Kamis, 12 Mei 2016

Cerita Pendek

Maka Manakah yang Bisa Kau Dustakan?


12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiY03qGK7e2_sN6Ntk48KRianDRBBZGwavJBK68SW8roi2n60KMvj-ajQ84aSGbluwKWQOOe40VXwJuK_LqRnKG7JlxkIJW5p9WA1Su_UQ3E_3nvNZDyO4BJwlu24vNb3GHXI8Y4TjuecS1/s400/55-times.jpg
Hawa dingin kota ini benar-benar tidak mau berkompromi dengan pendatang baru sepertiku. Jam sudah  menunjukkan pukul 01.30 siang waktu Perancis. Harusnya tidak sedingin ini. Tapi entahlah akhir-akhir ini cuaca memang sering tidak menentu. Jaket yang ku pakai sepertinya hanya sedikit membantu. Aku mempercepat langkah sambil mengencangkan jaket yang kukenakan, berharap dapat menolak angin dingin yang tidak sopan menyentuh tubuhku.
Kafe sederhana dengan nama  Le Petit Gourmet menjadi tujuan sekaligus tempat singgahku untuk makan siang kali ini. Salah satu tempat makan milik muslim Perancis  yang menyediakan berbagai macam menu halal untuk pelangganya. Sebenarnya tidak hanya untuk makan siang. Hari ini aku ada janji dengan salah seorang teman dari Indonesia. Namanya Fikri, dia adalah teman satu madrasah ketika kami masih SD di Malang dulu.  Aku tidak tahu persis bagaimana wajahnya sekarang. Aku hanya tahu dari foto yang dia jadikan foto profil di akun facebooknya.
Salut, comment ça va[1], akhirnya datang juga. Apakabar san?” Seorang remaja laki-laki berpakaian modis dengan rambut tersisir rapi menyapa  dan mempersilahkanku duduk di depanya dengan bahasa Indonesia. Ah tidak salah lagi ini pasti Fikri temanku dulu. Wajah jawanya yang khas tidak banyak berubah. Bedanya kini Fikri semakin dewasa dan jauh lebih tampan. Dulu ketika di madrasah dia dekil sekali. Tidak hanya dia sebenarnya, aku juga. Kami dulu dekil sekali,bahkan sepertinya tidak ada teman perempuan di kelas yang mau melirik.
“Fikri Akbar? Alhamdulillah, Je vais bien[2].Nggak nyangka bakal ketemu  di sini. Yo opo kabare rek ?[3] Banyak berubah yaa tambah ganteng ae’’ Aku menyalami tanganya dan segera mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
‘’Aku juga baik san Alhamdulillah. Isok ae san ihsaan[4]. Kau juga banyak berubah. Ndak dekil lagi seperti dulu’’ kamipun menertawakan perubahan kami masing-masing. Memang tidak sulit untuk mencairkan suasana dengan sesama orang Indonesia di luar negri, apalagi dengan Fikri, teman lamaku di kampung dulu. 
‘’ Gimana ceritanya Fik sampai kau bisa terdampar di Le Havre ? Seingatku ketika kita sama-sama lulus dari madrasah, Kau bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah untuk membantu Abahmu di sawah dan berjualan gorengan buatan Emakmu di pasar.’’
‘’Wah, ceritanya panjang sekali san. Nanti akan kuceritakan. Kau sendiri bagaimana ? masih tetap ambisius seperti dulukah ? ceritakan dulu perjalananmu sampai bisa kesini. Tidak main-main loh jaraknya sekitar 7000 mil.’’
                 
***

        “Le tolong bantuin bapak nyelesein pesenan fotokopian di toko yaa, itu besok pagi mau diambil sama yang pesen. Bapak mau ngejilid pesenan yang lain, Ibu lagi nganter adekmu ngaji ke masjid.”
        “Yaaaah pak,Ihsan masih ngerjain tugas. Sekedap nggih pak[5]."
