Kita cantik
dengan kita apa adanya. Jika tidak merasa cantik, yang perlu diubah adalah pola
pikir kita. Bukan fisik atau bahkan malah menjadi orang lain.
Menemukan definisi cantik yang sebenarnya bagi diri kita itu
sangat penting. Bagai pedoman bagaimana kita akan bersikap dalam keseharian.
Ada pernyataan Cantik itu berasal dari
hati. Hmm klise bukan? Jika tadi seribu persen aku tidak setuju dengan definisi
cantik di media, maka kali ini aku
seribu persen setuju dengan pernyataan sederhana ini. Ayolah siapa yang butuh
seseorang yang cantik dengan fisiknya namun tidak dengan hatinya? Coba lihat
seseorang yang selalu ada ketika kita sedang membutuhkan. Perhatikan dia
lamat-lamat, meskipun tidak secantik standar media bisa jadi hatimu akan
berkata “Iya ya, ternyata dia ini cantik”.
Oh perempuan-perempuanku jangan mau fisik kalian menjadi
acuan definisi cantik bagi lingkungan. Kembalikan kepada hati, karena Ia akan
lebih bijak menjadikan kita cantik dalam berfikir dan berkepribadian.
Jika diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dengan jumlah
banyak, mintalah untuk diberi banyak rasa syukur. Karena menjadi seseorang dengan
hati besar yang pandai bersyukur tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya bersyukur dengan kecantikan alami kita sebagai wanita hmm tidak semudah ituloh, tapi bisa kan? Dan disisi lain,
Aku setuju dengan adanya perawatan. Perawatan bukan berarti perubahan. Karena perawatan
merupakan suatu cara menghargai diri kita. Bentuk rasa syukur kan?
Oh iya untuk kaum Adam, jangan terpedaya juga dengan
objektifitas kecantikan media. Sebagai calon pemimpin rumah tangga, berfikirlah
lebih visioner. Jangan melihat calon ibu dari anak-anakmu nanti dari kecantikan
fisiknya. Lihatlah dari hati dan pola pikirnya. Percaya padaku, Karena suatu
saat nanti ketika kamu berada dalam keadaan jatuh, yang kamu butuhkan adalah
seseorang dengan hati yang kuat dan pola pikir yang selalu baik.
Sekali lagi, kita cantik kok. Berbuat baik, tersenyum, dan
percaya dirilah.
