Kamis, 17 November 2016

Curhat yak


Yeay! Meet Him.

Langit Jatinangor terlihat begitu sesak dengan awan-awan gelapnya. Aku memandang dari kejauhan dengan kesendirian makan siangku. Tunggu. Bukan makan siang kurasa, ini makan pertamaku di hari ini. Kemudian aku melihat jam. Oh benar, ternyata ini makan siang. Jam di tangan kiri ku menunjukkan pukul 14.33. Makan siang? Ah sudahlah tidak perlu didebatkan kukira. Aku kembali memandang langit. Masih gelap dan sepertinya tidak akan bersahabat.  Kembali aku melanjutkan kesendirianku dengan semangkuk sup iga yang baru saja datang menemani.

Kepulan asap dari mangkuk sup iga tidak berhasil mengalihkan pikiranku. Pikiran yang tidak habis pikir saja bahwa beberapa jam yang lalu aku baru saja bertemu dengan salah satu idola hidupku. Seseorang yang mampu memberi dampak begitu besar bagi opsi masa depanku. Gila! Bahkan dengan embel-embel reporter, aku bisa bercakap denganya. Menyampaikan rasa terimakasih yang selama ini hanya ku kira angan semata. Mengabadikan momen itu dengan lensa lusuhku. Berharga sekali bukan?.

Sejenak aku mencicip kuah sup iga yang entah mengapa asapnya masih saja mengepul mengejek kesendirianku. Biarlah, tinggal menunggu waktu saja dan akan kuhabisi kau hai sup iga. aku memilih tersenyum tidak peduli. Pikiranku masih tidak percaya dengan kejadian tadi. Ada rasa bangga terselip, ketika aku mengingat bagaimana mula aku bisa menjadikanya sebagai sosok idola. Pikiran ini melayang kembali mengingat kejadian tujuh tahun yang lalu. Ketika salah seorang teman satu pesantren meminjamiku sebuah buku fiksi dengan 432 halamanya. Hei, saat itu aku masih seorang bocah kelas 1 SMP. Entahlah, tapi buku tebal dengan judul “Negeri 5 Menara”  itu bagai memiliki kekuatan magis yang menyihir. Sebuah candu yang menuntutku agar membacanya sampai habis. Ku pikir itu buku tebal pertama yang berhasil ku lalap habis. Dan dampak yang kuterima setelah membaca buku itu begitu luar biasa dalam hidupku. Tidak hanya ketika aku menyeleseikan bab demi babnya, namun hingga saat ini. Ketika tujuh tahun berlalu dari momen itu. Dan mungkin hingga nanti-nanti.

Alif Fikri, seorang tokoh utama dalam buku itu dengan kisah perjalanan hidup yang begitu hebat, memberikanku satu sentilan agar aku membuka mata. Sentilan yang berhasil mengubah pola pikir untuk mengembangkan kepakan mimpiku agar ia dapat menjangkau yang lebih tinggi. Sentilan yang juga aku jadikan sebagai sebuah panutan masa depan. Bahkan, aku bagai ingin memiliki cerita hidup yang sama denganya. Aku merasa mimpi-mimpi Alif juga sepertinya cocok untukku. Kemudian aku mulai merancang banyak hal terkait mimpi. Sama seperti yang dilakukan Alif dalam buku itu. Aku mulai tertarik dan mencari tau banyak hal tentang masa depan, beasiswa, luar negri. Ya, Sama seperti yang dilakukan Alif.

 Pola pikir yang terpengaruh kisah Alif ternyata juga berdampak pada karakterku. Aku ingat, saat itu aku berada di kelas 1 SMA. Ketika itu giat sekali aku mencari informasi beasiswa sejak SMP, sampai akhirnya aku mendapat satu informasi tentang beasiswa pertukaran pelajar yang dikhususkan bagi anak-anak SMA. Beasiswa Bina Antar Budaya yang bekerja sama dengan beberapa lembaga pertukaran di luar negri seperti YES, AFS, dan lainya. Senang sekali rasanya. Semangat pun bertambah berkali lipat. Bagaimanapun caranya, aku harus mengusahakan agar sekolah dapat mengundang lembaga itu setidaknya untuk sosialisasi terkait seperti apa teknisnya.

Jangan bayangkan mengundang lembaga Bina Antarbudaya semudah membalikkan telapak tangan. Sekolahku bukan sekolah biasa. SMA asrama swasta berbasis Islam dengan seluruh murid perempuan dan peraturan-peraturan ketatnya. Jangankan bermedia sosial ria, penggunaan telefon genggam saja begitu terbatas. Susah sekali mencari informasi sendiri tentang bagaimana cara mengundang mereka. Saat itu aku harus membujuk sedemikian rupa agar perijinan dapat turun dari bagian direktorat sekolah, hingga ada salah satu guru yang menyetujui usulku. Hanya satu, yang lainya entahlah aku tidak tau. Satu guru ini mendukung usulku dan bersedia membantu mendatangkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Yap, dengan proses yang panjang dan persetujuan sana-sini. Akhirnya beberapa perwakilan dari Bina Antar Budaya datang ke sekolah, memaparkan sedikit banyak tentang beasiswa pertukaran pelajar.