Begitulah keseharianku sebagai seorang anak sulung dari tiga bersaudara, sekaligus sebagai seorang murid di SMKN 8 Malang. Bapak adalah seorang tukang fotokopi , begitu juga dengan Ibu. Kami mempunyai sebuah toko fotokopi sederhana yang menempel dengan rumah bagian depan. Usaha fotokopi ini baru dirintis ketika aku lulus dari madrasah. Dulu Bapak dan Ibu bekerja di sawah sebagaimana  penduduk kampung yang lain. Namun karena tuntutan kebutuhan, Bapak yang memiliki jiwa wirausaha memutuskan untuk menjual salah satu dari dua sawahnya dan dijadikan modal membuka toko fotokopi.
         Aku merasa beruntung meskipun Bapak hanya seorang tukang fotokopi. Setidaknya Aku masih bisa melanjutkan pendidikan sampai jenjang SMK. Keluarga kami tidak kaya. Keluarga kami adalah keluarga yang sederhana. Bapak selalu berkata “Le Meskipun kau hanya anak dari tukang fokopi, Kau harus bisa sekolah tinggi. Kau harus merubah nasib keluarga kita. Bukanya Bapak tidak bersyukur, tapi anak yang hebat harus bisa melebihi kesuksesan Bapaknya. Kesuksesan Bapak ya disini ini jadi tukang fotokopi. Eits..tapi berkah.” Dan kemudian ditutup dengan ketawanya yang khas. Itu nasihat bapak yang hampir seminggu sekali aku mendengarnya.
        Beberapa bulan yang lalu aku resmi menjadi siswa kelas X SMKN 8 Malang. Di sini aku mengambil bidang keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Meskipun sekolah ini adalah SMKN favorit, jangan bayangkan aku adalah seorang siswa yang cerdas dengan piagam bertebaran. Aku hanya anak biasa dari kampung, yang tidak terlalu dikenal dikalangan anak-anak populer. Tapi aku terkenal dikalangan guru-guru. Sekali lagi, bukan karena aku pintar. Aku dikenal sebagai murid yang banyak Tanya. Tujuanku sih sederhana, pertama karena aku sadar tidak sepintar yang lain. Dan kedua, aku memang sengaja ingin dikenal dikalangan guru siapa tau itu berpengaruh pada nilai, atau siapa tau aku bisa menjadi orang pertama yang tau tentang informasi sekolah.
Jika teman-temanku ditanya akan melanjutkan kemana setelah lulus nanti, kebanyakan mereka akan menyebutkan berbagai universitas negri favorit di Indonesia. Entahlah kenapa aku tidak tertarik melanjutkan pendidikan ku di Indonesia. Pernah suatu ketika pulang dari sekolah, aku mampir ke warnet hanya untuk mencari nama universitas terbaik di dunia. Dan ya, Massachusetts Institute of Technology di Amerika berhasil menarik perhatianku. Aku menggali informasi lebih dalam tentang MIT hingga aku benar-benar jatuh cinta dengan universitas ini. Aku putuskan nanti akan melanjutkan sekolahku di sini. Gila bukan. Seorang anak dari kampung hampir terpelosok di kota Malang bercita-cita kuliah di MIT.
MIT seakan menyihirku menjadi anak yang berkali lipat lebih ambisius. Aku katakan pada semua orang, kepada keluarga, guru, dan teman-temanku. Banyak dari mereka yang memandang sebelah mata. Orang tuaku pun hanya bisa tersenyum dan membantu dengan doa. Hingga suatu saat aku mendapat informasi tentang dibukanya pendaftaran beasiswa Bina Antarbudaya (pertukaran pelajar) untuk siswa kelas X di seluruh Indonesia. Salah satu Negara tujuanya adalah Amerika. Jika aku lolos seleksinya, kemungkinan aku bisa berangkat ke Amerika. One step closer to MIT. Pendaftaran dilakukan online dengan membeli pin seharga 50 ribu rupiah. Langsung saja aku mencongkel celenganku di rumah, dan mendaftar lewat warnet langgananku.            
Seleksi tahap pertama adalah seleksi tahap regional Malang, tes tulis dengan materi pengetahuan umum, Bahasa Inggris, dan esai bahasa Indonesia kulalui dengan entahlah, aku tidak bisa mendeskripsikanya. Aku hanya berdoa semoga aku bisa lolos di tahap awal ini. Sebelumnya, telah kulalap habis isi RPUL, bahkan menjadi buku dongeng sebelum tidurku. Kabarnya, ada dua tahap seleksi regional dan dua tahap seleksi nasional. Aku merasa ambisius sekali, setiap sholat aku berdoa agar Allah mengizinkanku lolos di setiap seleksinya. Tidak hanya itu, setiap akan dimulai sholat aku selalu mengingatkan teman-teman untuk mendoakanku di sujud terakhirnya. Karena kata guru agama, berdoa di sujud terakhir termasuk doa yang akan diijabahi.
