Minggu, 25 September 2016
Ah Senja!
Menjadi Bermanfaat
Lagi-lagi pikiranku berdebat sendiri.
“Tidak. Tenang, Aku tidak seapatis itu. Aku tidak seegois itu. Toh nanti
aku akan menjadi seorang yang berguna untuk negri. Toh nanti aku akan
berkontribusi. Nanti aku akan.. Nanti.. Nanti..”
“Jangan nanti. Hei, lihatlah waktuku akan terbuang sia. Aku mahasiswa.
Aku harus tau diri. Keberadaanku harus berdampak baik. Bukan main, menjadi
bermanfaat di tempatku tinggal adalah sebuah keharusan kan!”
Sedikit dari topik perdebatan isi
kepalaku. Itu hanya secuplik yang menyadarkan. Menjadi titik balik sekaligus
menyalakan kembali percikan kepedulian terhadap ibu pertiwi.
Pernah berada di ujung kegelisahan
tentang apa guna sebagai mahasiswa? Hmm itulah yang aku rasakan semester lalu.
Saat itu mengasah skill untuk masa
depan menjadi prioritas utamaku. Organisasi ini dan itu aku ikuti. Tapi tidak
satupun yang berbau kontribusi untuk negri. Egois memang. Hingga gelisah itu
datang secara perlahan. Mengetuk lembut nurani batinku.
Dulu sebelumnya, memang pernah aku bergabung
dengan salah satu organisasi yang ‘katanya’ akan bergerak dalam bidang
pendidikan di Indonesia. Tapi entahlah, kabarnya jadi semakin tidak jelas
sekarang. Pernah juga aku dan beberapa teman mencoba untuk membuat organisasi
sosial yang juga bergerak dalam pendidikan. Tapi entahlah, satu persatu dari
kami menghilang dalam kesibukan. Termasuk aku.
Iya saat itu. Kemudian rasa
kepedulian itu hampir hilang, tersamarkan oleh ambisi pribadi.
Selama satu semester lamanya aku
berkutat dengan prioritas utamaku. Hasil sempurna pun aku dapatkan sebagai upah
dari itu. Aku senang. Aku bersyukur. Tapi di sisi lain aku merasa bersalah.
Ketika melihat sekitar aku merasa sedih. Dengan adanya aku dan hasil baik yang
telah ku raih masih belum bisa memberi arti kepada lingkungan ini. Lingkungan
yang dijuluki sebagai daerah pendidikan bukan karena kualitas. Tapi karena
kuantitas kampus yang didirikan besar-besar di dalamnya.
Beranjak ke semester baru,
kegelisahan semakin menjadi. Apa yang
bisa aku lakukan untuk berkontribusi? Ah Pertanyaan ini benar-benar
mengusik. Sampai akhirnya, ada seorang teman datang kepadaku. Membawa kabar tentang JEC. Jatinangor
Education Care. Dan disitulah aku mulai merealisasikan kegelisahanku.
Dengan beberapa proses formalitas,
akhirnya aku bisa bergabung dengan mereka. Yeay! Menjadi bagian dari mereka
adalah kebahagiaan. Bagaimana tidak, aku memiliki keluarga baru sekarang.
Keluarga dengan pemikiran luar biasa. Keluarga dengan jiwa-jiwa yang mulia.
Kami tidak terikat. Juga tidak ada paksaan.
Organisasi ini adalah ..
Sebuah lembaga independen yang peduli
dan bergerak di bidang pendidikan. JEC hadir untuk memfasilitasi anak-anak muda
di Jatinangor sebagai bagian dari masyarakat, untuk dapat memberikan kontribusi
nyata bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat Jatinangor serta Indonesia
dalam skala yang lebih luas. Dan memiliki tujuan
untuk menjalankan tanggung jawab sosial mahasiswa sebagai kaum intelektual muda
yang memiliki pengetahuan dan kapasitas lebih dalam membantu mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Begitu kurang lebih.
Disini aku memilih untuk
menjadi pengajar Al-Qur’an dengan 17 orang lainya. Ada pilihan lain sebenarnya,
ada bahasa inggris dan juga seni. Semuanya penting ku pikir. Tapi Qur’an adalah
dasar. Selain itu, Ayah dan Ibuk selalu mengusulkan agar aku mengisi waktu
luangku menjadi guru ngaji. Mengamalkan apa yang sudah aku pelajari. Oh iya,
ada satu lagi yang menjadi motivasiku memilih bidang ini
خَيْرُكُم مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Yaps,
dalam hadits riwayat Imam Bukhari ini disebutkan bahwa “Sebaik-baik
kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkanya.”
