Yeay! Meet Him.
Langit Jatinangor
terlihat begitu sesak dengan awan-awan gelapnya. Aku memandang dari kejauhan dengan
kesendirian makan siangku. Tunggu. Bukan makan siang kurasa, ini makan
pertamaku di hari ini. Kemudian aku melihat jam. Oh benar, ternyata ini makan
siang. Jam di tangan kiri ku menunjukkan pukul 14.33. Makan siang? Ah sudahlah
tidak perlu didebatkan kukira. Aku kembali memandang langit. Masih gelap dan
sepertinya tidak akan bersahabat.
Kembali aku melanjutkan kesendirianku dengan semangkuk sup iga yang baru
saja datang menemani.
Kepulan asap dari mangkuk
sup iga tidak berhasil mengalihkan pikiranku. Pikiran yang tidak habis pikir
saja bahwa beberapa jam yang lalu aku baru saja bertemu dengan salah satu idola
hidupku. Seseorang yang mampu memberi dampak begitu besar bagi opsi masa
depanku. Gila! Bahkan dengan embel-embel reporter, aku bisa bercakap denganya.
Menyampaikan rasa terimakasih yang selama ini hanya ku kira angan semata.
Mengabadikan momen itu dengan lensa lusuhku. Berharga sekali bukan?.
Sejenak aku mencicip kuah
sup iga yang entah mengapa asapnya masih saja mengepul mengejek kesendirianku.
Biarlah, tinggal menunggu waktu saja dan akan kuhabisi kau hai sup iga. aku
memilih tersenyum tidak peduli. Pikiranku masih tidak percaya dengan kejadian
tadi. Ada rasa bangga terselip, ketika aku mengingat bagaimana mula aku bisa
menjadikanya sebagai sosok idola. Pikiran ini melayang kembali mengingat
kejadian tujuh tahun yang lalu. Ketika salah seorang teman satu pesantren meminjamiku
sebuah buku fiksi dengan 432 halamanya. Hei, saat itu aku masih seorang bocah
kelas 1 SMP. Entahlah, tapi buku tebal dengan judul “Negeri 5 Menara” itu bagai memiliki kekuatan magis yang
menyihir. Sebuah candu yang menuntutku agar membacanya sampai habis. Ku pikir
itu buku tebal pertama yang berhasil ku lalap habis. Dan dampak yang kuterima setelah
membaca buku itu begitu luar biasa dalam hidupku. Tidak hanya ketika aku
menyeleseikan bab demi babnya, namun hingga saat ini. Ketika tujuh tahun
berlalu dari momen itu. Dan mungkin hingga nanti-nanti.
Alif Fikri, seorang tokoh
utama dalam buku itu dengan kisah perjalanan hidup yang begitu hebat, memberikanku satu sentilan agar aku membuka mata. Sentilan yang berhasil
mengubah pola pikir untuk mengembangkan kepakan mimpiku agar ia dapat
menjangkau yang lebih tinggi. Sentilan yang juga aku jadikan sebagai sebuah
panutan masa depan. Bahkan, aku bagai ingin memiliki cerita hidup yang sama
denganya. Aku merasa mimpi-mimpi Alif juga sepertinya cocok untukku. Kemudian
aku mulai merancang banyak hal terkait mimpi. Sama seperti yang dilakukan Alif
dalam buku itu. Aku mulai tertarik dan mencari tau banyak hal tentang masa
depan, beasiswa, luar negri. Ya, Sama seperti yang dilakukan Alif.
Pola pikir yang terpengaruh kisah Alif ternyata
juga berdampak pada karakterku. Aku ingat, saat itu aku berada di kelas 1 SMA. Ketika
itu giat sekali aku mencari informasi beasiswa sejak SMP, sampai akhirnya aku
mendapat satu informasi tentang beasiswa pertukaran pelajar yang dikhususkan
bagi anak-anak SMA. Beasiswa Bina Antar Budaya yang bekerja sama dengan
beberapa lembaga pertukaran di luar negri seperti YES, AFS, dan lainya. Senang
sekali rasanya. Semangat pun bertambah berkali lipat. Bagaimanapun caranya, aku
harus mengusahakan agar sekolah dapat mengundang lembaga itu setidaknya untuk
sosialisasi terkait seperti apa teknisnya.
Jangan bayangkan
mengundang lembaga Bina Antarbudaya semudah membalikkan telapak tangan.
Sekolahku bukan sekolah biasa. SMA asrama swasta berbasis Islam dengan seluruh
murid perempuan dan peraturan-peraturan ketatnya. Jangankan bermedia sosial
ria, penggunaan telefon genggam saja begitu terbatas. Susah sekali mencari
informasi sendiri tentang bagaimana cara mengundang mereka. Saat itu aku harus
membujuk sedemikian rupa agar perijinan dapat turun dari bagian direktorat
sekolah, hingga ada salah satu guru yang menyetujui usulku. Hanya satu, yang
lainya entahlah aku tidak tau. Satu guru ini mendukung usulku dan bersedia
membantu mendatangkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Yap, dengan proses yang
panjang dan persetujuan sana-sini. Akhirnya beberapa perwakilan dari Bina Antar
Budaya datang ke sekolah, memaparkan sedikit banyak tentang beasiswa pertukaran
pelajar.