                Dari 22 anak dari sekolah yang mengikuti seleksi ini, ternyata aku  menjadi satu diantara empat orang yang lolos ke tahap selanjutnya. Tahap kedua adalah seleksi wawancara dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jangan bayangkan bahasa Inggrisku sebagus tiga teman yang lain. Ketika ada tugas berpidato bahasa Inggris di depan kelas saja, aku benar-benar lebih memilih mengurung diri dikamar mandi sekolah sampai jam pelajaran itu habis. Bagaimana dengan ini, aku akan diwawancara oleh beberapa bule Eropa.  Matilah aku. Bahkan rasa gerogi sudah muncul semenjak H+1 pengumuman hasil seleksi tahap pertama. Butuh kerja ekstra mempersiapkan seleksi wawancara. Demi lolos di tahap kedua, aku rela pulang lebih sore untuk menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah dengan kamus dan buku-buku bahasa Inggris.                
Ketika hari seleksi tiba, Aku bangun sangat pagi. Tempat seleksinya jauh dari rumah. Aku harus rela bersepeda demi menghemat biaya. Belum lagi karena rumahku berada di kampung di daerah dataran tinggi. Sebenarnya tidak terlalu jauh untuk ke kota, namun harus melewati sungai yang jembatanya sedang direnovasi. Alhasil, aku harus berputar lebih jauh melewati kebun Apel dan sawah milik warga. Sekitar 1 jam 25 menit aku menghabiskan waktu di perjalanan. Tepat pukul 08.00 pagi aku sampai di kampus ABM Malangkucecwara, tempat pelaksanaan seleksi tahap kedua.Aku merasa sangat percaya diri menjalani tes wawancara dengan bahasa Indonesia. Berbeda dengan saat wawancara bahasa Inggris. Malah bisa dibilang sedikit gagal, meskipun aku sudah menyiapkan apa saja yang akan aku katakan. Rasa gerogi menghilangkan kosakata bahasa Inggrisku yang sudah minim di kepala. Alhasil, aku banyak mengeluarkan bahasa Tarzan ketika wawancara. Sudahlah, aku pasrah dengan hasilnya. Aku juga sudah siap jika tidak lolos ke tahap berikutnya. Seleksi wawancara ini membuatku sedikit putus asa. Mungkin memang belum saatnya aku ke luar negri. Masih banyak yang harus kuperbaiki.
                Pengumuman seleksi regional tahap kedua sudah diumumkan. Aku sama sekali tidak berminat meilhat hasilnya. Aku hanya berdoa jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik.  Bukan pesimis, aku hanya menguatkan hati agar tidak terlalu sedih. Peluang aku lolos mungkin hanya tinggal 30%.
                “Ihsan Fuadi ada dikelas ini?” tiba-tiba Pak Yanto Waka kesiswaan datang ke kelas dan menyuruhku segera ke ruang kesiswaan.                
Tidak butuh waktu lama, aku sudah berada di ruang kesiswaan. Tapi tidak ada anak lain di ruangan ini. Hanya ada aku dan pak Yanto. Aku dan Pak Yanto duduk saling berhadapan, dipisahkan meja kerja yang penuh dengan laporan mingguan anak-anak OSIS.               
 “San, selamat yaa nak. Kau satu-satunya siswa kami yang lolos di seleksi wawancara Bina antarbudaya. Tahap selanjutnya adalah tahap nasional. Di tahap ini, kau akan ke Jakarta dan melawan peserta dari berbagai daerah.” Pak Yanto menyampaikan selamat sekaligus menyalamiku.               
 “Bapak serius? Ah pak, saya hampir tidak percaya. Terimakasih banyak pak.” Mataku berbinar-binar mendengar informasi dari pak Yanto. Berkali-kali aku menyium tanganya dan menyampaikan terimakasih yang sebanyak-banyaknya. Aku benar-benar tidak percaya dengan hasilnya . Jadi setelah ini, aku akan ke Jakarta. Yeaaah, teriakku dalam hati.                