Sudah
terhitung lima kali aku mengajar. Bahagia sekali rasanya. Memang bukan di
tempat yang besar. Hanya di Musholla kecil dan sederhana di daerah Cincin. Tapi
kebahagiaan tidak melulu hadir dari hal-hal yang besar kan? Di sini aku
merasakan bagaimana senangnya saat kehadiranku selalu diharapkan oleh
murid-muridku. Bagaimana mereka selalu berlari dan memelukku demi menyambut
kedatanganku. Ah belum lagi ketika aku tidak bisa hadir karena ada kewajiban
yang lain, mereka pasti akan mencari dan menanyakan kabarku kepada pengajar
yang lain.
Seberapapun
lelahnya, akan aku usahakan untuk bertemu mereka. Toh, lelahku akan hilang
dengan semangat mereka. Melihat mereka antusias berbaris mengantri untuk aku
simak bacaanya, sepertinya lelahku akan tau diri untuk tidak datang di waktu
yang salah. Karena di sisi lain hatiku berharap kelak ketika mereka menjadi
manusia-manusia hebat untuk agama dan negri, disitu ada sedikit campur
tanganku ini.
![]() |
| Pengajar Qur'an, tapi ga lengkap nih |
| Mega, Agung, Fani, Fajar, Sandi, sama satu lagi ga jelas hehe |
![]() |
| JEC angkatan 2016-2017 : Pemuda-pemudi hebatku ! |
Sumber definisi JEC : https://jatinangoreducationcare.wordpress.com/
Ah Senja!
Rasanya Jadi Talent
Memang suka unik tugas di Fakultasku.
Mungkin ini salah satunya, tugas mata kuliah Komunikasi Antar Pribadi. Yaps, tugas
kita adalah membuat video sesuai dengan topik yang sudah ditentukan. Kebetulan kelompokku mendapat topik tentang “Hubungan
Beda Usia”
Sebenarnya banyak yang ingin kita
sampaikan tentang hubungan beda usia ini. Tapi karena ketentuan dari film
pendek untuk tugas tidak boleh melebihi batas waktu yang ditentukan, yaitu
maksimal lima menit. Yasudahlah, akhirnya kita buat sesingkat mungkin dengan
poin-poin yang sudah kita diskusikan.
Kemudian aku dan kelompokku melanjutkan berdiskusi tentang jalan
cerita dan tetek bengek dalam film pendek yang akan kita buat. Dan tiba-tiba, salah satu dari anggota kelompok mengusulkan agar aku saja yang menjadi talent
perempuanya. Belum sempat menolak, anggota lain juga setuju karena alasan ini
dan itu.
Aku sempat ragu dengan usulan itu.
Banyak yang membuatku tidak yakin terutama dengan adegan-adegan yang bertolak
dengan prinsipku. Di sisi lain, aku juga ingin mencoba hal baru. Meskipun itu
bukan bidangku.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya okelah aku setuju tapi dengan satu syarat.
Tidak ada pegangan tangan atau saling bersentuhan dalam adegan film pendek ini.
Dan mereka pun setuju. Aku bersyukur memiliki teman seperti mereka. Menghargai
aku dan prinsipku.
Mungkin terdengar sedikit aneh untuk
mereka yang belum tau ilmunya. Tapi untuk aku yang sudah pernah belajar lama
tentang ilmu agama. Aku tau hukumnya.
Iya, aku memang tidak sesempurna ‘mereka-mereka’
yang biasa dipanggil ukhti. Aku belum sekuat mereka mempertahankan prinsip.
Suka salut dan kadang iri sih, tapi aku mencoba untuk tetap berusaha. Meskipun keadaan
iman dan hati ini kadang tidak terduga.
Memang dalam hal lainya aku belum
sempurna. Pakaian dan jilbabku misalnya. Tapi untuk yang satu ini, aku
benar-benar ingin mempertahankanya. Meminimalisir bersentuhan langsung dengan lawan jenis yang bukan mahromku.
Iman ini belum sekuat itu ternyata.
Untuk meyakinkan hati dan diriku, aku butuh waktu lama untuk berpikir. Dalam lingkungan
ini, hal itu tidak semudah dalam zona nyamanku dulu. Belum lagi masa depanku.
Menjadi seorang reporter dengan berbagai narasumber. Apa aku bisa?...
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang Ayah. Ayah selalu berharap aku menjadi anak perempuanya yang selalu
terjaga.
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang Ibuk. Ibuk selalu berharap aku menjadi putrinya yang baik dengan
amalan-amalan surga.
Kemudian Allah mengirim bayangan
tentang seseorang di masa depan. Mereka biasa menyebutnya takdir. Dan kurasa
itu cerminankan?