Tidak berhenti disitu, setelah
berhasil menghadirkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Aku dan sekitar 19
orang lain dari sekolah mendaftar beasiswa pertukaran budaya. Lagi-lagi penuh
perjuangan. Pengisian data pendaftaran yang begitu banyak harus dilakukan
melalui internet, sedangkan peraturan sekolah tidak membebaskan penggunaan internet
bagi setiap muridnya. Dengan lobi dan bantuan satu guru tadi, akhirnya aku
mendapat tiga jatah password internet
yang harus dibagi kepada sembilan belas orang temanku. Jadilah kami harus
pintar-pintar membagi waktu untuk memasukkan data yang tidak sedikit. Selain
itu, aku juga harus mempersiapkan seleksi tahap satu yang kabarnya akan
mengujikan pengetahuan umum. Buku Rangkuman
Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) menjadi sahabatku kala itu. Dimana ada
aku, RPUL pun tak tertinggal.
Dari dua puluh orang yang daftar dari sekolahku,
ada empat orang yang lolos menuju seleksi tahap kedua. Dan salah satunya adalah
aku. Bersyukur sekali saat itu, tapi perjuangan masih panjang sekali pikirku.
Di seleksi tahap kedua, ada dua orang yang lolos dari sekolahku. Dan salah
satunya adalah aku. Kali ini, aku tidak boleh cepat puas masih banyak
tahap-tahap lain di depan. Di seleksi tahap ketiga, hanya ada satu orang yang
lolos dari sekolahku. Dan itu aku. Iya, seharusnya mungkin sekarang aku sudah
memiliki pengalaman pertukaran pelajar. Namun, tidak. Takdir berkata lain
sepertinya. Tuhan berkata Tunggu dulu, sekarang bukan saatnya. Saat itu, ketika
seharusnya aku mengikuti seleksi nasional tahap terakhir, tiba-tiba sekolah
mengadakan rapat dengan orang tuaku yang langsung dipimpin oleh presiden
direktur sekolah. Sebegitu penting ternyata. Dan dengan berbagai pertimbangan,
sekolah dan orang tuaku akhirnya tidak memberikan ijin untuk melanjutkan proses
seleksi. Dengan berlapang dada dan percaya akan kejutaNya, maka aku relakan
kesempatan ini.
Tidak hanya itu, dalam buku tebal tadi Alif dikisahkan
bahwa Ia menempuh pendidikanya di salah satu universitas besar di Indonesia.
Universitas Padjajaran. Ah, hal ini juga sangat mempengaruhiku. Menginspirasi
untuk menantang diri menjadikan Unpad sebagai target utama tempat melanjutkan
pendidikanku. Aku yang hanya seorang murid SMA di bawah bukit banyak, di salah
satu desa kecil di kota Batu Jawa timur resmi menjadi mahasiswi Unpad pada Juli
2015. Ya tentu, lagi-lagi melalui perjuangan.
Terimakasih Alif, terimakasih. Kisah panjangmu
dalam buku tebal yang sangat candu bagiku tujuh tahun lalu, membawa dampak
positif begitu besar dalam hidupku. Semangat mu adalah pelatuk semangat diriku.
Tidak hanya kemarin dan sekarang, tapi juga nanti. Semangat yang akan menjadi
jariyah. Semangat yang akan terus mengalir.
Dan idola
yang beberapa jam lalu baru saja aku temui adalah lakon dibalik kisah Alif. Alif
adalah representasinya. Kisah hidup Alif adalah representasi kisah hidupnya. Sang
penulis dengan hidup yang tidak sederhana. Boleh aku menyebutnya dengan hidup
yang hebat, hidup yang kuat, luas, besar, dan bermanfaat?. Ah terimakasih Uda
Ahmad Fuadi atas kisah hidupmu, kau lihai sekali membungkus sedemikian cantik
hingga aku terbawa arus positifnya.
Aku tersenyum lagi, menyadari sup iga yang
sudah mulai dingin dan awan Jatinangor semakin menjadi, segera aku menghabiskan
sisa-sisa iga dan bersiap melakukan perjalanan 31.9 KM menuju Jatinangor dengan
motor matic berplat W ku. Dan tentu, aku harus menghadapi gerombolan awan hitam
itu sendiri.
| Interview untuk radio mahasiswa unpad |
| Makasih thara, udah nemenin interview |
| Uda Ahmad Fuadi dan Aku |
Kamis, 17 November 2016
Sepulang dari liputan acara Scholarship
Expo 2016 di Unpad Dipati Ukur