“Iya nak, sekali lagi selamat ya. Minggu depan kau akan pergi ke Jakarta. Tapi biaya ditanggung sendiri san, maaf sekolah tidak bisa membantu karena sedang membutuhkan biaya untuk renovasi gedung bagian depan. Oh ya san, Kau sudah tahu kan? Tahun ini lembaga Bina Antarbudaya bekerjasama dengan dua lembaga yaitu AFS dan YES. Untuk YES memang menyediakan beasiswa full selama satu tahun pertukaran pelajar, namun untuk AFS hanya menyediakan beasiswa partial yang artinya kau harus menyiapkan biaya sebesar 80 juta rupiah. Sisanya baru akan ditanggung oleh AFS. Bagaimana? Bapak sarankan kau tetap mengambil, tapi jika kau merasa keberatan kau bisa resign. Dan bisa mencoba lagi di lain kesempatan.” Pak yanto menjelaskan panjang lebar mengenai apa saja yang harus aku lakukan termasuk jika aku tetap mengambil program ini, aku akan wisuda satu tahun lebih lambat dari teman-teman satu angkatan.              
  “Oh begitu ya pak, baik akan saya diskusikan dulu dengan keluarga. Terimakasih banyak pak. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Aku keluar dari ruangan kesiswaan dengan keadaan bingung. Entah harus senang atau bagaimana. Gila. Jika aku pergi ke Jakarta, tidak mungkin aku meminta biaya dari orang tua. Belum lagi aku tidak ada saudara disana. Tidak mungkin jika menyewa hotel untuk tiga hari. Kemungkinan lolos di program YES juga sangat kecil. Jika aku lolos di program AFS, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu.
                Sepanjang perjalanan pulang aku benar-benar pusing memikirkan haruskah mengambil atau resign saja. Toh jika aku resign, aku bisa memberikan kesempatan untuk yang lain. Aku juga bisa lulus dari SMK ini lebih tepat waktu. Di satu sisi, aku berpikir, kesempatan seperti ini tidak akan terulang kembali. Tidak semua orang mendapat kesempatan emas ini. Aku putuskan untuk diskusi saja dengan keluarga dan dengan Allah. Malam ini aku harus shalat istikharah.               
 “Bapak dan Ibu terserah kamu saja Le, tapi ya mending ndak usah aja. Soalnya Bapak eman sama sekolahmu jadi lebih lama kan, empat tahun. Lagian disana kamu cuma pertukaran budaya.” Begitu kata Bapak. Aku tahu sebenarnya tidak hanya itu alasan Bapak, keadaan ekonomi keluarga kami sedang menurun. Adik bungsuku baru saja keluar dari rumah sakit, dan itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Saat istikharah, aku curahkan semua kepada Allah. Aku menangis diatas sajadah. Sekali lagi aku berdoa  jika itu jalanku maka permudahlah. Namun jika tidak, berilah ganti yang lebih baik. Aku ceritakan semua mimpi-mimpiku. Tentang pertukaran pelajar ini, biayanya. Semua aku katakan kepada Allah.                
Akhirnya aku putuskan untuk resign. Aku percaya ini adalah keputusan yang terbaik, karena Allah akan memberikan lebih dari apa yang aku harapkan. Keputusan ini memacu semangatku agar bisa lebih berprestasi di sekolah. Cepat naik kelas, Cepat lulus, dan segera melanjutkan kuliah di MIT. Aku kembali dengan mimpi-mimpiku untuk kuliah di MIT. Namun, karena melihat dari pengalaman sebelumnya. Aku bukanlah anak dari keluarga yang bergelimang harta.Aku sempat merasa putus asa. Sepertinya tidak mungkin bisa kuliah di Amerika. Aku sadar mimpi yang kugantungin terlalu tinggi dan tidak rasional. Jangankan kuliah di Amerika, mau melanjutkan kuliah atau tidak saja aku masih bimbang.               


