Sabtu, 08 Oktober 2016

Senja beropini

CANTIK ITU LUKA


Sadar atau tidak kecantikan yang menjadi acuan saat ini telah sedemikian rupa diolah oleh media. Kekuatan media memang benar-benar super. Meskipun aku tidak setuju, kadang tanpa aku sadari aku juga mulai terpengaruh denganya.


“Semua yang cantik itu harus tinggi, semampai, berkulit  putih, berambut lurus, dengan bulu mata lentik dan lain sebagainya.”


Ah ayolah, tolong itu bukan fakta. Itu hanya sekedar opini dan aku seribu persen tidak setuju dengan opini itu.


Sedih sekali rasanya ketika melihat perempuan berbondong-bondong sibuk sendiri merubah kecantikan alami yang ada pada dirinya menjadi kecantikan opini media.Tidak sadarkah? Kita kaum wanita bagai sedang terjajah dengan standar kecantikan buatan mereka. Belum lagi dengan ramainya pemoles wajah yang katanya bisa merubah sedemikian rupa. Merubah sesuai dengan standar buatan yang sedang ramai dielu-elu kan. Standar yang didukung dengan berbagai iklan produk kecantikan, acara fashion, penggambaran kehidupan para bintang dan program-program kecantikan lainya. Standar kecantikan yang menurutku tidak realistis. Bagaimana tidak? Standar itu dibuat bertolak belakang dengan kecantikan alami kita sebagai wanita.


Di Indonesia mayoritas penduduknya berkulit sawo matang, tapi lihatlah produk pemutih paling banyak digunakan.


Di negara-negara barat mayoritas penduduknya berkulit putih, tapi lihatlah tanning (mencokelatkan kulit) paling banyak dicari.


Tidak hanya pola pikir kita yang mulai terkonstruksi oleh media, keadaan pun mau tidak mau menjadi terpedaya. Bayangkan saja, kini hampir semua ranah menjadikan kecantikan fisik wanita yang terstandar sebagai urgensi pemasaran. Banyak orang yang terkadang lebih menghargai seseorang karena melihat kecantikan fisiknya. Bukan dari isi kepala dan hatinya.


Ah terlalu luas ya?


Oke kembali ke fenomena keseharian. Melihat banyak perempuan berlalu-lalang di kampus, apalagi mereka-mereka yang mendapat label sebagai ‘cewe hits’ aku mulai menyadari suatu hal. Hei, Ternyata mereka semua sama. Aku tidak tau apakah ada suatu standar untuk menjadi seseorang dengan label itu? Atau entahlah.. yang aku lihat mereka juga memiliki kesamaan dengan representasi perempuan di media.


Di lain cerita, beberapa teman pernah mengeluhkan keadaan fisiknya. Merasa tidak cantik dengan apa yang ada pada dirinya. Merasa masih banyak yang harus disempurnakan dalam konteks fisiknya. Merasa tidak percaya diri dan harus selalu menggunakan pemoles wajah yang tidak murah harganya. Merasa kurang eksistensi dan pengakuan dari lingkungan terhadap dirinya. Merasa tidak popular karena tidak sesuai standar bayangan bentukan media.


 Oh perempuan-perempuanku, tidakkah menjadi seperti itu akan lebih melukai hatimu?
Hati kecil dan seluruh sistem pada dirimu akan kecewa dengan keluhan itu. Karena mereka juga butuh pengakuan kan? Jiwa dan raga kita adalah suatu kesatuan yang Allah ciptakan dengan misi kebaikan. Saling bekerjasama lah. Jangan malah saling menjelekkan bagian ini dan itu.


Pemikiran seperti itu akan menjadikan kita semakin jauh dengan Sang Pencipta. Kau tau kan? Allah telah menciptakan masing-masing dari kita dengan kesempurnaan. Itu sudah baik. Bahkan sangat baik. Kita cantik dengan kita apa adanya. Jika tidak merasa cantik, yang perlu diubah adalah pola pikir kita. Bukan fisik atau bahkan malah menjadi orang lain.


Menemukan definisi cantik yang sebenarnya bagi diri kita itu sangat penting. Bagai pedoman bagaimana kita akan bersikap dalam keseharian. Ada pernyataan  Cantik itu berasal dari hati. Hmm klise bukan? Jika tadi seribu persen aku tidak setuju dengan definisi cantik di media, maka kali  ini aku seribu persen setuju dengan pernyataan sederhana ini. Ayolah siapa yang butuh seseorang yang cantik dengan fisiknya namun tidak dengan hatinya? Coba lihat seseorang yang selalu ada ketika kita sedang membutuhkan. Perhatikan dia lamat-lamat, meskipun tidak secantik standar media bisa jadi hatimu akan berkata “Iya ya, ternyata dia ini cantik”.