Kemudian Allah menyadarkan. Aku dan
masa depanku adalah milikNya. Sudah tidak seharusnya aku mengkhawatirkan apakah
perintahNya akan menjadi penghalang.
Hal ini bukan penghalang memang. Namun pelatih, yang akan melatih bagaimana cara mengasah otakku untuk tetap berkarya dalam
koridorNya. Ya kan?
Selasa, 20 September 2016
Termasuk berjuang kan?
Malam Ini Aku Rindu
-Malam
basah Jatinangor-
Banyak
sekali yang aku pikirkan. Tapi itu tadi. Ketika aku harus menjalankan tugas
liputan dan mengikuti beberapa rapat kepanitiaan. Setelah semua itu terlalui,
pikiran ini kembali lagi sepi. Kembali lagi memikirkan perasaan. Entahlah. Aku
sudah berusaha untuk tenggelam dalam berbagai kesibukan. Tiga kepanitaan dan
beberapa organisasi aku ikuti. Bukan. Bukan semata-mata aku ingin menjadi
mahasiswa produktif. Itu hanya alasan kesekian. Yang paling utama masih perasaanku. Perasaanku tentangmu adalah alasanku ingin tenggelam dalam kegiatan-kegiatan kampusku. Susah sekali
bagiku untuk menerka-nerka hubungan yang sedang kita jalani dan aku lelah
berputar-putar dalam tebakan tak berujung ini. Oh iya aku lupa. Kita hanya
teman kan. Ah aku memang mengatakanya, tapi aku juga menolaknya.
Pikiranku
sering sekali berdialog memastikan bagaimana keadaan hati. Tidak hanya
berdialog, berdebat kusir juga kukira.
Terkadang
aku berasumsi keadaan seperti ini adalah keadaan yang terbaik untuk kita. Tidak
ada kabar. Tidak ada sapaan. Perasaan itu lebih baik aku simpan rapat-rapat.
Tapi aku tetap wanita. Aku tetap perempuan normal yang kadang juga bisa
merasakan...rindu.
Terkadang
aku berasumsi harus menjadi wanita kuat. Wanita yang tidak akan pernah kalah
dengan perasaan-perasaan itu. Tapi aku melupakan satu hal. Sebagai manapun
kuatnya, kata wanita masih menggandeng asumsiku itu.
Malam
ini aku rindu.
Kamu
tau beberapa menit yang lalu aku tidak berhenti tersenyum ketika tidak sengaja
aku melihat ada notif darimu di salah satu akun media sosial ku. Seolah alam
mendukung rasa rinduku. Dan aku membenarkanya.
Malam
ini aku rindu.
Kamu
tau lagi-lagi aku tersenyum ketika melihat foto kita yang sengaja kutempel di
dinding kamarku. Jangan salah sangka. Tidak hanya kamu. Itu foto bersama ketika
dulu kita berada di suatu acara yang sama.
Malam
ini aku rindu.
Kamu
tau sebenarnya aku tidak suka berlarut dalam keadaan seperti ini. Tapi aku
mengalah untuk malam ini. Aku memberikan celah kepada rindu untuk memenuhi
pikiran ku hanya untuk malam ini. Aku mengalah karena aku memang rindu.
Malam
ini aku rindu.
Kamu
tau ketika aku rindu aku hanya membiarkan ia mampir sebentar dan kemudian
yasudahlah aku persilahkan yang lain untuk menggantikanya. Ambisi misalnya.
Tapi tenanglah, aku masih normal. Aku masih memberikan kesempatan kepada diriku
untuk merindumu.
Ada
hal yang selalu mengusikku. Saat ini aku memang sedang menaruh hati padamu.
Tapi kekhawatiran tentang masa depan membuatku lelah. Aku tidak tau bagaimana
nanti. Apakah kita akan dipersatukan atau kita hanya akan menjadi sejarah.
Terkadang aku berpikir kamu terlalu baik bagiku. Namun sisi lain pikiranku
berharap dengan segala hal baik yang ada padamu bisa menjadikanku sebaik
dirimu. Kamu dan segala mimpimu. Entahlah, kadang aku juga berharap itu bisa bersatu
dengan mimpi-mimpiku.
Ketika
aku bermimpi, aku meyakininya. Tapi sebagai manusia aku juga menyadari bahwa
mimpi-mimpi yang sudah aku jajar termasuk menyatukan mimpi kita memiliki
peluang 50% ya dan 50% tidak. Dan seperti kebiasaanku, aku akan selalu
menyiapkan dua hati untuk dua kemungkinan. Itulah alasan mengapa aku tidak
ingin membiarkan rindu ini menetap terlalu lama.
Langganan:
Komentar (Atom)