***
Kini aku telah menjadi anak kelas XI. Aku tetap merasa pesimis dengan mimpi-mimpi yang telah kubangun saat kelas X. Hingga suatu saat, ketika aku pulang dari sekolah. Di rumah aku merasa lelah dengan aktivitas sekolah. Aku putuskan untuk rebahan sebentar sebelum kembali dengan tugas-tugasku. Di ruang tamu aku menonton acara TV favorit. Ah pas sekali, episode kali ini tentang mimpi.  Aku memang sedang  butuh asupan motivasi tentang topik ini. Salah satu bintang tamu memiliki sebuah mimpi yang benar-benar tidak mungkin bisa menjadi kenyataan jika di nalar dengan akal sehat kita. Saat itu Ia menginginkan sebuah mobil sport terbaik di dunia, namun keadaanya ekonominya sangat tidak mendukung. Dia adalah seorang anak tukang cuci piring salah satu rumah makan besar di Ibukota. Cita-citanya ingin menjadi pembalap professional. Tapi dengan keadaan seperti itu Ia tidak pernah pesimis dengan mimpinya. Dia membawa mimpinya ke dunia nyata. Dia cetak dan tempel foto-foto mobil itu di dinding kamarnya.  Setiap hari Dia katakan pada foto tersebut bahwa dia akan membelinya. Dia hidup dalam mimpinya. Dia mengirim sugesti dan sinyal-sinyal ke alam semesta. Dia tunjukan ke semua orang, tidak sedikit yang mencibir dan menertawakanya. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah Dia selalu mengikut sertakan Allah ke dalam mimpinya.  Hingga suatu ketika dia berhasil membeli mobil yang diinginkan.                
Aku merasa penasaran, apakah dengan cara seperti itu aku juga bisa berhasil. Ah, jika dia bisa kenapa aku tidak. Toh, tuhan kita sama-sama Allah. Baiklah akan kucoba. Dari situ, aku mulai mengikuti caranya. Aku mencetak foto-foto MIT, mulai dari gedungnya, perpustakaanya,kelasnya, lingkunganya, Orang-orangnya, sampai kamar mandinya. Aku bayangkan diriku berada disana, berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan orang hebat dari seluruh dunia. Sebelum kutempel di dinding kamar, Aku membawa foto-foto tadi ke sajadah. Aku menunjukkan mimpi-mimpiku kepada Allah. Ketika sholat Tahajud aku berdoa  “Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang.Lihatlah ini adalah mimpi-mimpiku. Hamba ingin sekali bisa melanjutkan sekolah di tempat terbaik di Bumi Mu. Izinkanlah hamba bersekolah di MIT ya Allah, Izinkanlah hamba menunjukkan pada dunia bahwa umatMu juga memiliki kualitas yang sama dengan orang-orang hebat di sana. Aku yakin Engkau akan memberikan ganti yang lebih baik dari mimpiku mengikuti pertukaran pelajar dulu.Ya Allah jika tidak MIT, izinkan hamba bisa bersekolah di Negara-negara maju yang lain di dunia. Aku mohon kepadaMu wahai yang maha pemilik hak tertinggi atas diriku dan masa depanku.”               
 Tidak hanya ketika tahajud, di setiap sholat di sujud terakhirku aku selalu berdoa seperti itu. Memperbanyak amal ibadah untuk merayu Allah. Sholat dhuha yang biasanya hanya empat rakaat, menjadi delapan rakaat. Shalat tahajud yang biasanya lima rakaat, menjadi sebelas rakaat. Infaq yang biasanya cuma puluhan ribu menjadi ratusan ribu. Banyak minta restu kepada orang tua, dan doa dari guru-guru disekolah. Jangan dibayangkan ini berjalan mulus-mulus saja. Banyak yang hanya tersenyum meremehkan ketika mendengar mimpiku. Lebih dari itu, banyak juga yang mengatakan aku tidak pantaslah, mimpi ketinggian, banyak maunya, dan lain sebagainya. Aku berusaha tidak menghiraukan. Biasanya jika sudah parah, aku hanya bisa mengadukan kepada Allah dan berjanji akan menunjukkan kepada mereka bahwa ini tidak hanya sekedar bunga tidur semata. Hari demi hari kulalui dengan keyakinan bahwa mimpiku akan semakin dekat menjadi sebuah kenyataan.                