Oh perempuan-perempuanku jangan mau fisik kalian menjadi acuan definisi cantik bagi lingkungan. Kembalikan kepada hati, karena Ia akan lebih bijak menjadikan kita cantik dalam berfikir dan berkepribadian.


Jika diberi kesempatan untuk meminta sesuatu dengan jumlah banyak, mintalah untuk diberi banyak rasa syukur. Karena menjadi seseorang dengan hati besar yang pandai bersyukur tidak semudah yang dibayangkan. Salah satunya bersyukur dengan kecantikan alami kita sebagai wanita hmm tidak semudah ituloh, tapi bisa kan? Dan disisi lain, Aku setuju dengan adanya perawatan. Perawatan bukan berarti perubahan. Karena perawatan merupakan suatu cara menghargai diri kita. Bentuk rasa syukur kan?


Oh iya untuk kaum Adam, jangan terpedaya juga dengan objektifitas kecantikan media. Sebagai calon pemimpin rumah tangga, berfikirlah lebih visioner. Jangan melihat calon ibu dari anak-anakmu nanti dari kecantikan fisiknya. Lihatlah dari hati dan pola pikirnya. Percaya padaku, Karena suatu saat nanti ketika kamu berada dalam keadaan jatuh, yang kamu butuhkan adalah seseorang dengan hati yang kuat dan pola pikir yang selalu baik.



Sekali lagi, kita cantik kok. Berbuat baik, tersenyum, dan percaya dirilah.



Senin, 03 Oktober 2016

Yak, Opini coy

DKI Jakarta Butuh Pemimpin Berakhlak


Mengawali karier menjadi seorang pebisnis yang kemudian terjun kedalam dunia politik, Ahok dikenal sebagai politikus yang bersih dalam bertugas. Perjalanan politiknya dimulai sejak tahun 2003, ketika itu beliau bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru dan setahun kemudian Ahok pun terpilih menjadi anggota DPRD kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009. Tidak berhenti disitu, pada tahun 2005 Ahok terpilih menjadi bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Berkat kesuksesan dalam memimpin Belitung Timur, banyak masyarakat yang mendorong Ahok untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur Belitung pada tahun 2007. Namun, beliau gagal menjadi Gubernur dalam pemilihan gubernur saat itu.


Ahok juga pernah menjabat sebagai anggota DPR komisi II pada tahun 2009. Saat duduk di kursi legeslatif beliau sempat menerapkan standard baru bagi anggota DPR dalam anti-korupsi, transparansi, dan profesionalisme. Hingga pada 2012, pasangan Jokowi-Ahok terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta. Perjalananya menjadi seorang wakil gubernur bisa dibilang hanya seumur jagung. Pada November 2014, Presiden Jokowi resmi melantik Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikanya yang juga resmi menjadi Presiden Indonesia.


Kini tercatat sudah sekitar dua tahun Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta, banyak hal  yang menjadi sorotan publik mulai dari kebijakan hingga cara kepemimpinan. Tentu setiap masa kepemimpinan seseorang  masing-masing pasti memiliki sisi positif dan sisi negatifnya. Sebagaimana kinerja Ahok selama menjabat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Banyak kebijakan-kebijakan baru yang diterapkan oleh Ahok yang tidak jarang menjadi hal yang kontroversial dalam realisasinya. Diantaranya adalah program relokasi kampung kumuh di tanah milik publik seperti Kalijodo, Luar Batang, Rawajati, Kampung Pulo, dan Bukit Duri.


Program relokasi  merupakan program yang solutif untuk perbaikan Jakarta, sudah seharusnya hal ini diberlakukan. Tidak hanya demi kepentingan daerah, tapi juga kepentingan  seluruh masyarakat Jakarta. Mungkin kebijakan ini dianggap sebagai kebijakan yang menindas rakyat kecil karena dengan semena-mena menggusur tempat tinggal mereka. Namun, jika tidak segera direlokasi maka akan menjadi semakin serba salah. Sebab bila kawasan kumuh tidak segera ditertibkan, maka masalah banjir tidak akan terseleseikan. Hal ini akan berdampak kepada seluruh daerah di Jakarta. Selain itu, berdirinya kawasan kumuh juga telah melanggar peraturan daerah sehingga tidak boleh terus menerus dibiarkan.