Tidak berhenti disitu, setelah berhasil menghadirkan lembaga Bina Antar Budaya ke sekolah. Aku dan sekitar 19 orang lain dari sekolah mendaftar beasiswa pertukaran budaya. Lagi-lagi penuh perjuangan. Pengisian data pendaftaran yang begitu banyak harus dilakukan melalui internet, sedangkan peraturan sekolah tidak membebaskan penggunaan internet bagi setiap muridnya. Dengan lobi dan bantuan satu guru tadi, akhirnya aku mendapat tiga jatah password internet yang harus dibagi kepada sembilan belas orang temanku. Jadilah kami harus pintar-pintar membagi waktu untuk memasukkan data yang tidak sedikit. Selain itu, aku juga harus mempersiapkan seleksi tahap satu yang kabarnya akan mengujikan pengetahuan umum. Buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL) menjadi sahabatku kala itu. Dimana ada aku, RPUL pun tak tertinggal.

Dari dua puluh orang yang daftar dari sekolahku, ada empat orang yang lolos menuju seleksi tahap kedua. Dan salah satunya adalah aku. Bersyukur sekali saat itu, tapi perjuangan masih panjang sekali pikirku. Di seleksi tahap kedua, ada dua orang yang lolos dari sekolahku. Dan salah satunya adalah aku. Kali ini, aku tidak boleh cepat puas masih banyak tahap-tahap lain di depan. Di seleksi tahap ketiga, hanya ada satu orang yang lolos dari sekolahku. Dan itu aku. Iya, seharusnya mungkin sekarang aku sudah memiliki pengalaman pertukaran pelajar. Namun, tidak. Takdir berkata lain sepertinya. Tuhan berkata Tunggu dulu, sekarang bukan saatnya. Saat itu, ketika seharusnya aku mengikuti seleksi nasional tahap terakhir, tiba-tiba sekolah mengadakan rapat dengan orang tuaku yang langsung dipimpin oleh presiden direktur sekolah. Sebegitu penting ternyata. Dan dengan berbagai pertimbangan, sekolah dan orang tuaku akhirnya tidak memberikan ijin untuk melanjutkan proses seleksi. Dengan berlapang dada dan percaya akan kejutaNya, maka aku relakan kesempatan ini.

Tidak hanya itu, dalam buku tebal tadi Alif dikisahkan bahwa Ia menempuh pendidikanya di salah satu universitas besar di Indonesia. Universitas Padjajaran. Ah, hal ini juga sangat mempengaruhiku. Menginspirasi untuk menantang diri menjadikan Unpad sebagai target utama tempat melanjutkan pendidikanku. Aku yang hanya seorang murid SMA di bawah bukit banyak, di salah satu desa kecil di kota Batu Jawa timur resmi menjadi mahasiswi Unpad pada Juli 2015. Ya tentu, lagi-lagi melalui perjuangan.

Terimakasih Alif, terimakasih. Kisah panjangmu dalam buku tebal yang sangat candu bagiku tujuh tahun lalu, membawa dampak positif begitu besar dalam hidupku. Semangat mu adalah pelatuk semangat diriku. Tidak hanya kemarin dan sekarang, tapi juga nanti. Semangat yang akan menjadi jariyah. Semangat yang akan terus mengalir.

 Dan idola yang beberapa jam lalu baru saja aku temui adalah lakon dibalik kisah Alif. Alif adalah representasinya. Kisah hidup Alif adalah representasi kisah hidupnya. Sang penulis dengan hidup yang tidak sederhana. Boleh aku menyebutnya dengan hidup yang hebat, hidup yang kuat, luas, besar, dan bermanfaat?. Ah terimakasih Uda Ahmad Fuadi atas kisah hidupmu, kau lihai sekali membungkus sedemikian cantik hingga aku terbawa arus positifnya.

Aku tersenyum lagi, menyadari sup iga yang sudah mulai dingin dan awan Jatinangor semakin menjadi, segera aku menghabiskan sisa-sisa iga dan bersiap melakukan perjalanan 31.9 KM menuju Jatinangor dengan motor matic berplat W ku. Dan tentu, aku harus menghadapi gerombolan awan hitam itu sendiri.

 
Interview

Interview untuk radio mahasiswa unpad


Makasih thara, udah nemenin interview
Uda Ahmad Fuadi dan Aku



Kamis, 17 November 2016
Sepulang dari liputan acara Scholarship Expo 2016 di Unpad Dipati Ukur