Sampai akhirnya, Aku berada di kelas XII. Ini adalah tahun terakhir di SMK, sekaligus saatnya menentukan kemana melanjutkan hidup. Harusnya sih aku melanjutkan kuliah di MIT. Tapi entahlah belum ada tanda-tanda kita berjodoh. Disaat teman yang lain sudah memilki tujuan masing-masing, aku masih digantungkan dengan mimpi-mimpiku. Aku tetap yakin, sedikitpun tidak tergoyahkan. Tapi di lain sisi aku juga menyiapkan kemungkinan-kemungkin terburuk. Aku sudah menyiapkan hatiku untuk berbagai keadaan.
                Tepat satu bulan sebelum UN, kabar gembira datang kepadaku. Ketika itu aku sedang asik  berada di kelas bersama teman-teman. Tiba-tiba, Adam datang sambil memanggil namaku dari luar kelas.
                “Ihsaaaan, mimpimu bakal terwujud bentar lagi. Cepet sekarang kamu dipanggil Bu Arum ke ruang BK.” Adam menarikku dari gerombolan, dan segera membawaku ke ruang BK. Sebentar. Aku masih belum faham apa maksudnya. Aku bukan tipe anak yang biasa keluar-masuk ruang BK. Sejurus kemudian kami sudah berada di hadapan Bu Arum. Bu Arum tidak berkata apa-apa. Sebenarnya, ini semakin menambah kebingunganku. Tiba-tiba, beliau menyodorkanku sebuah surat. Dari logonya, aku tau surat itu dari PSMK (Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan). Surat itu berisi bahwa sekolah berhak mengirimkan satu siswanya untuk melanjutkan kuliah di perancis.
                “Maaf bu, maksudnya apa yaa kok saya yang disuruh membaca surat ini?” Aku tidak berani menebak-nebak apa maksud Bu Arum.
                “Maksudnya, kami menunjuk kamu sebagai perwakilan dari SMKN 8 Malang.” Bu Arum tersenyum kepadaku.
                “Serius Bu? Alhamdulillaah, Allahuakbar.” Seketika aku langsung sujud syukur di ruang BK. Aku tidak peduli Adam akan mengataiku cengeng atau bagaimana. Aku sudah berlinang airmata, menangis haru karena Allah benar-benar mendengar doaku.
                “iya san. Tapi jangan senang dulu karena hanya delapan dari 12 orang yang akan berangkat. Sekarang kamu buat motivation letter yaa dan kumpulkan berkas-berkas yang diminta. Minggu depan akan diumumkan siapa saja yang berangkat.”
                “Siap bu, akan saya buat sebagus mungkin. Terimakasih banyak atas doa dan dukunganya selama ini bu Arum. Saya pamit dulu. Assalamualaikum.” Aku meninggalkan ruang BK dengan rasa senang yang luar biasa. Rasanya aku ingin memeluk setiap orang yang aku temui dan mengatakan terimakasih. Tapi tidak sampai aku melakukanya, nanti mereka bisa kaget kenapa tiba-tiba Ihsan Fuadi memeluknya.
                 Sampai dirumah, aku melihat Ibu sedang sibuk di toko. Aku memutuskan untuk menunggu Ibu dulu di ruang tamu. Tidak sampai 15 menit, Ibu masuk kerumah. Aku langsung berteriak dan memeluknya.
 “Ada apa tho le? Kau ini manja sekali seperti anak perempuan saja.”
“Heheee ya ndak papa tho buk.” Aku tersenyum dan memberikan surat ajaib PSMK kepadanya.
“Ini apa le? Jangan bilang karena kau berbuat ulah di sekolah”
“Emangnya anak Ibuk yang paling ganteng ini suka buat ulah ya?.” Aku memaksa ibu untuk segera membukanya. Beberapa detik aku menunggu Ibu membaca, tiba-tiba senyum Ibu mengembang. Senyum favoritku. Senyum wanita terbaik yang ada di bumi ini. Ah, tidak pernah aku melihat senyum yang lebih baik dari punya Ibu. Ibu memelukku sekali lagi, matanya berbinar-binar karena bangga dengan anak laki-lakinya ini. 
Sebelum aku menulis motivation letter, kembali aku membawa surat ini ke sajadah. Aku bersyukur kepada Allah atas nikmat luar biasa yang Ia berikan kepadaku, Aku juga mohon agar dipermudah segala urasanku. Tidak sia-sia perjuanganku selama ini. Meskipun tidak MIT, aku yakin ini adalah hadiah terbaik yang telah Allah persiapkan untukku. Benar apa kata Rasullullah SAW, bahwa Allah pasti sesuai dengan perasangka hambaNya.
