Pelajaran dari Gerbong Mutiara Selatan
Dari setiap perjalanan selalu ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran.
Kereta Mutiara
Selatan. Perjalanan Surabaya-Bandung. 26/08/2016. 0.23 am
Entahlah sejak kapan
aku mulai menyukai belajar. Belajar dari berbagai hal, pengalaman, perjalanan,
kisah orang. Apapun itu. Sebagaimana sekarang. Beberapa menit yang lalu duduk
seorang Bapak yang hmm aku baru sadar belum mengenal namanya hingga beliau pamit
turun di stasiun Yogyakarta. Selama dua setengah jam pertamaku duduk di kereta
ini, aku menghabiskan waktu berdiskusi banyak hal dengan beliau. Berbincang
dengan Bapak setengah baya yang mungkin berumur 39 atau 40 tahunan itu
membuatku semakin menikmati perjalanan panjang ini. Banyak hal menjadi topik
perbincangan kami mulai dari keluarga, politik, bisnis, perjalanan beliau di
berbagai negara dan bahkan aku sempat diberinya kontak salah satu bagian
penting di Bukalapak. Ah
terimakasih pak.
Perjalananya dimulai
ketika beliau kuliah. Saat itu sekitar tahun 1993 kurang lebih, beliau
mendaftar di salah satu universitas negri terbaik di negri ini. Lolos. Namun
karena keterbatasan ekonomi orang tuanya baliau terpaksa melepas mimpinya untuk
kuliah di tempat tersebut. Tidak berhenti disitu, Ia tetap berusaha untuk
mendaftar salah satu universitas di kotanya. Memang tidak sebaik universitas
yang pertama. Tak apalah, yang
penting bisa kuliah pikirnya
saat itu. Lolos untuk kedua kalinya, kali ini orang tuanya yang hanya seorang
kuli di salah satu perusahaan swasta menyanggupi biaya kuliahnya yang tidak
begitu besar. Dengan syarat lainya, yaitu tanpa uang jajan termasuk ongkos
transport pulang-pergi. Okelah, deal!.
Tanpa uang jajan dan
transport selama 4 tahun bukan penghalang bagi beliau. Tidak hilang akal, Ia
selalu berusaha mencari peluang. Ketika itu beliau mencoba bekerja di salah
satu toko DVD dengan gaji Rp75.000 per bulan.“Ya saya nebeng aja ke
temen-temen yang satu kampus sama saya. Kalo mereka ga ke kampus yaa saya juga
ga ke kampus. Bisa-bisa semingggu aja habis gaji saya kalo berangkat
sendiri”, kata beliau ketika aku bertanya bagaimana caranya ke kampus yang
memang tidak dekat dari rumahnya itu. Jangankan sepeda motor, sepeda saja tidak
ada. Sejak saat itu, memiliki sepeda motor sendiri masuk ke salah satu
cita-cita besarnya.
Empat tahun di
jurusan teknik sipil beliau seleseikan dengan hasil yang memuaskan. Mencoba
berbagai peruntungan dengan mengikuti beberapa proyek, akhirnya beliau diterima
menjadi karyawan disalah satu perusahaan di Semarang dengan gaji Rp750.000 per
bulan. Gaji pertamanya Ia gunakan untuk membeli motor secara kredit sebesar
Rp400.000, sisanya Ia berikan kepada orang tuanya. Salah satu mimpinya
tercentang. Motor bebek Supra-X, adalah kendaraan pribadi pertamanya. Bangga?
Pasti. Siapa yang tidak bangga memiliki barang dengan usaha sendiri.
Setelah setengah
tahun bekerja di Semarang, beliau mendapat tawaran dari temanya untuk bekerja
di Ibu Kota. Habis untuk kredit motor dan biaya sehari-hari, gajinya tidak
bersisa untuk biaya ke Jakarta. Nekat dan yakin Ia memiliki nasib yang lebih
baik di Jakarta, Ia beranikan untuk meminjam perhiasan adik perempuanya untuk
digadaikan. Hanya Rp110.000 yang Ia dapat dari hasil pegadaian perhiasan itu.
Tidak usah ditanya cukup atau tidak untuk biaya hidup di Jakarta, sudah jelas
sekali nominal se-tidak besar itu tidak ada apa-apanya di Ibu Kota. Lagi-lagi
karena nekat, Ia beranikan untuk tetap berangkat. Beliau berangkat dari rumah
orang tuanya. Biaya transport Purwokerto-Jakarta Rp60.000 saat itu.
Sisanya habis untuk makan tiga kali di Jakarta.
Hidup di Jakarta
ternyata tidak semudah harapan beliau. Modalnya habis di hari pertama,
sedangkan pekerjaan pasti belum ada yang memanggilnya. Satu bulan menjadi
parasit teman adalah satu-satunya pilihan agar bisa bertahan hidup di sana.
Lagi-lagi, Ia harus bekerja serabutan mengikuti proyek sana-sini hingga
akhirnya ada orang baik merekrutnya. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, beliau
menunjukan kualitas diri dan keprofesinalitasan kerja yang baik. Dari situlah
karier beliau mulai berkembang. Mendapat kepercayaan untuk memimpin banyak
proyek di Indonesia.
“Dulu itu saya nda
pernah bermimpi bisa naik pesawat. Terlalu tinggi kayanya. Alhamdulillah
sekarang sudah sampe bosan naik pesawat. Ini makanya saya milih kereta aja”. Kehidupan memang seperti roda, ada
saatnya kita berada di bawah dan ada saatnya kita berada di atas. Dulu ketika
masa kuliahnya, bisa dibilang beliau termasuk golongan kurang mampu di
angkatanya. Namun sekarang, beliau termasuk golongan yang bisa dianggap sukses
di angkatanya. Sudah berbagai kota di Indonesia beliau tapaki, tidak jarang
juga negara-negara tetangga hingga korea dan cina.
Yah begitulah kurang
lebih obrolan dua jam setengah kami jika dirangkum ke dalam sebuah cerita
singkat. Selalu ada pelajaran. Kali ini, aku seperti lebih diyakinkan bahwa
kesuksesan tidak semerta-merta ada secara instan. Cerita perjuangan Ayah,
perjuangan Pak Habibie, perjuangan Pak Chairul Tanjung, perjuangan Om Yudha,
perjuangan Pak Imron, Perjuangan-perjuangan hebat lainya, ah banyak sekali.
Dari banyak cerita perjuangan yang sudah kudengar, aku jadi seperti ingin
membuat cerita perjuangan dalam versiku. Cerita perjuanganku yang nanti akan
aku ceritakan ke anak-cucu. Atau bahkan cerita perjuanganku yang tidak akan
habis dimakan waktu.
Itulah mengapa aku
selalu lebih memilih kereta daripada lainya. Karena di kereta aku selalu
menemukan orang-orang baru dengan pelajaran-pelajaran baru. Oh iya, tanpa harus
aku tau siapa namanya. Dalam hidup kita kadang memang dihadirkan orang-orang
yang muncul hanya sekilas untuk kita ambil banyak pelajaran darinya.
Hmm.. AC gerbong
kereta ini semakin terasa dingin dan sepertinya lebih baik aku juga ikut
terlelap seperti penumpang lainya.
Terimakasih pelajaran
untuk malam ini pak.