Tree
Of Expectations
Setiap manusia pasti memiliki tujuan hidupnya
masing-masing. Tujuan hidup itu biasanya dikemas dalam sebuah mimpi atau
cita-cita. Ada berbagai macam tipe manusia dengan berbagai macam latar
belakang. Latar belakang itulah yang menjadikan tujuan setiap manusia berbeda
satu dengan yang lain. Hal tersebut juga bisa menjadi salah satu alasan adanya
banyak tipe respon manusia terhadap tujuan hidup atau cita-citanya. Respon
manusia kepada tujuan hidupnya digerakkan oleh kepedulian dirinya akan masa
depanya. Apakah akan sesuai dengan yang Ia harapkan atau malah sebaliknya.
Semakin tinggi tingkat kepedulian seseorang terhadap tujuan hidupnya maka
semakin positif pula responya. Namun, sebaliknya semakin rendah kepedulian
seseorang terhadap tujuan hidupnya maka semakin negatif respon yang Ia
keluarkan.
Seseorang yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi dengan cita-citanya, hidupnya cenderung teratur. Ia sadar akan tujuan hidupnya dan berusaha untuk merealisasikanya dengan berbagai cara. Salah satu cara merumuskan masa depan bisa menggunakan pohon harapan atau yang biasa disebut dengan Tree Of Expectations. Seperti yang kita tahu, sebuah pohon memiliki beberapa bagian, diantaranya Ia memiliki akar, batang, daun, dan buah.
Dalam perumusan sebuah pohon harapan, akar diibaratkan
sebagai modal atau potensi diri yang sudah dari awal dimiliki oleh
masing-masing orang. Akar ini memiliki dua bagian yaitu bagian positif dan
negatif. Sebagai contohnya ketika seorang mahasiswa pergi kuliah, pasti ada
beberapa modal postif yang Ia bawa sebelumnya misal ingin mendapat ilmu, ingin
bertemu dengan teman, ingin segera lulus, semangat meraih cita-cita, dan lain
sebagainya. Begitupula dengan modal negatif, misalnya rasa malas karena harus
berangkat pagi, macet, tugas yang dikerjakan dengan tidak maksimal, dan lain
sebagainya. Kekuatan akar dari pohon ekspektasi ini ditentukan oleh setiap
individu. Apakah akan dijadikan akar yang kuat atau akar yang lemah. Apakah
pohonya akan tumbuh dengan akar yang melemahkan, atau akar yang menguatkan.
Karena otomatis jika sebuah pohon memiliki akar yang melemahkan, maka Ia tidak
akan tumbuh dengan baik.
Bagian kedua dari sebuah pohon adalah batang.
Namun, batang akan dibahas dibagian akhir nanti. Jadi yang selanjutnya adalah
daun. Daun dalam pohon ekspektasi ibarat tujuan jangka pendek. Apa yang kita
cita-citakan untuk satu sampai lima tahun kedepan letakkan di daun ini. Daun
yang lebat menandakan cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai sudah
benar-benar tercatat disini. Berhasil tidak nya, bergantung pada masing-masing
individu. Tetapi setidaknya cita-cita tersebut sudah tertuliskan dan tidak akan
mudah terlupa. Misalnya seorang mahasiswa Fikom Unpad memiliki tujuan untuk
lima tahun kedepan seperti lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude, mendapat beasiswa S2 LPDP, dan
lain sebagainya.
Jika daun adalah tujuan jangka pendeknya, maka
buah adalah hasil dari tujuan jangka pendek tentunya dengan bantuan akar
sebagai penyokong energi dan batang. Jika buah adalah hasil, maka kita harus
bisa membedakan antara tujuan dan hasil. Hasil adalah dampak ketika kita
berhasil mencapai tujuan-tujuan kita. Misalnya, seorang mahasiswa ingin menjadi
peserta upacara di kedutaan besar Indonesia di Belanda. Itu adalah dampak
ketika Ia berhasil meraih beasiswa S2 LPDP di Belanda.
Cita-cita tidak akan bisa tercapai tanpa
usaha. Dalam pohon harapan usaha diibaratkan sebagai batangnya. Batang adalah
jembatan untuk dapat menjadikan tujuan dan cita-cita menjadi kenyataan. Jika
tidak ada batang, tidak mungkin juga ada daun dan buah. Tanpa batang, energi
tidak akan tersalurkan dari akar ke daun. Jika energi saja tidak tersalurkan,
jangan harap akan menghasilkan buah yang manis dan enak dipandang. Batang
adalah bentuk usaha seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya serta hasil yang akan
ia dapatkan nantinya. Usaha tersebut bisa dengan berbagai cara yang tentunya
dengan cara-cara yang baik. Karena suatu hal yang diraih dengan cara-cara yang
baik maka akan berujung dengan kebaikan pula. Misalnya dengan rajin belajar,
aktif, berdoa, tawakal, banyak latihan, dan lain sebagainya.
Ketika pohon harapan sudah dibuat, maka ini
akan memberikan motivasi dan gelombang positif. Mungkin banyak yang akan
menertawakan mimpi-mimpi kita. Tak perlu khawatir, karena latar belakang setiap
orang memang berbeda. Yang perlu kita lakukan adalah selalu berpikir positif,
memperjuangkanya, dan kelak jabat tangan-tangan yang telah menertawakan
mimpi-mimpi kita. Katakan kepada mereka bahwa kini saatnya untuk bangun.
Saatnya melihat kenyataan bahwa mimpi yang dulu mereka tertawakan bukan sekedar
bunga tidur semata.