Seminggu kemudian, setelah aku mengumpulkan motivation letter terbaikku dan beberapa berkas yang dibutuhkan. Pak Haris kepala sekolah SMKN 8 Malang mengumumkan bahwa aku berhak mendapat beasiswa ini. Pak Haris membeitahuku agar segera mengurus paspor dan surat-surat penting lainya. Kata beliau aku akan mengambil progam BTS ATI (Assistance Technique D'ingénieur) di Lycée Jules Siegfried di Kota Le Havre, Haute-Normandie. BTS ( Brevet de Technicien Superiue) adalah program yang setara dengan D2 di Indonesia. Itu artinya, aku akan melanjutkan sekolah disana tidak lebih dari dua tahun. Dalam hati aku terus mengucap rasa syukur..

***
12 Desember 2015, Le Havre, Perancis.
                 Qui est tous mes histoires[6], nah gitu ceritanya Fik. Soupe a l'oignon [7]nya sampe udah hampir dingin nih.” Aku menutup kisah perjalanan ku sambil menyendok sup bawang khas Perancis yang katanya menjadi salah satu sup terenak di dunia.
                 “Wah san, jadi kamu baru tiga bulan di Le Havre? Okee, Aku ucapkan Selamat datang di Perancis. Oh iya, sup yang kamu makan itu katanya sup paling enak di dunia. Padahal yaa masih enak bautan emakku di Malang.”  Katanya sambil terkekeh. Untung Fikri berbicara menggunakan bahasa Indonesia, jika tidak. Mungkin mbak-mbak pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja kami sudah melabraknya.
                   “Terus cerita kau gimana Fik? Dari tadi sudah ku ceritakan pengalamanku yang puanjaang. Gantian dong, aku juga mau dengar ceritamu. Bagaimana seorang Fikri Akbar yang dulunya suka sekali main layangan di sawah, bisa terdampar di le havre ini?.” Aku benar-benar penasaran dengan kisahnya. Aku tidak menyangka bisa bertemu Fikri disini. Dulu jika ditanya apa cita-citanya, dia pasti menjawab ingin menjadi tukang layangan. Ya, karena saking sukanya dia bermain layang-layang. “Apa kau sudah menjadi pengusaha layangan disini?.” Kataku menggoda.
                  Hahahaa kau ini ada-ada saja san, ceritanya akan panjang sekali melebihi sungai brantas yang ada di Malang.” Fikri tertawa kemudian melirik jam tangan Rolexnya. “ eh san, sepurane [8]yo aku nggak bisa nemenin lama-lama. Masih ada janji lain. Kalau ingin dengar, datang saja ke apartmentku. Ini alamatnya. Aku duluan. Assalamualaikum.”  Fikri memberiku kartu namanya, dan berlalu meninggalkanku sendiri. 
 Aku tersenyum, memandang keluar jendela. Aku bergumam dalam hati  “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang bisa kau dustakan..”
***

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibce8CRdKAUrfcmloVzZqbSxtVAQvHM-1LIDiJARKFFbUVE9e0S3pCYJCtmmGlTdCZhjpkLv5hokz6m0_8hb-gJdBKb33mOgWEIceviJowblf6HRpbBERM0uB0hNf6YfYDdIHDhTI9Bbo2/s400/1831469-beasiswa-perancis-620X310.jpg



               
                       



[1] Hai, apa kabar?
[2] Aku baik
[3] Apa kabar? (bahasa jawa)
[4] Bisa aja san (bahasa jawa)
[5] Sebentar ya pak (bahasa jawa)
[6] Nah, itu semua cerita saya
[7] Nama makanan khas perancis
[8] Maaf (bahasa jawa)





Gimana ceritanya? semoga bisa memotivasi pembacanya yaa. Anyway, aku nulis cerita ini terinspirasi dari kisah perjalanan salah seorang sahabat yang sekarang sedang melanjutkan sekolahnya di  Lycee Jules Siegfried le havre, France, dan tentunya dengan beberapa tambahan kisah imajinasiku hehehe . Makasih banget yang udah mau ngeluangin waktu buat baca.