Kebijakan yang diusung Ahok ini tidak semata-mata ingin menyingkirkan masyarakat kecil di Jakarta. Namun untuk mengembalikan fungsi suatu wilayah sesuai dengan keberadaanya. Sebagai Gubernur pencetus kebijakan ini Ahok tidak sekedar merelokasi, tapi juga memberikan ganti kepada masyarakat yang tempat tinggalnya telah direlokasi dengan ribuan rusun yang jauh lebih layak huni sebagai tempat tinggal baru mereka. Fasilitas-fasilitas tambahan pun juga diberikan seperti layanan kesehatan yang siap siaga selama 24 jam, kemudahan penggunaan transportasi umum dan lain sebagainya.


Disisi lain, masih banyak warga yang belum bisa menerima kebijakan ini meskipun telah diberi penjelasan sedemikian rupa dari pemerintah. Hal ini merupakan suatu celah yang dapat membuktikan bahwa pemerintahan Ahok masih belum memiliki komunikasi yang baik untuk menyosialisasikan kebijakan-kebijakanya. Karena masyarakat Jakarta terdiri dari berbagai macam latar belakang pendidikan, maka cara berkomunikasi yang digunakan kepada masyarakat pun tidak bisa sama dipukul rata dan  perlu adanya strategi-strategi komunikasi yang sesuai agar masyarakat dapat mengerti dan akhirnya menerima kebijakan-kebijakan tersebut.


Selama menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, Ahok dikenal sebagai pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan tempramental. Memang beliau adalah pemimpin yang tegas, namun cara berkomunikasi yang salah menjadikan banyak warga belum bisa menerima  kebijakan yang Ia terapkan. Gaya kepemimpinan yang begitu emosional bahkan tidak segan untuk meledak-ledakkan amarahnya di depan banyak orang, memunculkan asumsi dikalangan masyarakat bahwa Ahok adalah pemimpin yang tidak bisa menahan emosinya. Sedangkan seorang pemimpin yang bijaksana adalah yang mampu menempatkan emosi seusai pada tempatnya. Ahok dianggap kurang dalam Kemampuan mengendalikan dirinya. Sehingga arus komunikasi ke bawah tidak berjalan dengan efektif.


Tidak hanya emosi yang dapat terpancing dengan mudah, bahkan kata-kata kasar yang seharusnya tidak keluar dari mulut orang-orang berpendidikan tidak segan Ahok lontarkan. Tidak ada rasa enggan untuk menahan, didepan publik pun Ia keluarkan. Kritik sana-sini sudah kerap Ahok terima, namun Ia tetap bersikeras mempertahankan karakternya.


Kepada masyarakat  biasa pun Ahok juga bersikap sama, bukankah hal ini merupakan kecacatan komunikasi vertikal jika dilakukan oleh seorang pemimpin kepada masyarakat yang dipimpinya? Komunikasi politik akan berjalan tidak semestinya. Rakyat akan lebih cenderung merasa takut dan tertekan kepada pemimpin daripada merasa segan dan menghormatinya. Ini dapat dikatakan sebagai kemunduran keadaan sosial masyarakat terhadap pemerintah. Memang benar Ahok bersih dan tidak sekedar umbar janji. Namun, apakah tidak bisa memberikan kepemimpinan yang bisa membuat semua warga merasa lebih nyaman.


Seorang pemimpin boleh memiliki sikap tegas, namun Ia tidak seharusnya menunjukkan bagaimana kerasnya Ia di depan umum. Tegas tidak identik dengan perkataan kasar kan? Dewasa ini, DKI Jakarta dengan segala kekompleksanya memang membutuhkan pemimpin yang tegas. Beragamnya latar belakang masyarakatnya memang menjadikan ‘PR’ tersendiri bagi pemimpinya. Tidak hanya pemimpin yang tegas, DKI Jakarta juga membutuhkan pemimpin yang berakhlaq. Tidak bisakah Ahok memperbaiki karakter demi rakyatnya? Bukankah akan lebih sempurna jika Jakarta dipimpin dengan ketegasan Ahok  dan tambahan-tambahan akhlaq baiknya? Masyarakat tidak menantang, hanya menyindir bahwa masyarakat sedang dalam keadaan krisis pemimpin yang berakhlak sebagai role model hidupnya.